
Langit dan Jeesany sudah sampai tujuan dengan selamat. Sean sudah menunggu di teras rumah sambil ngopi di temani oleh istrinya.
"Kenapa lama sekali?" Sean terdengar protes kepada menantunya.
"Maaf, jalanan macet," jawab Langit tersenyum tipis.
"Memangnya kalian mau berangkat ke bengkel sekarang?" tanya Jeesany kepada suami dan ayahnya. Karena biasanya Sean akan berangkat siang.
"Iya," jawab Sean padat dan jelas. Lalu segera mengajak menantunya itu ke bengkel menggunakan motor.
Jeesany dan Irene menatap dua pria itu yang sudah keluar dari pintu gerbang rumah mereka.
"Kok perasaanku tidak enak ya," ucap Jeesany sembari memegang dada.
"Hanya perasaanmu saja," jawab Irene, lalu bergegas masuk rumah, diikuti oleh Jeesany.
Jarak antara rumah dan bengkel lumayan dekat. Hanya 10 menit saja Sean dan Langit sudah sampai di bengkel mobil.
__ADS_1
Langit pikir jika bengkel mobil ayah mertuanya adalah bengkel mobil biasa seperti pada umumnya, namun ternyata dirinya salah. Bengkel tersebut hanya khusus untuk mobil-mobil mewah, dan menyatu dengan showroom mobil mewah.
"Ini bengkelnya, Yah?" tanya Langit, turun dari motor.
"Iya, ini bengkel kecilku. Dan di samping bengkel ini ada IndoApril milik Bunda," jelas Sean.
Langit menganggukkan kepalanya, baru tahu jika minimarket IndoApril yang sudah menjamur hampir di seluruh wilayah yang ada di Indonesia adalah milik ibu mertuanya.
"Pian!!" seru Sean kepada salah satu montir yang bekerja di sana.
"Iya, Bos," jawab Pian, menghampiri Sean.
Langit tersenyum lalu menyapa pria muda yang memakai baju khusus montir berwarna abu.
"Kamu ajari dia ya," ucap Sean lalu berjalan menuju ruangannya.
"Iya, Bos," jawab Pian lalu mengajak Langit untuk menuju sebuah ruangan, yaitu ruangan khusus karyawan, di sana ada beberapa loker, meja dan kursi untuk istirahat para karyawan.
__ADS_1
"Di sini harus rajin jika bekerja. Biar bisa perpanjang kontrak. Ngomong-ngomong kamu lulusan SMK mana?" tanya Pian sambil mengambil seragam khusus montir dari salah satu loker.
"Aku Dosen Teknik," jawab Langit sambil tersenyum.
"Jangan bercanda. Wajahmu saja terlihat jelas jika kamu masih seperti ABG." Pian menanggapinya sambil tertawa, ia menganggap jawaban Langit hanyalah candaan saja.
"He he he." Langit ikut tertawa pelan, sambil menerima seragam montir yang di berikan oleh Pian. Ia berpikir, apakah wajahnya masih terlihat muda? Padahal sudah punya istri dan sebentar lagi akan jadi Bapak. Usianya juga tidak muda lagi 'kan.
"Cepat kenakan dan aku tunggu di luar," ucap Pian lalu keluar dari ruangan tersebut.
Langit segera memakai seragam montir tersebut, setelah selesai ia keluar dari ruangan itu dan mencari keberadaan Pian.
"Kamu tampak cocok dengan baju itu. Tapi, sekarang mulailah bekerja, dari yang paling mudah dulu," ucap Pian kepada Langit, lalu menunjukkan mobil mewah yang ingin di servis.
"Tapi, aku perlu bimbingan," ucap Langit merendah, meski ia tahu tentang semua mesin mobil tapi ia tidak ingin sok pintar, apa lagi jika di lihat semua karyawan di sana terlihat sombong.
***
__ADS_1
Sean menatap kinerja Langit dari CCTV yang ada di ruangannya. Langit terlihat bekerja dengan cekatan dan juga pandai menyesuaikan diri.
Namun beberapa saat kemudian terjadi keributan di luar sana. Seorang pelanggan tetapnya tampak melakukan protes.