
"Bisakah Ayah keluar dari kamarku!" omel Jeesany kepada Sean yang sejak tadi duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.
"Sebentar lagi," jawab Sean sambil menatap istrinya yang sudah merebahkan diri di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel.
"Ayah!!!" omel Jeesany lagi dengan sangat kesal dan berkacak pinggang.
"Iya, iya, baiklah," jawab Sean seraya beranjak dari duduknya, lalu keluar dari kamar putrinya, saat sampai di ambang pintu dirinya menoleh ke belakang menatap istrinya dengan perasaan sedih karena malam ini dirinya akan tidur sendirian.
"Selamat tidur, anak Ayah. Jangan lupa mimpi indah," ucap Sean kepada putrinya yang akan menutup pintu kamar.
"Terima kasih, Ayah tampan, selamat malam dan selamat tidur," jawab Jeesany.
Pintu kamar Jeesany sudah tertutup rapat dan langsung di kunci dari dalam.
Sean menghembuskan nafasnya dengan kasar seraya mengelus pintu tersebut berulang kali. "Huh, kenapa dia selalu memberikanku hukuman yang sangat berat sih?!" keluh Sean, kemudian berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai. Malam ini dirinya tidak akan bisa tidur nyenyak karena guling hidupnya tidak berada di sisinya.
Irene menatap putrinya yang sudah naik ke atas tempat tidur.
"Bunda ayo kita bergosip," ajak Jeesany, saat sudah merebahkan dirinya di samping Irene.
__ADS_1
"Bergosip? Sepertinya kita sudah lama tidak melakukannya. Jadi mari kita bergosip sampai pagi!" Irene sangat semangat. Malam itu dirinya dan Jeesany membicarakan banyak hal, hingga keduanya sampai lupa waktu karena terlalu asyik bergosip ria.
*
*
"Jadi Abang akan kerja part time di Kafe-nya Kak Satria?" tanya Bulan memastikan.
Langit mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Kak aku--" suara Bulan tercekat karena dirinya menahan tangis, ia merasa bersalah karena kakaknya harus banting tulang untuk biaya pendidikannya.
"Jangan memikirkan apa pun. Kakak kerja keras untukmu, jadi cukup belajar dengan rajin dan tunjukkan prestasimu, itu sudah membuat Kakak merasa senang dan bahagia," ucap Langit saat melihat adiknya ingin menangis.
Langit mengelus punggung adiknya dengan kasih sayang. "Jangan menangis, Lan, nanti jika ibu melihatnya bisa menjadi beban pikirannya," ucap Langit seraya mengurai pelukan adik itu itu.
"Ibu sudah tidur, Kak," jawab Bulan lalu memeluk kakaknya lagi yang bersandar di kursi ruang tamu.
Tanpa mereka sadari, Jingga mendengarkan permbicaraan kedua anaknya itu. Jingga duduk di kursi rodanya, tadinya ia ingin ke ruang tamu untuk menonton televisi akan tetapi dirinya mengurungkan niatnya saat mendengar pembicaraan Langit dan Bulan.
__ADS_1
"Orang tua macam apa aku ini?! Seharusnya aku memberikan kebahagiaan kepada anak-anakku, bukannya malah menyusahkan seperti ini!" Jingga berbicara kepada dirinya sendiri, air matanya mengalir deras di pipinya.
"Aku harus cepat sembuh agar tidak menyusahkan kedua anakku lagi." Jingga segera kembali ke dalam kamarnya menggunakan kursi rodanya.
"Kak, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Bulan kepada Langit yang kini sedang fokus layar laptopnya.
"Boleh, tanyakan saja," jawab Langit tanpa menoleh.
"Si merah itu siapa?" tanya Bulan.
Langit mengernyit lalu menoleh dan menatap adiknya dengan heran.
"Merah?" beo Langit tidak mengerti.
"Iya, Si Merah yang ada di kontak ponsel Kakak," jelas Bulan.
"Oh, itu ... teman Kakak," jawab Langit asal, ia baru mengingat jika menyimpan nomor Jeesany di daftar kontak ponselnya itu dengan nama 'Si Merah'.
***
__ADS_1
Pak Dogan kayaknya masih terngiang dengan Lingerie merah ya? š¤£
Vote, like, komentar dan kasih Gift seikhlasnya ya, bestieā¤š