
"Hah ... Hah ..." Jeesany meniupkan nafasnya di telapak tangannya, kemudian mencium telapak tangannya itu. Ia melakukan berulang kali setelah selesai menggosok gigi.
"Ah! Aku tidak mau makan jengkol lagi!" rengek Jeesany, meski aroma jengkol yang khas tidak tercium lagi di mulutnya, tetap saja membuatnya tidak nyaman.
Langit tertawa pelan ketika melihat tingkah istrinya. Saat ini mereka berada di dalam kamar, Langit duduk di tepian tempat tidurnya, sedangkan Jeesany berdiri sambil terus meniupkan nafas di telapak tangannya.
"Sayang, ayo tidur. Aroma jengkolnya sudah tidak tercium," ucap Langit kepada istrinya yang masih terus merengek.
Jeesany berjalan menghampiri suaminya sembari membekap mulutnya dengan salah satu tangannya. Ia benar-benar merasa tidak nyaman, takut jika mulutnya sewaktu-waktu mengeluarkan bau khas yang menyebalkan.
Langit tersenyum kemudian ia merebahkan dirinya di kasurnya yang berukuran tidak terlalu besar namun cukup untuk tidur dua orang. Jeesany menatap suaminya yang sudah merebahkan diri di atas tempat tidur, ia mengedarkan pandangannya di seluruh sudut kamar suaminya. Kamar yang berukuran tidak terlalu besar namun terlihat rapih dan juga nyaman. Di samping tempat tidur ada meja kerja Langit, di sana ada tumpukan buku modul kuliah.
"Sayang." Langit memanggil istrinya ketika Jeesany masih berdiri di tempat dan tidak beranjak sama sekali.
"Eh, iya." J Sani segera naik ke atas tempat tidur dan merebahkan dirinya di samping suaminya. Ranjang itu tidak terlalu empuk namun membuat Jeesany nyaman karena tidur bersama suaminya.
"Maaf, jika kamu tidak merasa nyaman di rumahku." Langit berkata sembari memeluk istrinya dari samping.
__ADS_1
"Ah, tidak, ini sangat nyaman," jawab Jeesany sambil tersenyum manis, kemudian ia merubah posisinya yang tadinya terlentang kini menjadi miring menghadap suaminya. Jeesany memandang wajah suaminya yang terlihat sangat tampan dan juga manis, salah satu tangannya terulur untuk mengusap pipi suaminya dengan penuh kelembutan.
"Aku selalu merasa nyaman dan aman, asalkan berada di sampingmu," ucap Jeesany.
Langit tersenyum kemudian ia meraih tangan istrinya yang masih mengusap pipinya. Ia mengecup punggung tangan istrinya itu dengan sangat mesra.
"Untuk saat ini hanya inilah yang aku bisa berikan kepadamu, kesederhanaan, tapi jangan khawatir karena aku berusaha membuatmu bahagia," jawab Langit dengan tulus.
"Terima kasih," bisik Jeesany, ia memajukkan wajahnya lalu melabuhkan kecupan di bibir suaminya.
"Boleh 'kan?" tanya Langit dan di angguki oleh istrinya.
Jeesany tersenyum lalu mendudukkan dirinya. Melepaskan semua pakiaanya tanpa di minta oleh suaminya.
Melihat aksi Jeesany, tentu saja Langit tidak mau kalah. Ia pun segera melepaskan semua kain yang melekat di seluruh tubuhnya.
Tubuh keduanya sudah polos tanpa sehelai benang.
__ADS_1
Langit tersenyum tipis lalu segera menindih istrinya, seraya melabuhkan ciuman lembut.
Jeesany melenguh dan mendesaah tertahan ketika mendapatkan sentuhan dari suaminya.
"Emh ..." Jeesany menggigit bibir bawahnya, agar desahaan tidak lolos dari mulutnya, mengingat saat ini mereka berada di rumah orang tua Langit yang kamarnya tidak kedap suara.
"Tahan suaramu, Sayang," ucap Langit ketika sudah puas menjelajahi setiap inci tubuh istrinya, kini penyatuan akan di mulai. Langit mulai menghujankan senjatanya ke dalam milik istrinya dengan satu kali hentakkan saja.
"Ahh ..." Desaah Jeesany saat suaminya mulai bergerak teratur dii bawah sana.
Langit membekap bibir Jeesany dengan ciumannya, agar istrinya itu tidak mengluarkan suara astral.
Kenikmatan demi kenikmatan di tenguk keduanya. Hingga pasangan suami istri itu mencapai puncak bersama.
***
Hadir lagi ya Mak. Karena udah ekstra part, emak updatenya nggak setiap hari ya. 😁🙏
__ADS_1