
Pagi ini Dira sedang bersiap dengan pakaian yang rapi. Setelah selesai dengan pekerjaannya ia langsung bergegas, karena nenek Ira sudah menghubunginya dan memberitahu kalau akan datang pukul 10 pagi.
Jadi Dira menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan sudah membuat persiapan untuk hidangan mereka di warung kalau kurang. Mega yang memilih di dapur hanya tingga mengolah saja karena semuanya sudah di persiapkan oleh Dira.
Tadi malam Dira sudah menceritakan pada Mega dan Desi tentang dirinya yang di lamar oleh nenek Ira. Respon keduanya juga berbeda, kalau Desi kurang yakin dan nampak khawatir dengan penerimaan Dira.
Mega justru terlihat sangat bahagia dan begitu mendukung penuh. Membuat Dira dan Desi heran dengan tingkah Mega yang satu itu.
Dira menatap dirinya di kaca yang ada di depannya, hatinya merasa bimbang dan ada sedikit keraguan.
Kenapa ia harus menerima lamaran nenek Ira kemarin? Apa masih sempat kalau ia menolak? Tapi bagaimana kalau nanti ia menyakiti perasaan wanita tua itu? Sedangkan wanita tua itu tidak menyakitinya sedikitpun sejak awal bertemu.
Bahkan nenek Ira cenderung ngemong terhadap dirinya dan Desi. Sikap lembut dan hangat nenek Ira benar-benar menyentuh hati Dira yang sangat kekurangan kasih sayang keluarga.
"Huh, semangat Dira. Yakinkan dirimu kalo nenek Ira orang baik, cucunya juga pasti orang baik," ucap Dira menyemangati dirinya.
Ponsel Dira berbunyi menandakan pesan masuk, dan pesan itu dari nenek Ira yang mengatakan sudah hampir sampai.
Dira yang sudah selesai bersiap langsung menyambar tas kecilnya dan bergegas keluar menemui nenek Ira yang katanya akan mengajaknya ke suatu tempat.
"Mega!" Panggil Dira.
Kepala Mega terlihat dari balik pintu dengan kedua pipi menggembung, menandakan ia sedang makan sesuatu.
"Aku pergi dulu, kalo ada apa-apa jangan lupa hubungi aku." Mega mengacungkan jempol pada Dira.
Dira berjalan menuju warung di mana Desi dengan seorang temannya yang masih kuliah sedang melayani pembeli.
"Cie, yang mau ketemu calon mertua." Goda Desi dengan senyuman jahilnya.
__ADS_1
Setelah tadi malam ia di yakinkan oleh Mega kalau Dira pasti bahagia dengan pernikahannya. Barulah Desi percaya dan akhirnya ikut memberi semangat.
"Semangat calon manten," celetuk Sinta ikut menggoda Dira yang hanya di tanggapi dengan senyuman saja.
Dira berjalan keluar warung dan bertepatan dengan kehadiran nenek Ira yang berjalan pelan di gandeng seorang pemuda di sebelahnya.
"Udah siap nak?" Tanya nenek Ira tersenyum manis pada Dira.
"Udah Nek, Nenek cantik. Beda sama yang kemaren-kemaren," sahut Dira ikut tersenyum pula.
"Ah, bisa aja kamu. Yang cantik itu kamu Dira, masih muda pekerja keras lagi. Kalo nenek mah udah tua keriput lagi," kekehnya.
"Semua perempuan itu pada dasarnya cantik kok Nek. Asal percaya diri dan gak selalu berkaca sama penampilan orang lain. Karena kalo berkaca sama penampilan orang lain, yang ada bakalan selalu merasa kurang puas sama apa yang di miliki dirinya sendiri. Ujung-ujungnya harus keluar uang banyak cuma demi bisa sama kayak orang yang menurutnya perfeck itu," kata Dira di angguki nenek Ira.
"Iya, kamu bener. Semuanya harus melihat kemampuan diri sendiri juga dan harus tampil lebih percaya diri sama apa kita punya," sahut nenek Ira.
"Siap Nek," sahut Dira yakin dan mantap.
Hati Dira sekarang merasa yakin akan pilihannya menerima lamaran nenek Ira. Dirinya akan di cap sebagai perempuan tidak baik kalau tiba-tiba menolak lamaran begitu saja. Padahal sebelumnya sudah menyatakan menerima dengan penuh keyakinan.
"Ya udah, kita berangkat sekarang." Nenek Ira menggandeng tangan Dira dan membawa gadis itu menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
Sengaja tidak di bawa masuk ke tempat parkir karena nenek Ira memang ingin cepat-cepat membawa Dira pergi ke suatu tempat.
Gara yang tadi menggandeng neneknya pun harus mengalah dan berjalan di belakang kedua perempuan itu. Pandangannya masih tertuju pada gadis di samping neneknya yang terlihat sangat sederhana.
Memakai celana kulot longgar dan baju kaos putih yang terlihat kebesaran di tubuh Dira. Dengan tinggi Dira yang hanya sebahunya membuat gadis itu terlihat mungil.
Rambut panjangnya di kuncir kuda dengan rapi, di tambah wajah cantik dengan pipi berisi yang semakin menambah kesan manis dan imut pada gadis itu. Pertemuan pertama antara dirinya dengan calon istri pilihan neneknya.
__ADS_1
"Oh iya, kenalin ini cucu Nenek. Namanya Gara," ucap nenek Ira seraya mengenalkan Gara pada Dira.
"Dia yang mau Nenek nikahkan sama kamu, Nak. Kamu mau kan?"
Dira menatap Pemuda yang duduk di depan bersama supir dan sedang memiringkan kepalanya ke arah Dira pula. Hanya sebentar saja Dira melihat saat nenek Ira mengenalkan namanya.
"Kalo Dira menolak juga gak mungkin Nek. Gak baik bagi seorang perempuan nolak lamaran yang sebelumnya udah di terima." Kalimat Dira itu membuat nenek Ira tersenyum lebar dan bahagia.
Dalam hati nenek Ira mulai menebak kalau gadis di sampingnya ini mungkin sempat merasa menyesal karena menerima lamarannya tanpa tahu akan di nikahkan dengan siapa.
Tapi ternyata gadis di sampingnya cukup dewasa untuk berpikir baik buruknya akibat dari keputusan yang di buat jika sudah di terima dan tiba-tiba di tolak ataupun sebaliknya.
"Gara, ini Dira calon istri kamu yang Nenek pilih. Kalo kamu ada yang gak di sukai dari sikap atau perbuatannya, ungkapkan langsung aja. Jangan di pendam apa lagi kamu marah-marah. Karena Nenek gak suka kamu berbuat kasar atau nyakiti perempuan yang gak bersalah."
"Inget pesan Nenek selalu sebelum kamu nyakiti perempuan. Pikirkan mama kamu, Nenek sama adik perempuan kamu. Kalo posisi kami ada di dia yang kamu sakiti tanpa kesalahan gimana rasanya? Sakitkan?" Nenek Ira kembali mengingatkan cucunya akan petuah yang pernah ia ucapkan.
"Iya Nek, Gara akan usahain berlaku baik sama dia asal Nenek bahagia," sahut Gara menolehkan kepalanya melihat nenek.
"Jangan cuma karena Nenek Gara. Tapi demi masa depan kamu, karena kamu butuh teman untuk menemani kamu di masa tua nanti. Kalo keluarga, saudara, semuanya bakalan punya kehidupan masing-masing gak bisa selalu menemani kamu seumur hidup di sisi kamu."
"Ada saatnya kami pergi untuk urusan pribadi atau karena takdir. Tapi kalo istri kamu yang kamu perlakukan secara baik dan penuh cinta, udah pasti dia bakalan mendampingi kamu sampai akhir hayat kamu." Nasehat nenek Ira.
"Iya Nek, Gara bakalan inget pesan Nenek ini." Gara tersenyum pada nenek Ira untuk meyakinkan.
Padahal hatinya masih terasa pilu akibat putus cinta secara terpaksa dengan Intan akibat sikap perempuan itu yang sudah menyakiti neneknya. Gara juga tidak mungkin mempertahankan perempuan itu karena jika di awal sudah berani bersikap kasar pada neneknya kedepannya pasti akan terulang lagi.
Gara juga tahu bagaimana sikap Intan yang selama mereka kenal tidak pernah mau kalah dan selalu ingin benar sendiri.
Meski ia melakukan kesalahan tidak mau di salahkan dan sikapnya yang mudah meledak-ledak kalau tidak di turuti keinginannya membuat Gara pun memutuskan lebih baik berpisah saja dari pada ia harus melihat neneknya tersakiti karena pilihannya yang salah.
__ADS_1