
Gara duduk di samping sang istri sembari menatap lekat wajah cantik yang sedang memejamkan matanya itu.
"Mas, bakalan selalu nemenin kamu. Kamu harus kuat hadapi kenyataan hidup yang lebih sulit lagi dari sebelumnya," bisik Gara.
Pria itu beranjak sejenak untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Ia tidak ingin terlihat kucel saat istrinya bangun nanti.
Dan alangkah kagetnya pria itu saat mendekati kasur, ia mendapati Dira yang mulai membuka mata.
"Sayang, kamu udah bangun?" Gara mendekat dengan tersenyum bahagia.
Dira menatap Gara lalu tersenyum pula, di sentuhnya wajah tampan sang suami yang terlihat sangat fresh sehabis mandi.
"Mas, mau kemana?" Tanya Dira ingin tahu, karena ia mengira Gara akan pergi.
"Mau nemenin kamu." Gara berbaring di samping istrinya dan memberi kecupan di bibir Dira.
"Aku belum mandi, Mas. Baru bangun juga," protes Dira menjauhkan kepalanya dari wajah Gara.
"Apa hubungannya? Mas, cuma mau cium kamu aja."
"Kan masih bau, Mas."
"Masa sih." Gara semakin menempelkan tubuhnya pada Dira dan memberikan serangan kecupan bertubi pada istrinya.
"Gak bau tuh, masih tetep wangi," ucap Gara di sela-sela ciumannya.
"Udah, Mas. Geli tahu." Dira terkekeh karena ulah suaminya yang terus saja menciumnya tanpa henti.
Gara menghentikan aksinya dan menatap intens wajah sang istri.
"Kamu tahu! Kebahagiaan yang paling membahagiakan yang pernah Mas miliki adalah kamu. Jadi, Mas harap kamu tetap kuat apapun keadaannya. Karena perjalanan rumah tangga kita baru di mulai. Kedepannya masih banyak rintangan dan cobaan yang bakalan kita hadapi dalam rumah tangga ini. Kamu mau berjuang sama Mas untuk kebahagiaan rumah tangga kita, kan?"
Gara berbicara serius dan tegas pada Dira, berharap istrinya ini bisa mengerti dengan cobaan yang baru saja di hadapinya.
Lebih tepatnya kenyataan hidup yang bisa naik dan turun. Kadang di atas dan kadang di bawah, kebahagiaan dan kesengsaraan hanya berbeda tipis. Tergantung bagaimana cara kita menanggapinya.
"Aku janji bakalan terus di samping kamu apapun yang akan terjadi, Mas. Aku tahu kalo cobaan rumah tangga kita belum berakhir, dan masih banyak lagi cobaan lainnya di masa depan. Tadi aku cuma shok aja denger kenyataan tentang hidupku." Dira mengalihkan pandangannya dari Gara.
__ADS_1
Air mata wanita itu bahkan kembali mengalir kala mengingat kejadian barusan.
"Mas, tahu kalau itu berat untuk kamu. Tapi kamu juga harus tahu, kalo kesakitan yang kamu rasakan selama ini juga sama di rasakannya oleh keluarga kandung kamu. Bahkan mungkin penyesalan mereka gak akan pernah hilang dari hati setiap inget kamu."
Gara menghapus air mata Dira dengan lembut sembari mencium kening istrinya.
"Percayalah, Sayang. Mereka selama ini gak pernah putus asa buat cariin kamu di sela-sela kesulitan mereka. Walau cara mereka mencari itu gak kelihatan dan gak menonjol, semua itu demi menghindari depresi mami Hera gak terulang lagi."
Dira diam mendengarkan semua nasehat dan penjelasan suaminya. Ia juga tidak ingin terlalu berlarut dalam kesedihan yang hanya akan menyiksa diri.
Sudah cukup puas ia menangis dan menumpahkan semua perasaan yang selama ini menghimpit hatinya. Kini perasaan Dira sudah lega dan ia merasa baik-baik saja.
Tapi itu semua hanya perasaan Dira saja, karena kenyataannya. Tubuh wanita itu masih beraksi sedih ketika membahas masalah yang terjadi, air mata yang tidak bisa di hentikan keluar dengan sendirinya.
"Pelan-pelan aja, Sayang. Nanti kamu bakalan terbiasa sama status kamu yang masih punya orang tua dan keluarga kandung." Dira mengangguk.
Keduanya berpelukan berbagi rasa nyaman dan hangat. Hingga tanpa sadar sudah tertidur bersama hingga waktu mulai beranjak malam.
Dira terbangun dan bergegas mandi, ketika keluar ia sudah mendapati suaminya duduk di kasur.
"Kita turun sama-sama, Mas mau cuci muka dulu." Gara berucap sembari berjalan menuju kamar mandi.
"Sini duduk, Nona Muda." Mega menarik kursi untuk Dira sembari bergaya layaknya pelayan.
"Terimakasih," ucap Dira sembari tersenyum tipis yang membuat Mega melirik Gara.
Gara hanya mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu saat mengerti maksud lirikan sepupunya.
Dira yang biasanya selalu semangat dan ceria kalau bertemu dengan Mega. Kini malah terlihat tidak bersemangat dan jadi pendiam.
"Makanlah, Nak. Nanti kita nonton bioskop di rumah," ucap nenek Ira yang membuat semua keluarganya heran.
"Memangnya di rumah ada bioskop, Nek? Kok kami gak tahu sih?" Eva menatap nenek Ira minta penjelasan.
"Nanti kamu bakalan tahu," sahut nenek dengan entengnya.
"Sok misterius banget sih, Nek." Nenek Ira hanya menanggapi dengan senyuman ucapan Mega dan memilih makan dengan santai.
__ADS_1
Dira mengambilkan makanan untuk suaminya lalu untuknya sendiri. Wanita itu memang jadi banyak diam malam ini.
Selesai makan malam, Dira dan Mega masih di dapur untuk menyiapkan popcorn buatan sendiri. Sedangkan Eva menyiapkan minumannya di dekat kulkas.
"Amplop yang kamu pegang tadi siang itu, bukannya yang dulu pernah kamu bawa, Dir?" Tanya Mega.
Ia teringat dulu saat baru 3 bulan bersama Dira merintis usaha warung. Dira pernah pulang dengan membawa sebuah amplop putih yang cukup tebal.
Mega sempat bertanya apa isinya dan saat itu Dira hanya menjawab kalau itu foto masa kecilnya. Mereka juga tidak sempat melihat isi di dalamnya karena sangat sibuk bekerja.
"Iya," sahut Dira.
"Apa kamu memang belum pernah lihat semua foto-foto itu setelah kamu dapatkan?" Tanya Mega lagi.
"Gimana mau sempat lihat kalo kita sibuk kerja, tutup warung malem dan udah capek."
"Iya juga sih, kita memang para gadis pemburu dolar waktu itu." Mega tersenyum mengingat bagaimana semangatnya mereka dulu.
"Bener, apa kamu inget kalo dulu kita bahkan pernah makan nasi sebungkus bersama? Trus minumannya juga asem banget, karena kamu yang salah pesen rasanya."
Dira yang mendengar pembahasan tentang masa perjuangan mereka yang menyenangkan walau sulit. Kembali bersemangat, bahkan senyum lebarnya juga kembali meski tidak lama.
"Hah, rasanya terlalu cepat waktu berlalu, ya. Sekarang kamu bahkan udah nikah, sedangkan aku masih mengenar badai." Lesu Mega mengingat kesulitan percintaannya.
"Jangan bilang kalo kamu sama Yoga belum pacaran juga?" Dira menatap Mega yang cemberut.
"Iya, hati adek di gantung-gantung kayak buah di pohon." Sedih Mega pura-pura nelangsa.
"Sudahlah, kalo dia gak mau kasih kamu kejelasan hubungan mending cari yang lain." Usul Dira sembari menatap Mega.
"Tapi dimana lagi aku bisa dapetkan Dokter yang tampan rupawan kayak dia? Belum lagi ucapannya yang semanis gula-gula kapas."
Mega menghayalkan pria yang bernama Yoga itu.
"Kalo ucapannya semanis gula-gula kapas, udah pasti perasaannya juga gak kuat, gampang lembek."Gara datang mendekati Dira dan memeluk istrinya dari belakang.
"Mas! Kenapa kamu ke sini?" Tanya Dira melihat Gara.
__ADS_1
"Ngapain lagi kalo gak gangguin, dasar kang nyebelin." Mega menatap sinis Gara.
"Terserah," santai Gara dan semakin bertingkah manja pada Dira.