
Wajah Jeesany memerah seperti buah setroberry saat mereka mendapatkan teguran dari supir taksi yang mereka tumpangi.
“Lain kali jangan begitu ya, Mbak, Mas!” ucap Sopir taksi yang sudah mengantarkan penumpangnya itu sampai ke tujuan.
“Maaf, Pak,” jawab Langit lalu dengan cepat menarik tangan Jeesany memasuki rumahnya. Sungguh pengalaman yang memalukan sekaligus mendebarkan yang pertama kali mereka lakukan, berciuman di dalam taksi.
Kedatangan Langit dan Jeesany di sambut hangat oleh Jingga dan Bulan.
“Kenapa kalian tidak memberi tahu jika akan datang?” tanya Jingga, lalu mempersilahkan duduk menantunya.
“Kami tadi hanya berjalan-jalan, dan langsung ke sini,” jawab Langit yang duduk di samping Jeesany.
“Bulan, buatkan teh hangat untuk Kakak dan Kakak iparmu,” ucap Jingga kepada putrinya.
“Siap, Bu.” Bulan segera berjalan menuju dapur.
“Bu, tidak perlu repot-repot,” ucap Jeesany.
“Tidak sama sekali. Apakah kalian sudah makan malam?” tanya Jingga.
“Sud--”
__ADS_1
“Belum, kami belum makan malam,” jawab Langit memotong ucapan istrinya.
“Kebetulan. Ibu memasak makanan kesukaan Langit, yaitu semur jengkol,” jawab Jingga tersenyum senang.
“Semur jengkol?” beo Jeesany, seumur hidupnya ia tidak pernah memakan yang mempunyai ciri khas itu.
“Iya, kamu tidak pernah memakannya?” tanya Jingga.
“Ah, pernah Bu. Semur jengkol itu sangat enak,” jawab Jeesany berbohong, karena ia tdak enak hati jika menolak tawaran ibu mertuanya.
“Ibu akan menyiapkan makan malam untuk kalian. Langit jangan biarkan istrimu bergerak, dia sedang hamil muda,” ucap Jingga kepada putranya saat melihat Jeesany akan berdiri dari duduknya.
“Tapi, aku merasa tidak enak jika harus diam seperti ini,” jawab Jeesany.
“Tidak apa-apa. Itu tandanya Ibu sangat menyayangimu.” Langit memeluk istrinya dari samping, akan tetapi Jeesany langsung melepaskan kedua tangan Langit yang melingkar di pinggangnya.
“Malu jika di lihat Ibu dan Bulan,” ucap Jeesany.
“Baiklah. Nanti kita menginap di sini ya.” pinta Langit.
“Apakah tidak apa-apa?” tanya Jeesany, pasalnya mereka mendadak menikah dan takut jika para tetangga Langit salah paham dengan kehadirannya di rumah tersebut.
__ADS_1
“Iya, Ibu sudah lapor ke RT dan RW jika aku sudah menikah denganmu. Lagi pula besok kita libur, dan aku mulai masuk kerja di bengkel Ayah agak siang,” jawab Langit merebahkan kepalanya di pundak Jeesany, ia mulai manja dengan istrinya itu.
“Baiklah, aku akan mengabari Ayah dan Bunda.” Jeesany segera mengambil ponselnya untuk menghubungi orang tuanya.
Jingga kembali ke ruang tamu, lalu mengajak Jeesany dan Langit menuju dapur untuk makan malam.
“Maaf, di sini beginilah keadaannya,” ucap Jingga kepada menantunya yang sedang memperhatikan seluruh dapurnya.
“Aku suka, rumahnya bagus dan nyaman, Bu.” Jeesany tersenyum kepada ibu mertuanya.
“Silahkan di makan. Hanya seadanya ini,” ucap Jingga saat Jeesany sudah duduk di kursi meja makan.
“Terima kasih, Bu, ini sudah lebih dari cukup,” jawab Jeesany sopan, seraya menatap semur jengkol yang sudah tersaji di meja makan.
Kemudian Jeesany mengambilkan nasi untuk suaminya lebih dulu, setelah itu barulah ia mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
“Kalian tidak makan?” tanya Langit kepada adik dan ibunya yang duduk berseberangan dengannya.
“Kami sudah makan, kalian saja, dan makan yang kenyang,” jawab Jingga.
Bulan menatap Jeesany tidak berkedip. “Ya ampun, Kak Jee cantik sekali seperti bidadari,” batin Bulan.
__ADS_1