Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Wanita mirip Dira 2


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, Gara dan Dira langsung pergi dari restoran. Gara juga membawa istrinya menuju perusahaa GT.


"Anterin aku pulang ya, Mas? Rasanya hari ini aku bener-bener gak mood." Dira menatap suaminya lesu.


"Kenapa? Apa jangan-jangan memang ada yang gangguin kamu di kampus tadi?" Tanya Gara menatap curiga pada Dira.


"Gak ada yang gangguin aku, Mas. Cuma sekedar orang iseng yang suka gosip aja tadi, pada berkoar-koar."


"Siapa orangnya? Mas, harus kasih pelajaran buat mereka." Geram Gara saat tahu ada yang mengosipi istrinya.


"Biarin ajalah, Mas. Lagian kamu mau kasih mereka pelajaran apa? Di kampus juga mereka udah belajar, kan?" Dira menyandarkan kepalanya di pundak Gara.


"Itu jenis pelajaran materi, Sayang. Prakteknya belum, jadi Mas mau kasih tahu mereka pelajaran praktek yang paling manis." Gara merangkul bahu Dira sayang.


"Paling manis atau paling menyakitkan?" Tanya Dira sembari memejamkan kedua matanya.


Entah kenapa hari ini rasanya Dira sangat lelah dan mengantuk. Padahal ia tidak melakukan apa-apa.


"Kamu kenapa, Sayang?" Gara yang merasakan tubuh Dira semakin lemah di pelukannya merasa khawatir.


"Ngantuk, Mas. Rasanya aku lelah banget." Adu Dira pada sang suami.


"Ya udah, kamu tidur dulu sebentar. Nanti kalo sampe rumah, Mas banguni kamu."


Dira mengangguk dan semakin menyamankan posisi tidurnya di pelukan Gara.


Setelah memastika Dira tertidur nyenyak, Gara meraih ponselnya di saku jas sebelah kanan. Dan melakukan panggilan telpon pada seseorang di seberang sana.


"Halo!"


"...."


"Langsung kerumah aja, istriku minta pulang. Capek katanya."


"...."


"Iya, rumah nenek."


"..."


"Cepat."


Gara melihat ponselnya yang panggilannya sudah terputus.


"Wah, mulai berani ni anak matiin telponku tanpa permisi," gumam Gara seraya menatap ponselnya sebentar lalu memasukkan lagi ke dalam saku.

__ADS_1


"Apa nanti Tuan akan kembali ke perusahaan? Sebenarnya jadwal kita hari ini sangat padat," ucap Reno mengingatkan Gara.


"Kamu hubungi, Wita. Minta dia supaya memundurkan jadwal sampai dua jam kedepan. Saya masih harus menemani istri saya sebentar lagi, karena akan ada permasalahan serius." Gara menatap Reno dari kaca depan yang menggantung.


"Baik, Tuan."


Tangan kiri Reno mulai mengutak-atik ponselnya, hingga tak lama suara panggilan terdengar.


"Halo!" Suara seorang wanita terdengar dari ponsel Reno.


"Bawa sini ponsel kamu!" Pinta Gara pada Reno.


Reno menyerahkan ponselnya pada Gara tanpa menoleh. Karena ia harus fokus pada kemudinya.


"Wita, tolong kamu mundurkan semua jadwal saya sampai 2 jam kedepan. Karena saya masih punya urusan pribadi yang sangat mendesak," ucap Gara.


"Baik, Tuan. Saya akan mundurkan semua jadwal, Anda. Tapi untuk yang bertemu rekan kerja yang dari luar negeri itu tetap jam 3 sore harus terlaksana, Tuan. Karena pihak mereka akan segera pergi nanti malam." Wita menjelaskan pada Gara.


"Baiklah, kamu atur saja semuanya."


"Baik, Tuan."


Gara mematikan ponselnya setelah selesai, lalu mengembalikan ponsel Reno pada yang punya.


"Maksud saya tadi, kamu hubungi Wita setelah tiba di rumah. Bukan di jalan seperti ini kamu hubungi dia. Kalau sampai terjadi sesuatu pada kita, bagaimana? Saya ini masih tergolong pengantin baru dan belum punya anak. Saya belum mau mati sebelum tua dan punya cucu." Gara menatap Reno sembari mengomel.


Reno tidak terlalu memikirkan resikonya tadi, karena ia merasa semua waktu sangat mendesak untuk segera di selesaikan. Untunglah saat ini sang tuan sudah punya istri.


Kalau tidak, bisa di pastikan Reno akan kena omel cukup panjang. Dan akhir ceritanya, gajinya akan di korbankan sedikit untuk mentraktir atasannya itu makan siang.


"Tahu begitu, lebih baik saya sendiri yang menelpon Wita tadi." Masih saja Gara mengeluarkan omelannya.


Gak nenek, gak cucu, sama aja tukang ngomel, batin Reno.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panas bagi Reno karena harus mendengar ocehan Gara. Kini mobil yang di kemudikan Reno sudah tiba di halaman rumah nenek Ira.


"Sayang! Sayang!" Gara mengelus pelan pipi Dira untuk membangunkan istrinya.


"Bangun, Sayang. Kita udah sampe di rumah."


Dira mulai membuka kedua matanya dan mengerjabkannya berulang kali hingga membuat Gara gemas.


"Astaga, gemesnya." Gara mengecup bibir Dira berulang kali hingga wanita itu harus duduk tegak.


"Mas, apaan sih? Kita udah dimana?" Dira mencoba mengumpulkan kesadarannya sembari memegangi keningnya karena kepalanya cukup sakit saat ini.

__ADS_1


"Kita udah di rumah. Kamu kenapa, Sayang?" Gara menyentuh kening Dira.


"Gak panas. Kamu kenapa? Bilang sama Mas, Sayang?" Gara menatap istrinya yang nampak sedikit pucat.


"Gak papa, Mas. Cuma capek aja, aku mau istirahat di kamar kita." Dira memeluk Gara erat sebagai isyarat minta di gendong masuk.


Gara langsung membawa istrinya ke dalam gendongannya dan mereka keluar mobil bersamaan.


Hingga memasuki rumah, Dira masih saja anteng di gendongan suaminya dan hendak kembali memejamkan mata jika saja suara Mega tidak mengangetkannya.


"Astaga, Dira! Kamu kenapa?" Pekik Mega cukup keras yang membuat Dira tersentak dan langsung melihat ke sumber suara.


"Biasa aja kali, heboh banget." Kesal Gara melihat sepupunya itu yang sudah membuat istrinya kaget.


"Sirik aja kang ngeselin," cibir Mega pula.


"Sudah cukup kalian berdua, ada tamu di sini." Suara papa Rudi terdengar mengintrupsi.


Jika tidak di hentikan perdebatan kedua orang itu, maka keributannya akan semakin panjang.


"Gara, kenapa istrimu?" Tanya mama Ella.


"Gak papa, Ma. Cuma kecapeaan, butuh istirahat." Gara melihat ke arah sang mama dan mendapati ada orang lain di ruang tamu itu.


"Oh, kalian udah dateng." Gara mendekat masih dengan Dira di gendongannya.


Gara mendudukkan Dira di pangkuannya setelah dirinya duduk di sofa. Mereka layaknya perangko dan surat yang tak bisa di pisahkan.


"Nempel mulu kaya lem," ejek Mega lagi yang tak di tanggapi oleh Gara.


Sedangkan Dira yang sudah malu akibat ucapan Mega langsung turun dari pangkuan Gara dan duduk di sebelah pria itu.


Gara yang melihat istrinya turun dari pangkuan langsung menatap tajam pada Mega yang hanya masa bodo saja.


"Nadir ..." lirih seseorang yang membuat Dira menoleh ke arah suara itu.


Betapa kagetnya Dira kala melihat seorang wanita berumur yang wajahnya sangat familiar baginya.


Ya, itu maminya Sam. Wanita yang kemarin sempat ia lihat di video call. Wajah mereka memang mirip, hanya ada sedikit saja perbedaan dari bentuk wajah mereka.


Juga warna bola matanya yang berbeda, maminya Sam memiliki bola mata yang hitam pekat seperti Sam. Sedangkan Dira memiliki bola mata yang cokelat cerah seperti pria di sebelah mamanya Sam itu.


"Nadir ... Kamu anakku, Nadir?" Hera berdiri dari duduknya dan mendekati Dira yang menatapnya bengong dan tak percaya.


"Putriku ... Kamu benar-benar putriku." Hera memeluk Dira dengan erat sembari berurai air mata.

__ADS_1


Dira hanya diam saja menerima pelukan dari Hera. Namun air matanya tak dapat di sembunyikan. Perasaan Dira semakin kalut dan tak karuan, hingga ia tidak bisa melakukan apapun selain diam saja.


__ADS_2