
Ibu Jingga mengantarkan anak dan menatunya sampai di halaman rumah. Pagi hari itu Langit dan Jeesany berpamitan pulang. Karena Langit harus berangkat ke bengkel Ayah mertuanya.
Jeesany melambaikan tangannya kepada ibu mertua dan adik iparnya ketika mobil suaminya sudah melaju perlahan meninggalkan halaman rumah.
Tidak berselang lama ketika mobil Langit sudah tidak terlihat, Satria datang dengan mengendarai motor matic-nya yang baru saja ia beli demi bisa mendekati Bulan.
"Kak Sat, Kak Langit baru saja pergi dengan istrinya," ucap Bulan kepada Satria yang turun dari motor lalu mencium punggung tangan Ibu Jingga dengan sopan.
"Iya, tadi berpapasan di gapura depan," jawab Satria tersenyum tipis.
"Bulan, Satria ajak masuk ya. Ibu akan membuatkan minum," ucap Ibu Jingg masuk ke dalam rumah lebih dulu. Bulan langsung menyuruh Satria masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan masuk sesuai dengan perintah ibunya.
"Jadi Kak Satria ke sini mau apa?" tanya Bulan, ketika sudah Satria duduk berseberangan dengannya.
__ADS_1
"Ibu yang menyuruhnya ke sini." Ibu Jingga yang menyahut sambil membawa nampan yang berisi secangkir kopi susu. Ya, sebelumnya Ibu Jingga menghubungi Satria agar datang ke rumahnya.
"Iya." Satria membenarkan lalu mengucapkan terima kasih ketika wanita paruh baya itu meletakkan secangkir kopi di atas meja, tepat di hadapannya.
"Ada urusan apa, Bu?" tanya Bulan.
Ibu Jingga terdiam sesaat, dan mengabaikan pertanyaan Bulan.
"Begini, Nak Satria. Ibu mohon maaf sebelumnya, saat Ibu masuk rumah sakit, apakah benar jika Langit meminjam uang kepadamu?" tanya Jingga.
"Pasti tidak sedikit ya. Aku berniat untuk menjual tanah yang ada di kampung, aku ingin melunasinya, kasihan Langit karena sudah menanggung beban berat selama ini," ucap Ibu Jingga, membuat Satria terkejut.
"Bu, tidak perlu menjual apa pun. Langit sudah mencicilnya setiap bulan, jadi ibu tidak perlu khawatir." Satria menjadi panik.
__ADS_1
"Ibu yakin? Tanah di kampung itu kan peninggalan Bapak." Tampaknya Bulan tidak setuju dengan rencana ibunya.
"Bagaimana lagi? Kakakmu sudah berumah tangga, dan ibu tidak ingin menjadi beban untuk kakakmu lagi. Ibu hanya ingin melihat Langit bahagia tanpa beban apa pun," jawab Ibu Jingga kepada putrinya.
"Bu, jangan di pikirkan masalah hutang itu," ucap Satria seraya beranjak dari duduknya. "Sepertinya saya tidak bisa berlama-lama karena ada urusan lain." Satria berpamitan kepada Ibu Jingga dan Bulan.
"Tapi—"
"Masalah itu lebih baik di bicarakan lagi dengan Langit, Bu. Karena ini menyangkut kekeluargaan, ibu tidak mau 'kan kalau Langit marah besar karena tanah peninggalan bapaknya di jual?" Akhirnya Satria menemukan alasan yang tepat, agar Ibu Jingga mengurungkan niatnya.
Ibu Jingga terdiam, seolah sedang memikirkan perkataan Satria, kemudian ia menganggukkan kepala, karena ucapan Satria ada benarnya juga.
"Baiklah kalau begitu, Ibu akan membicarakan dengan Langit," ucap Ibu Jingga sebelum Satria berlalu keluar dari rumahnya.
__ADS_1
"Huh, selamat," gumam Satria sembari naik ke motornya. "Niatnya tadi mau sekalian ngajak nge-date dedek Bulan, harus gagal deh." Satria mendesah resah, lalu segera melajukan motornya keluar dari halaman rumah Ibu Jingga.