Boy For Rent

Boy For Rent
Lakukan sesukamu!


__ADS_3

Pesan singkat yang di kirimkan Langit untuk Jeesany sudah centang biru dua, bertanda jika sudah di baca, akan tetapi gadis itu tidak kunjung membalas pesannya. Seperti orang yang baru pertama kali mengenal cinta, Langit begitu resah dan gelisah. Akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat banyak mengingat dirinya dan Jeesany tidak terikat dalam hubungan apa pun.


"Kenapa Lang?" tanya Satria saat menyadari temannya gelisah.


"Tidak apa-apa," jawab Langit sambil menghembuskan nafasnya kasar sembari memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.


"Besok aku sudah bisa mulai kerja?" tanya Langit kepada Satria yang berdiri di sampingnya, saat ini mereka berdua berdiri sambil bersandar di depan meja barista.


"Atur waktu kamu saja, Lang," jawab Satria.


"Oke," ucap Langit seraya mengangguk pelan. "Aku akan bekerja dengan giat dan akan menjadi karyawan yang teladan," lanjut Langit seraya mengulas senyum tipis.


Satria meninju lengan Langit dengan pelan, "dasar Pak Dosen!"


*


*


Sementara itu Sean baru pulang ke rumahnya pada sore hari.


"Ayah dari mana saja? Kenapa baru pulang!" Baru saja memasuki rumah, dirinya sudah di berondong pertanyaan dari putrinya yang sengaja duduk di ruang tamu menunggu dirinya pulang.


"Ayah dari rumah Opa dan Oma-mu," jawab Sean tersenyum tipis.


"Untuk apa Ayah ke sana?" tanya Jeesany lagi.

__ADS_1


"Bunda mana?" tanya Sean mengalihkan pertanyaan putrinya.


"Bunda ada di kamar," jawab Jeesany sembari menatap ayahnya yang langsung beranjak begitu saja dari hadapannya tanpa menjawab pertanyaannya lebih dulu.


"Apakah mereka bertengkar?" gumam Jeesany sembari melirik punggung ayahnya yang semakin jauh dari pandangannya.


Sean memasuki kamarnya dengan lesu dan itu tidak luput dari perhatian istrinya.


"Gagal, Yah?" tanya Irene menatap selidik.


"He-em, bagaimana ya?" Sean menjawab dengan bingung seraya mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur.


"Sudah kuduga! Seharusnya tadi aku ke sana agar bisa ikut menentang perjodohan Jeesany!" Irene memarahi suaminya.


"Sorry, Bunda," jawab Sean.


"Besok malam acara pertemuan keluarga kita dan keluarga pria itu, suruh Jeesany untuk dandan yang cantik," ucap Sean.


"Tunggu! Kenapa kamu kelihatannya terkesan pasrah begitu saja? Atau jangan-jangan kamu memang setuju dengan perjodohan ini?!" geram Irene kepada Sean yang saat ini menatapnya dengan dalam.


"Sayang, jika di pikir-pikir ucapan Mom dan Daddy ada benarnya. Ini semua demi kebaikan Jeesany dan masa depan Jeesany," jelas Sean.


"Sejak kapan kamu mempunyai pemikiran seperti itu?!" Irene semakin bertambah kesal dengan penjelasan suaminya.


"Ren, aku--"

__ADS_1


"Jangan di bahas lagi! Kalau kamu memang ingin merenggut kebahagiaan putrimu, maka lakukan sesukamu!" kesal Irene lalu segera keluar dari kamarnya itu.


Sean mengusap wajahnya dengan kasar, ia menjadi bingung jadinya.


Malam sudah menyapa, Jeesany menatap kedua orang tuanya bergantian sambil menggigit sendoknya. "Kalian bertengkar?" tanya Jeesany dengan pelan saat ayah dan ibunya saling diam dan tidak ada yang bersuara sama sekali. Suasana di ruang makan itu yang biasanya hangat kini menjadi sangat dingin dan canggung.


"Tidak, Sayang," elak Irene.


"Lalu kenapa kalian saling diam?" tanya Jeesany.


"Cepat makan makananmu," ucap Sean kepada putrinya, lalu menatap istrinya yang sejak tadi enggan menatapnya.


"Sany, nanti Bunda tidur sama kamu, boleh?" tanya Irene dengan nada lembut.


Sean yang sedang ingin menelan makanannya pun hampir tersedak saat mendengar ucapan istrinya.


"Boleh, tapi kenapa tiba-tiba ingin tidur denganku?" jawab Jeesany sekaligus bertanya.


"Bunda hanya rindu memeluk putri cantikku ini," jawab Irene melirik sengit suaminya.


"Tidak bisa di biarkan!" batin Sean.


***


Takut kedinginan ya, Se? 🤣

__ADS_1


Vote-nya mana bestie? Udah hari senin loh💃❤


__ADS_2