
Duka masih menyelimuti keluarga Herman. Setelah kepergian putri semata wayangnya, baik Herman dan Meri baru menyadari jika Bela hidupnya terasa tersiksa, tertekan, dan depresi di tengah keluarga yang tidak harmonis. Hal itu mereka ketahui saat membaca sepucuk surat yang di tinggalkan Bela sebelum mengakhiri hidupnya.
Meri mengusap air matanya saat selesai membaca surat tersebut. Herman yang ada di sebelahnya, merangkum bahu wanita yang masih berstatus istrinya itu.
"Di sini kita yang salah, kita yang egois dan kita yang sudah membuat Bela pergi untuk selamanya." Meri menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Hatinya merasa pedih dan pilu, betapa jahatnya dirinya, dan betapa egoisnya dirinya karena hanya mementingkan diri sendiri.
Herman tidak mampu berkata-kata, ia melepaskan kaca matanya lalu mengusap air matanya yang mengalir deras di pipi. "Maafkan aku," ucap Herman.
"Kalian menderita karena aku," lanjutnya terisak, tidak mampu menahan tangisannya lagi.
"Aku juga bersalah, karena aku melampiaskan kesepianku dengan mencari kebahagiaan di luar sana, tanpa memedulikan putriku yang masih butuh perhatian dan sangat kesepian," ucap Meri di sela isak tangisnya.
Semoga hal ini semua bisa menjadi pelajaran kita semua.
*
*
*
Satu minggu setelah kepergian Bela. Meri berniat menemui Jeesany dan Risya. Bela meninggalkan dua surat untuk sahabatnya itu.
Meri mengajak Jeesany dan Risya bertemu di Kafe Cinta pada sore hari.
Meri memarkirkan mobilnya di depan Kafe tersebut. Ia memasuki Kafe tersebut dengan langkah yang anggun.
Jeesany dan Risya menatap wanita yang masih terlihat sangat cantik walau sudah tidak muda lagi itu berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Kalian sudah lama?" tanya Meri ketika sudah bergabung dengan dua gadis terdebut.
"Kita baru juga kok, Tante," jawab Jeesany.
Meri tersenyum lalu mengangguk, kemudian ia merogoh tas mewahnya dan mengambil dua surat lalu di berikan dua gadis yang duduk berhadapan dengannya itu.
"Ini?" Jeesany ragu untuk menerima surat tersebut.
"Ini dari Bela. Dia menuliskan surat untuk orang-orang terdekatnya," jawab Meri dengan suara yang bergetar, menahan tangis.
Jeesany dan Risya dengan cepat menerima surat tersebut.
"Baca saja saat di rumah," ucap Meri saat melihat Risya akan membuka surat tersebut.
"Oke," jawab Risya lalu memasukkan surat tersebut ke dalam tasnya, begitu pula dengan Jeesany melakukan hal yang sama.
Langit yang kebutulan mendapatkan shif sore baru memasuki Kafe tersebut. Ia begitu bersemangat, karena sebelumnya Jeesany mengabarkan berada di Kafe tempat berkerja itu.
Jeesany menoleh lalu melambaikan tangannya ke arah Langit. "Kamu baru datang?" Jeesany bertanya sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
Langit mengangguk kemudian memberikan kode jika tidak bisa menemani, karena ia harus segera bekerja. Jeesany pun mengerti dan membiarkan kekasihnya bertugas.
Interaksi antara Jeesany dan Langit tentu saja tidak luput dari perhatian Meri dan Risya.
"Ciee ... yang sudah Go Public di luar kampus," goda Risya, membuat Jeesany menjadi tersipu malu.
"Oh, jadi kalian?" Meri menatap Jeesany, meminta penjelasan.
__ADS_1
"Iya, Tante. Kami menjalin hubungan khusus." Jeesany mengakuinya.
Meri tersenyum tipis lalu menggangguk beberapa kali, namun hatinya merasa aneh saat mengetahui Langit mempunyai hubungan dengan Jeesany.
"Semoga langgeng saja. Dan, jangan sampai tercium oleh pihak kampus." Meri mengingatkan Jeesany.
"Iya, terima kasih, Tante," jawab Jeesany.
"Kamu bahagia bersama Langit, Jee?" tanya Meri dengan tiba-tiba, menatap gadis tersebut dengan intens.
"Tentu aku sangat bahagia," jawab Jeesany jujur.
"Tante ikut senang," ucap Meri tersenyum lebar, kemudian ia beranjak dari duduknya. "Tante, ke toilet sebentar," pamit Meri kepada dua gadis tersebut.
*
*
Meri berjalan menuju toilet, bukan toilet yang sebenarnya ia tuju, akan tetapi ia mencari keberadaan Langit.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Meri melihat Langit yang akan menuju ke belakang Kafe sembari membawa bungkusan kantong sampah besar.
Meri segera mengikuti pemuda tersebut.
"Lang!" Meri memanggil Langit saat pria itu sudah berada di halaman belakang Kafe. Hanya ada mereka berdua saja di sana, dan kondisi terlihat sepi.
Langit menoleh, dan terkejut saat melihat Meri berdiri tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Tante!" Langit sedikit berseru lantaran sangat terkejut.
"Aku ingin berbicara denganmu."