
Hari sudah malam saat para wanita pulang setelah bersenang-senang di mall. Bahkan yang lebih bahagia lagi adalah Dira.
Istri dari Anggara itu sangat bahagia karena impiannya sudah tercapai. Meski harus menggunakan uang dari suaminya untuk mewujudkan impiannya.
Dira berniat dalam hati, jika nanti ia sudah mendapatkan hasil dari saham yang di belinya. Ia pasti akan mengganti uang nafkah dari suaminya itu.
Menggunakan uangnya untuk kebutuhan pribadi. Bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Ya, anggap saja saat ini Dira mengutang pada uang nafkah dari suaminya.
Meski Gara tak akan mempermasalahkan uang yang sudah di berikannya pada sang istri. Karena itu sudah menjadi hak dan milik istrinya sepenuhnya.
"Oh, kalian berdua di sini rupanya," ucap mama Ella saat melihat suami dan anak laki-lakinya berada di teras menunggu kepulangan para wanita rumah.
"Iya, kami jadi Satpam penunggu rumah," sahut Gara.
"Siapa yang suruh kamu jadi Satpam? Di depan udah sendiri Satpam nya," kata nenek Ira.
"Galak banget sih, Nek?"
Nenek Ira hanya mengangkat kedua bahunya acuh dan memilih untuk masuk ke dalam rumah. Karena ia sudah sangat lelah setelah jalan-jalan.
"Mama, langsung istirahat. Supaya badan Mama fit lagi." Papa Rudi menuntun nenek Ira berjalan masuk bersama mama Ella.
"Tuh, istrinya. Kami pulangkan dengan selamat." Mega masuk melewati Gara.
"Gak ada yang lecet ataupun kurang." Eva ikutan melewati Gara begitu saja setelah mengucapkan kalimatnya.
"Ck, dasar adik-adik kurang ajar. Untuk adik," ucap Gara menatap Mega dan Eva yang masuk dengan gelengan kepala.
"Mas, mau di luar aja?"
Gara mengalihkan pandangannya pada Dira yang masih berdiri di sampingnya. Gara melihat Dira dari atas sampai bawah, istrinya nampak sangat berbeda.
"Kalian tadi kesalon juga?" Tanya Gara.
Pria itu menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
"Iya, kata Mama, aku harus bisa merawat diri sebaik mungkin. Supaya suamiku gak kecantol perempuan lain."
Dira terkekeh melihat suaminya menghembuskan napas sejenak mendengar ucapannya.
"Ada-ada aja. Kalo itu sampe terjadi, bisa di gantung hidup-hidup suamimu ini sama papa."
"Masa sih, Mas?"
"Iya, papa itu memegang prinsip kesetiaan. Siapapun yang udah jadi pasangan hidup kita, kita wajib setia selama gak ada yang namanya orang ketiga."
"Biasanya kalo udah ada yang ketiga, pasti ada yang ke empat, lima dan seterusnya."
"Memangnya Mas sanggup punya istri lebih dari satu?" Tanya Dira.
"Ya enggaklah, punya satu ini aja susah ngurusnya kalo udah mode diam. Apa lagi punya dua? Atau lebih? Trus semuanya ikutan mode diam. Mas, bisa gantung diri dengan suka rela."
"Hus, omongannya. Aku gak mau ya kalo ada yang kedua. Aku tinggalin kamu kalo itu sampe terjadi."
__ADS_1
"Itu kan kalo istriku, bukan beneran. Mas, juga gak ada niatan kayak gitu kok."
Gara mengikuti langkah Dira yang sudah duluan berjalan meninggalkan dirinya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Gara mendapati Dira membuka lemari mengambil baju.
"Mandi."
"Kamu gak marah, kan?" Gara mendekati Dira dan memeluk istrinya daei belakang.
"Marah kenapa?"
"Yang tadi."
"Gak, cuma rada kesel aja."
"Jangan kesel-kesel, nanti tambah jelek."
"Biarin." Dira berucap ketus sembari memasuki kamar mandi.
Gara menggaruk kepalanya bingung, kenapa ia selalu berucap sesuatu yang dapat membuat istrinya kembali ke mode diam.
"Huh, kayaknya aku udah ketularan mulut anehnya Gilang."
Gara duduk di sofa sembari menonton tv, menunggu Dira selesia mandi.
Setelah Dira selesai mandi dan bersiap, keduanya keluar bersamaan menuju meja makan. Karena memang sudah jam makan malam.
"Kemana nenek?" Tanya Gara entah pada siapa.
"Angin yang berhembus."
"Oh."
Rahang Gara terbuka melihat respon Mega. Memang bener-bener adiknya yang satu ini, sangat suka membuat orang kesal menurutnya.
"Makan, Mas." Dira menyodorkan piring berisikan nasi dan lauk ke hadapan Gara.
Gara yang tadinya hendak buka suara terpaksa harus menahannya. Apa lagi sudah di suguhkan makanan oleh sang istri.
"Nenek gak ikut makan bareng, Ma?" Tanya Dira pada mama Ella.
"Gak, nenek tadi makan roti sama minum susu. Mungkin sekarang udah tidur."
"Mama pasti kecapean itu, Kak." Mama Rida buka suara.
"Gimana gak capek? Nenek yang paling semangat di antara kita," ucap Mega.
"Nenek yang paling semangat, kalian berdua yang paling boros." Mama Rida memelototkan kedua matanya pada Mega dan Eva.
"Kan lumayan Tan, belanja low bajet," sahut Eva.
"Iya Ma, low banget malah," sambung Mega di angguki Eva.
__ADS_1
"Selesaikan makan kalian dulu." Titah papa Rudi.
Semuanya makan malam dengan tenang, setelah selesai barulah kembali lagi ke kamar masing-masing.
"Mas, kalo bisa keponakan aku yang banyak. Biar seru dan rumah semakin rame," ucap Eva.
"Denger suara kalian aja berdua aja, rumah udah kayak pasar. Kalo keponakan kamu banyak, yang ada rumah bakalan jadi gak karuan. Apa lagi kalo punya tante modelan kalian berdua," sahut Gara yang berada di tangga bersama Dira.
"Halah, ngomongnya aja gitu. Nanti di kamar, prakteknya gak pake ngomong-ngomong," Kata Mega mencibir.
"Ya iyalah gak ngomong. Masa Mas mau seneng-seneng sama istri harus buat pengumunan dulu," ketus Gara mulai kesal dengan Mega.
"Kalo bisa siaran langsung sekalian, Mas." Sambar Eva ikut buka suara.
"Kamu lagi! Masih kecil di larang ngomong aneh-aneh," sentak Gara pada Eva.
"Sensi banget sih? Gak dapet jatah, ya?"
"Awas kalian berdua, ya!"
Mega dan Eva segera melarikan diri sebelum di amuk oleh Gara. Kedua gadis itu berlari secepat kilat memasuki kamar mereka di lantai dua. Karena posisi mereka yang sudah berada di tangga paling atas.
"Kabur ..."
"Jangan lari kalian berdua!" Teriak Gara menggema dari tangga sampai lantai bawah.
Papa Rudi yang mendengar suara teriakan anak laki-lakinya segera keluar kamar untuk melihat.
"Ada apa ini Ga?"
"Tuh, lihat aja sendiri kelakuan anak gadis, Papa."
"Kenapa lagi mereka?"
"Entahlah, buat kesel aja mereka berdua. Lama-lama ku kirim kutub juga mereka berdua nanti."
Gara kembali menarik tangan Dira untuk masuk ke kamar. Dira menahan tawanya melihat bagaimana suaminya di buat kesal oleh adik-adiknya.
Sedangkan papa Rudi hanya bisa menghela napas dan geleng kepala. Sudah lama ia tidak pernah lagi mendengar suara teriakan Gara saat di ganggu adik-adiknya.
Lebih tepatnya sejak Mega kabur dari rumah dan ia serta anak gadisnya dan istrinya tak pulang ke Indonesia.
"Kalo aja Gilang ada di rumah, bisa lebih rame lagi rumah ini," gumamnya.
"Kenapa, Pa?" Tanya mama Ella menyusul suaminya yang tak kunjung kembali.
"Biasa, anak-anak."
"Gangguin Gara lagi?"
"Iya, kalo Gilang gak tugas keluar kota, bisa di pastikan tingkat kekesalan Gara lebih parah."
"Teriakan mungkin bisa kedengaran sampe gerbang depan."
__ADS_1
Pasangan paruh baya itu terkekeh bersama, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mereka untuk istirahat.