
Jeesany dan kedua temannya sedang berada di sebuah kafe. Sudah menjadi kebiasaan mereka jika hari libur pasti akan nongkrong bareng.
Risya menyenggol lengan Bela sembari memberi kode menatap Jeesany yang sedang menyedot es jeruk.
Bela mengangguk lalu berdehem pelan.
"Sany, boleh tanya nggak?" tanya Bela dengan hati-hati.
"Hem, tanya saja," jawab Jeesany tanpa menoleh, mulutnya masih menyedot es jeruknya dan kedua matanya fokus pada layar ponsel yang ia pegang.
"Lo, ada hubungan apa sama dosen killer?" tanya Bela pelan namun tetap saja membuat Jeesany terkejut dan tersedak es jeruk yang sedang ia minum.
"Uhuk ... Uhukk ..." Jeesany terbatuk keras lalu menerima beberapa lembar tisu yang di berikan oleh Bela.
Jeesany mendongakkan kepalanya rasa tersedak itu meninggalkan sensasi sakit yang luar biasa di hidung dan ternggorokannya. Bahkan kedua matanya sampai berkaca-kaca. Setelah merasa lebih baik, ia menatap kedua temannya dengan intens.
"He he he, sorry kalau lo terkejut dengan pertanyaan gue," ucap Bela tersenyum meringis.
"Kenapa lo bisa bertanya seperti itu?" tanya Jeesany, otaknya sudah bersiap untuk merancang segala alasan.
__ADS_1
"Kemarin kita melihat lo masuk ke dalam mobil Pak Dika," jawab Risya, menyipitkan kedua matanya menatap Jeesany dengan penuh selidik.
Jeesany gelagapan lalu menyedot es jeruknya sampai habis tidak tersisa. "Em ... Itu ..." belum selesai berbicara namun kedua temannya sudah menyela.
"Cieee ... kalau kalian menjalin hubungan juga nggak masalah. Tapi, harus hati-hati jangan sampai pihak kampus mengetahui hubungan kalian, lo pasti tahu 'kan konsekuensinya apa," cerocos Bela sambil menjawil dagu Jeesany.
"Eh, enggak! Kalian salah paham!" Jeesany menggoyangkan kedua telapak tangannya di depan dada, agar kedua temannya tidak salah paham kepadanya.
"Alah, nggak usah ngeles kayak bajai. Huh, selama ini sok benci sama dosen killer eh ternyata ada udang di balik bakwan." Risya tidak ingin mendengarkan alasan Jeesany.
Bela dan Risya terus menggoda Jeesany dan tidak memberikan kesempatan temannya itu untuk berbicara.
"Kalian bisa diam tidak sih! Berikan gue kesempatan untuk menjelaskannya!" kesal Jeesany.
"Lo udah nggak bisa nyangkal lagi, San! Mana mungkin kalau kalian nggak ada hubungan. Pak Dosen sampai nganterin lo sampai rumah," ucap Risya.
Jeesany melotot lebar saat mendengarkan perkataan Risya. "Kalian ngikutin gue?!"
"He he he." Risya dan Bela hanya tertawa pelan sebagai jawaban.
__ADS_1
"Jadi benar 'kan kalau lo dan dia sedang menjalin hubungan?" Bela menunjuk ke arah pintu Kafe di mana ada dua pria tampan di sana.
Jeesany mengikuti arah telunjuk Bela, kedua matanya membola sempurna saat melihat Langit baru memasuki Kafe itu. Semakin salah paham saja kedua temannya itu.
"Ciee, bahkan mereka berdua janjian loh," ledek Bela.
"Pantas saja saat kita memesankan cowok sewaan, dia mengunci pintu kamar hotelnya dari dalam. Oh, ternyata dia sudah ada yang punya." Giliran Risya yang semakin menggoda Jeesany.
"Ih! Kalian!!" Jeesany berengut kesal saat kedua temannya terus meledeknya.
"Oh, atau jangan-jangan saat hari ulang tahu lo. Lo bobok-an sama dia hotel?" tebak Bela.
"Ti-tidak!" jawab Jeesany sambil menggeleng berulang kali, namun malah semakin membuat kedua temannya curiga dengannya.
Langit dan Satria mengedarkan pandangannya. "Di sana ada meja yang kosong," ucap Satria menunjuk meja yang bersebelahan dengan meja yang sedang di tempati oleh Jeesany dan kedua temannya.
*****
Tamat riwayatmu, Jee š¤£š¤£
__ADS_1
Dukungannya jangan lupa ya, bestieā¤