
Langit menatap wajah Jeesany dengan lekat saat ciuman mereka terlepas.
"Kenapa kamu sekarang menjadi bebek sih?" gerutu Jeesany sambil mengerjapkan kedua matanya berulang kali.
Pertanyaan Jeesany mengacaukan suasana romantis yang telah tercipta.
Langit kesal namun ia hanya menghela nafas panjang.
"Maksud kamu?" tanya Langit.
"Tukang nyosor!" jawab Jeesany seraya mendorong dada bidang Langit agar pria itu menjauh darinya, karena film di bioskop tersebut akan di mulai.
"Oh." Langit menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu berdehem pelan, kemudian membenarkan posisi duduknya. Ia menjadi malu karena tidak bisa menahan dirinya jika berdekatan dengan Jeesany.
Kemudian keduanya mulai fokus pada film layar lebar yang ada di depan sana.
*
*
__ADS_1
*
"Mama!" seru Bela kepada ibunya yang baru datang dan kini ingin pergi lagi.
"Apa? Kamu butuh uang? Mama kasih, tapi berhentilah merengek seperti anak kecil!" Meri berkata dengan ketus seraya mengeluarkan dompetnya dan memberikan sejumlah uang kepada putri semata wayangnya.
"Ini, ambil!" Meri memaksa Bela untuk menerima uang yang ia berikan.
"Ma, aku nggak butuh uang ini. Aku butuh Mama!" teriak Bela seraya mengembalikan uang tersebut kepada ibunya.
"Bela ... Bela! Kamu ini sudah besar, jadi jangan bertingkah seperti anak kecil! Ambil uang itu dan bersenang-senanglah!" bentak Meri seraya keluar dari rumah mewahnya itu dengan perasaan kesal.
"Ma!!" teriak Bela mengejar ibunya yang sudah memasuki mobil mewah. Bahkan ia menghadang mobil ibunya, tanpa rasa takut sedikit pun.
"Minggir!! Atau aku tabrak sekalian!!" teriak Meri yang menyembulkan kepalanya dari jendela mobilnya.
"Tabrak saja, Ma! Aku tidak takut!" tantang Bela, merentangkan kedua tangannya seraya memejamkan kedua matanya dengan erat saat mendengar suara deru mobil yang kencang.
Ayah Bela datang tergesa dari dalam rumah, terkejut saat melihat putrinya menghadang mobil Meri.
__ADS_1
"Bela! Biarkan Mama kamu pergi!" seru Herman seraya menarik putrinya menjauh dari mobil istrinya.
"Nggak! Bela mau sama Mama!" seru Bela menangis keras dan meronta di pelukan ayahnya.
Meri meneteskan air matanya saat melihat putrinya menangis seperti itu. Kemudian ia segera keluar dari dalam mobil dan menghampiri Bela yang ada di pelukan Herman.
"Mama tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu. Jadi, mulai sekarang ikut bersama dengan Papa kamu. Mama dan Papa akan berpisah, maafkan Mama, Sayang," ucap Meri sembari mengelus pucuk kepala putrinya dengan penuh kasih sayang dan rasa bersalah yang luar biasa.
"Kenapa kalian berpisah? Kenapa kita tidak seperti orang lain? Kalian sungguh egois!! Kalian hanya mementingkan diri sendiri!!" teriak Bela menggebu, meluapkan emosinya yang selama ini ia tahan.
"Kamu masih terlalu muda untuk mengerti urusan orang dewasa, suatu saat kamu akan paham, kenapa kami memutuskan untuk berpisah," jawab Herman kepada putrinya.
"Semenjak Papa menjadi seorang pejabat rumah ini terasa panas! Mama yang dulu selalu berada di rumah sekarang bepergian terus! Dan tidak pernah mempedulikan aku lagi!" ucap Bela menahan air matanya.
"Maafkan Papa," ucap Herman dengan lirih. Karena ini semua adalah murni kesalahannya, semenjak dirinya menjadi pejabat ia melupakan keluarganya, dan lebih mementingkan karier-nya.
"Maafkan Mama juga, Sayang. Tapi kami akan tetap berpisah," ucap Meri dengan terpaksa.
"Ketika menjalin sebuah hubungan rumah tangga sudah tidak ada keharmonisan lagi di dalamnya, sudah berbeda pendapat dan sudah tidak satu jalan. Maka dari itu Mama memilih untuk berpisah dengan papamu," jelas Meri kepada putrinya.
__ADS_1