Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Ancaman mematikan bagi Gara


__ADS_3

Dira sama sekali tak terusik dengan percakapan antara Bam dengan Ika. Dira malah sedang asik berbalas pesan dengan sang suami.


Sebenarnya Dira masih ingin lebih lama berada di kampus untuk mengenang perjuangannya belajar di sana. Namun karena kehadiran Bam si pengganggu dan Ika si nenek sihir, Dira jadi malas berlama-lama di sana.


Kini Dira sedang menemani sang suami bekerja. Gara yang sedang mengadakan pertemuan dengan rekan bisnisnya di sebuah restoran terpaksa membawa Dira juga.


Ia sengaja tidak mengantarkan Dira pulang karena ingin selalu di dekat istrinya.


Dan kini wanita itu sedang duduk santai di dekat jendela ruangan ekslusif restoran. Gara sengaja meminta untuk di siapkan satu meja dan kursi di dekat jendela untuk istrinya agar betah menunggu.


Dan kini terbukti, Dira duduk anteng di tempatnya sembari bermain ponsel. Apa lagi ada banyak makanan yang di pesankan oleh Gara untuknya.


Karena akhir-akhir ini Dira memang sangat doyan makan. Dan porsinya naik lebih banyaj dari sebelumnya.


"Terimaksih untuk kerja samanya, Pak." Gara menyalami pria di depannya setelah mereka seleaai membahas pekerjaan.


"Sama-sama Pak Gara. Saya sangat senang bisa bekerja sama dengan Anda. Saya harap kerja sama ini bisa terus berlangsung dengan lancar," ucap pria itu tersenyum.


"Saya juga berharap begitu, Pak. Oh iya, apa Anda ingin makan siang bersama dengan saya?" Gara mencoba menawarkan makan siang kepada rekannya.


"Tidak perlu Pak Gara. Istri saya akan datang ke kantor sebentar lagi mengantarkan makan siang."


"Wah, istri Anda sangat perhatian sekali, Pak!" Gara terkekeh kecil yang di sambut kekehan pria itu juga.


"Istri Anda juga cukup perhatian, Pak Gara. Buktinya sampai mau menemani Anda bekerja tanpa mengeluh bosa." Pria itu melirik Dira yang masih santai di tempatnya.


"Iya, istri saya itu sangat istimewa, Pak. Tidak mau jauh-jauh dari saya," bisik Gara pada pria di depannya.


Pria itu tertawa mendengar ucapan Gara, ia juga pernah muda. Jadi tahu bagaimana bergeloranya jiwa para pasangan muda. Apa lagi Gara dan Dira masih tergolong pasangan baru.


"Ya, ya, ya, saya paham. Saya juga pernah muda, bahkan dulu istri saya sangat sulit untuk saya tinggalkan walau sejenak."


Kembali kedua pria beda usia itu tertawa bersama. Setelahnya rekan kerja Gara pergi, suami dari Dira itu mendekati istrinya yang masih asik dengan duanianya sendiri.


"Fokus banget, Sayang? Ngapain sih?" Tanya Gara setelah berdiri di samping Dira.


Pria itu mengangkat tubuh Dira dari kursi lalu menduduki kursi tersebut menggantikan Dira. Sedangkan Dira sendiri di dudukkan Gara ke pangkuannya.

__ADS_1


"Aku lagi chatan sama Mega, Mas."


"Oh, pantesan anteng."


Gara memeluk tubuh Dira sembari menciumi pundak wanita itu dengan mesra.


"Mas, minggu depan aku wisuda. Kamu dateng, ya?" Dira menatap Gara penuh harap.


"Jelas Mas dateng, Sayang. Keluarga kita yang lainnya juga bakalan dateng kalo kamu mau." Gara membalas tatapan Dira.


"Iya, nanti aku kasih tahu yang lainnya juga." Dira memeluk Gara dengan manja sembari meletakkan kepalanya di pundak pria itu.


"Kenapa hm? Apa ada yang ganggu kamu di kampus tadi?" Tanya Gara sembari mengelus pundak Dira.


"Aku masih mikirin masalah kemarin, Mas. Aku harus gimana kalo memang mereka keluarga kandungku? Kenapa kami bisa pisah? Kenapa kami gak bisa bersatu sejak lama?"


Gara yang mendengar suara lirih Dira merasa tak tega.


"Bukannya kemarin Sam bilang kalo adiknya di culik sama pengasuhnya?" Gara mengingatkan Dira akan apa yang di beritahu Sam kemarin.


"Iya sih, Mas. Tapi kenapa begitu lama mereka bisa ketemuin aku kalo memang aku bagian dari keluarga mereka? Bukannya penculiknya udah jelas?"


Dira mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Meski dalam hatinya masih menyimpan banyak pertanyaan dan keganjalan. Tak mungkin Dira banyak bertanya pada suaminya yang tentu saja tak tahu apa-apa.


"Mas, laper gak?" Dira menarik sedikit tubuhnya untuk bisa melihat wajah tampan suaminya.


"Laper, kita pesen lagi aja." Gara tersenyum tipis menatap Dira dengan tatapan menggoda.


Dira memajukan sedikit bibir bawahnya karena godaan suaminya. Wanita itu malu karena sudah menghabiskan banyak makanan yang tadi di pesankan Gara.


Bahkan Dira sendiri tak menyadari kalau ia sudah menghabiskan semua makanan itu karena terlalu asik makan sembari bermain ponsel.


"Reno, pesen makanan lagi." Gara melihat Reno yang masih duduk di meja tempat Gara bertemu rekannya tadi.


"Baik, Tuan." Reno segera melakukan apa yang di perintahkan atasannya. Apa lagi Reno sendiri juga sudah merasa lapar.


"Pindah ke sana aja yuk, Mas!" Ajak Dira menunjuk meja di mana Reno berada.

__ADS_1


"Gak usah, kita di sini aja." Gara malah mengeratkan pelukannya pada sang istri.


Bersentuhan dengan Dira merupakan hal menyenangkan bagi Gara. Padahal sebelumnya ia juga pernah bersnetuhan dengan Intan, meski hanya berpegangan tangan saja.


Tapi rasanya sungguh berbeda. Jika dengan Intan, Gara malah merasa biasa saja ketika perempuan itu menyentuhnya. Sedangkan dengan Dira, malah Gara sendiri yang berinisiatif untuk menyentuhnya.


Mungkin karena sudah sah, jadi rasanya berbeda, batin Gara. Pria itu semakin menduselkan wajahnya ke ceruk leher Dira.


"Geli, Mas." Dira menggerakkan pundak dan kepalanya hingga menjepit kepala pria itu.


"Geli atau enak?" Gara malah menggigit pelan leher Dira, yang membuat wanita itu terpekik kaget.


"Mas! Jangan aneh-aneh, ini di luar rumah." Dira menahan kepala Gara yang hendak kembali mendekati lehernya.


"Kita kan di ruangan privat, Sayang. Gak akan ada orang yang lihat." Enteng Gara hendak mengulang aksinya.


Terus saya apa, Tuan? Patung bernyawa? Batin Reno ngenes mendengar ucapan atasannya.


"Ada Reno, Mas." Dira mengingatkan suaminya tentang keberadaan orang lain di sana.


"Biarin, biar jiwa jomblonya meronta-ronta." Gara kembali menggigit leher Dira saat wanita itu lengah.


"Mas! Nanti malem jangan harap kamu bisa nyentuh aku kalo kamu kayak gini terus."


Sukurin! Jangan di kasih jatah sekalian, Nyonya. Reno bersorak dalam hati mendengar ancaman Dira untuk Gara.


Reno yang tadi di ejek jomblo oleh Gara merasa kesal. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena itu nyata adanya.


Gara secepat kilat menjauhkan wajahnya dari leher Dira. Ancaman istrinya sungguh membuatnya tak sanggup untuk berbuat nakal lagi saat ini.


Karena ia masih ingin menyentuh istrinya dan bermanja nanti malam. Apa lagi lele bawahnya yang pasti akan meminta bagiannya nanti malam.


"Oke, oke, Mas gak nakal lagi. Tapi nanti malem jatah Mas jangan di kurangi, ya?" Bisik Pria itu yang di balas dengusa oleh Dira.


Ponsel Gara bergetar di dalam saku celananya. Dira langsung berdiri agar suaminya bisa mengambil ponselnya.


"Sam?" Kening Gara mengkerut melihat nama temannya tertera di sana.

__ADS_1


Gara mengangkat panggilan itu, dan keduanya terlibat percakapan. Namun mata Gara sesekali melihat ke arah istrinya yang sudah duduk di tempatnya semula.


Sedangkan dirinya berdiri di dekat meja di mana Reno berada.


__ADS_2