Boy For Rent

Boy For Rent
Pembalasan Sakit hati


__ADS_3

BUGH!


BUGH!


Suara benturan keras itu memenuhi ruangan kedap suara yang ada di rumah Sean.


Langit yang di pegangi oleh kedua pria berbadan besar terlihat lemas karena beberapa kali dirinya menerima pukulan keras dari Sean.


"Ini sebagai ganti rasa sakit hatiku karena kamu sudah merusak putriku!" Sean berkata dengan suara yang tegas dan menakutkan, kedua matanya menatap dingin pada Langit yang sudah tidak berdaya.


Sebelumnya Langit tidak menyangka jika dua pria berbadan besar memasuki rumahnya, dan menyeretnya begitu saja adalah orang suruhan Sean. Ia yakin jika saat ini keluarganya pasti sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Maaf, Tuan." Langit mendongak dan berkata lirih.


"Jeesany hamil dan kamu harus segera menikahinya malam ini juga!" tegas Sean kepada Langit yang berdesis kesakitan.


"Aku mencintainya, aku akan menikahinya kapan pun yang Anda mau." Langit berusaha untuk mengumpulkan sisa tenaganya, ia berusaha untuk berdiri tegap tanpa di pegangi oleh dua pria berbadan besar itu.


Sean menatap dingin pada Langit yang juga tengah menatapnya dengan tenang. Sean heran dengan kepribadian Langit karena selalu tampak tenang dan tidak terpancing emosi, padahal pria tersebut sudah babak belur di buatnya.


Tok ... Tok ...

__ADS_1


Tidak berselang lama pintu terketuk dari luar, salah satu anak buahnya membukakan pintu tersebut, dan ternyata Jeesany lah yang ada di balik pintu tersebut.


"Nona—"


"Biarkan aku masuk keparat!" umpat Jeesany dengan penuh amarah.


Sean menoleh kebelakang lalu berdecak kesal, kemudian ia memerintahkan anak buahnya itu agar mengizinkan Jeesany masuk ke dalam ruangannya.


Jeesany menangis sedih saat melihat kondisi Langit yang babar belur, wajah tampan pria itu penuh lebam.


"Apa yang Ayah lakukan kepadanya?!" tanya Jeesany.


"Sebelum dia masuk ke keluarga Clark. Ayah harus memberikannya hukuman! Anggap saja ini sebagai balasan rasa sakit hati Ayah dan Bunda-mu karena tingkah kalian!" jawab Sean lalu keluar dari ruangan pribadinya di ikuti oleh kedua anak buahnya.


"Aku baik-baik saja," ucap Langit ketika Jeesany berjalan mendekatinya kemudian memeluknya.


"Ya, aku tahu kalau kamu berhobong," jawab Jeesany lalu mengurai pelukannya, menangkup wajah kekasihnya dan menatap Langit dengan perasaan sedih.


Langit berusaha untuk tersenyum lalu salah satu tangannya turun dan mengelus perut rata Jeesany. "Kenapa tidak pernah bilang kalau di sini ada anakku?" tanya Langit, lalu memeluk Jeesany dengan erat. Perasaan sedih, bahagia kini bercampur menjadi satu.


"Karena aku juga baru mengetahuinya," jawab Jesaany, membalas pelukan Langit dengan sangat erat.

__ADS_1


*


*


"Semuanya sudah siap, Bun?" tanya Sean kepada istrinya yang sedang menyiapkan sesuatu di dalam kamar mereka.


"Sudah, apakah keluarga Langit bisa hadir?" tanya Irene.


"Aku sudah menyuruh anak buahku untuk menjemput mereka," jawab Sean, mendekati istrinya lalu memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang.


Irene mengangguk, perasaannya masih cemas dan takut. "Bagaimana caranya kita menghadapi keluargamu?" tanya Irene menyeruakan isi hatinya.


"Pasti mereka akan sangat marah," lanjut Irene.


"Mau bagaimana lagi." Sean sudah pasrah dengan keadaan mereka.


"Aku sangat takut. Kamu ingat saat dulu kamu di usir dan di asingkan oleh keluargamu sendiri?" tanya Irene.


"Ya, itu adalah hukuman dari mereka karena aku nakal," jawab Sean.


"Lalu bagaimana jika Jeesany mengalami hal yang sama?" tanya Irene lagi.

__ADS_1


"Kita yang berhak atas Jeesany bukan mereka!" jawab Sean dengan tegas.


__ADS_2