Boy For Rent

Boy For Rent
Malam pertama


__ADS_3

Jingga dan Bulan sudah di antarkan kembali ke rumah mereka. Sedangkan Langit mulai saat ini tinggal di rumah Jeesany.


Langit cemas dengan keadaan ibunya yang belum sembuh sepenuhnya, akan tetapi Jingga begitu meyakinkan Langit bahwa dirinya baik-baik saja, hingga pada akhirnya Langit pasrah dan melepaskan ibunya dan adiknya pulang ke rumah mereka.


Dan saat ini Langit sudah berada di dalam kamar Jeesany sambil mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur, kedua matanya mengedar ke setiap sudut kamar mewah itu.


Jeesany memasuki kamarnya sambil membawa beberapa stel baju santai untuk Langit. "Pak ini pakaian Ayah masih baru semua, dan aku rasa cocok untukmu," ucap Jeesany kepada Langit yang menatapnya datar.


"Emh, kalau begitu aku letakkan di sini." Jeesany segera meletakkan pakaian tersebut di atas sofa, kemudian ia segera beranjak keluar dari ruangan tersebut menuju ruang makan.


"Kenapa aku keceplosan memanggilnya dengan sebutan Pak? Pasti dia sekarang sangat marah," ucap Jeesany lalu berjalan menuju kulkas dan mengambil satu botol air dari sana.


"Kenapa belum tidur?!" Irene berseru dengan tiba-tiba membuat Jeesany yang sedang menenggak air minum sampai tersedak lantaran sangat terkejut.


"Uhuk ... Uhukk ... Bunda! Bikin kaget!" Jeesany melayangkan protes sambil mengelus dada, kemudian beralih menggosok hidungnya berulang kali lantaran tersedak itu menyisakan rasa perih di hidung dan tenggorokannya.

__ADS_1


"Maaf, lagi pula kamu sudah tengah malam kenapa masih berada di sini?" tanya Irene sambil menatap putrinya.


"Karena aku haus," jawab Jeesany berbohong, tapi juga alasan yang tepat, dan tidak mungkin dirinya berkata jujur kalau ia merasa canggung satu kamar bersama Langit.


"Kalau sudah selesai matikan lampu dapur dan ruang tamu, setelah itu masuk ke dalam kamarmu!" titah Irene setelah itu ia beranjak menuju kamarnya lagi.


"Iya, Bunda," jawab Jeesany, kemudian ia membuang botol air yang sudah kosong itu ke dalam tempat sampah, lalu segera mematikan lampu dapur dan ruang tamu, baru setelah itu ia menuju kamarnya.


Jeesany membuka pintu kamarnya dengan perlahan, ia menyembulkan kepalanya di pintu kamar itu.


"He he he, aku kira kamu sudah tidur," jawab Jeesany tersenyum canggung lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Langit duduk di sofa yang ada di kamarnya.


"Kamu tidak nyaman dengan keberadaanku?" tanya Langit kepada istrinya. "Aku akan tidur di sofa, kamu tenang saja," lanjut Langit.


"Tidak, bukan begitu. Ayo, kita tidur bersama, aku hanya masih butuh waktu untuk beradaptasi, ini bukan hal yang serius jadi jangan di anggap serius," jawab Jeesany lalu segera naik ke atas tempat tidur dan di ikuti oleh Langit yang kini sudah merebahkan diri di sampingnya.

__ADS_1


"Santai saja, aku tidak akan meminta hakku jika kamu tidak mengizinkannya," ucap Langit seraya menoleh dan menatap Jeesany yang terlihat tegang.


"He he he." Jeesany hanya tersenyum canggung menanggapinya. Ia terlihat seperti gadis yang bodoh.


"Ya ampun, kenapa aku merasa canggung sekali," batin Jeesany merutuki dirinya sendiri.


Langit meluruskan tangan kirinya seraya memiringkan badannya ke arah Jeesany, kemudian tangan kanannya mengangkat kepala istrinya agar berbantalkan lengannya.


"Apakah kamu masih gugup?" tanya Langit yang kini memeluk Jeesany.


Perlakukan manis Langit membuat perasaan Jeesany tenang.


"Ini jauh lebih baik," jawab Jeesany sambil tersenyum malu.


***

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya, bestie❤


__ADS_2