
Jeesany sudah pulang dari Kafe, sampai rumah ia segera masuk ke dalam kamarnya untuk membaca surat dari mendiang Bela. Jeesany membaca kata demi kata yang tertulis di dalam surat tersebut sambil berderai air mata. Isi surat tersebut adalah permohonan maaf Bela.
Jeesany mengusap air matanya dengan kasar, kemudian ia segera menyimpan surat tersebut di dalam laci nakasnya. Ia sudah mengikhlaskan Bela pergi untuk selamanya, tapi ia tidak akan melupakan sahabatnya itu.
*
*
Tepat jam 10 malam Jeesany mengendap keluar dari rumahnya. Salah satu asisten rumah tangganya ia tugaskan untuk menutup pintu gerbang kembali, tidak lupa ia juga memberikan uang tutup mulut kepada asisten rumah tangganya itu. “Kalau sampai Ayah dan Bunda tahu aku keluar rumah, awas kamu ya!” ancam Jeesany sembari menyerahkan lima lembar uang berwarna merah.
“Beres, Non,” jawab asisten rumah tangganya itu, lalu menutup pintu gerbang itu kembali saat anak majikannya sudah keluar rumah.
Jeesany segara berjalan menuju mobil Langit yang terparkir tidak jauh dari sana.
Langit langsung menyambut Jeesany dengan pelukan hangat. “Aku sangat merindukanmu,” bisik Langit lalu mengecup pipi Jeesany dengan mesra.
Pelukan tersebut terurai. Langit menyentuh pipi Jeesany dengan salah satu punggung tangannya. “Maaf, telah membuatmu keluar rumah malam-malam begini,” ucap Langit menatap kekasihnya dengan lembut.
“Tidak apa-apa. Lagi pula aku sangat merindukanmu,” jawab Jeesany tersenyum tipis. “Kamu tidak lelah?” tanya Jeesany karena yakin jika Langit saat ini baru pulang kerja dari Kafe.
__ADS_1
“Iya, besok aku sudah berhenti bekerja dari sana. Aku sudah mendapatkan pekerjaan sampingan baru,” jawab Langit tersenyum tipis.
“Benarkah?” Jeesany tampak senang, jadi ia tidak perlu melihat Langit bekerja siang dan malam seperti ini.
“Iya, di bengkel mobil Ayahmu.”
“What!!!” pekik Jeesany, perasaannya yang tadinya senang kini berubah menjadi panik. “Ba-bagaimana bisa?” Jeesany tergagap saat bertanya.
“Mungkin Ayahmu ingin mengenal lebih dekat dengan calon menantunya,” jawab Langit dengan rasa percaya diri yang tinggi, kemudian ia menjelaskan kepada Jeesany jika Sean tadi sore menemuinya untuk membahas pekerjaan tersebut. Awalnya Langit ingin menolak pekerjaan sampingan yang di tawarkan oleh Sean, akan tetap setelah di pikirkan berulang kali akhirnya ia memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan tersebut.
“Hah!” Jeesany mengentakkan punggungnya di sandaran jok dengan kasar. Tubuhnya mendadak lemas, ia hanya takut jika ayahnya mempunyai rencana jahat untuk memisahkan dirinya dengan Langit.
“Tapi, bagaimana jika nanti--”
“Percaya kepadaku. Lagi pula aku mulai bekerja di bengkel ayahmu di hari Sabtu dan minggu saja.” Langit memotong ucapan kekasihnya, kemudian menyalakan mobilnya dan melajukannya ke suatu tempat.
“Baiklah, tapi katakan kepadaku jika ayahku berbuat kejam kepadamu,” ucap Jeesany lalu memeluk lengan kekar Langit.
Langit mengangguk dan mengiyakan ucapan Jeesany. Kemudian ia berbisik, “kita ke hotel.”
__ADS_1
Jeesaany menegakkan duduknya, lalu menatap sebal Langit, “jangan menggodaku!”
“Aku serius.”
***
Kedua kaki Jeesany bergetar saat Langit membawa dirinya ke sebuah kamar hotel. Hotel tersebut tidak mewah namun mempunyai fasilitas yang lengkap dan juga nyaman.
“Sayang, kamu jangan bercanda! Aku tidak ingin melakukan itu kembali,” rengek Jeesany yang sudah takut, apa lagi saat ini Langit sudah membuka bajunya, memperlihatkan tubuh kekar dan roti sobek yang begitu menggoda.
Langit tertawa pelan saat melihat Jeesany menutup mata hanya sebelah saja. Tingkah Jeesany sangat menggemaskan menurutnya.
“Aku mandi dulu,” ucap Langit lalu segera berjalan menuju kamar mandi.
Jeesany memegang dadanya yang berdegup tidak karuan, takut jika Langit meminta mengulang reka adegan malam panas yang pernah terjadi.
“Bagaimana ini?” gumam Jeesany, mondar-mandir tidak jelas.
***
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya bestie❤❤