Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Bukan di culik


__ADS_3

Dira kembali membuka matanya setelah tadi ia kembali tidur akibat kenyang dan faktor masih lelah juga ngantuk. Tapi ada yang sedikit berbeda sepertinya di ruangan yang ia tempati.


Meski ia terbangun di sebuah kamar yang bagus tapi semua dinding yang polos serba putih serta meja kecil di dekat kasur dan kasurnya sendiri yang tidak terlalu besar. Dira mencoba mengingat kamar yang di tidurinya itu sepertinya ada yang berbeda dengan yang sebelumnya.


Pandangan Dira beralih pada jendela kecil di sebelah fan ia mendekat karena masih bingung dan linglung akibat bangun tidur di tempat yang berbeda. Bahkan pria yang sudah seminggu menjadi suaminya pun tak terlihat di dalam ruangan itu.


"Aaaaaahhhhhhh."


Dira berteriak cukup kuat saat mendapati pemandangan awan di dekat jendela dan hamparan hijau di bawah sana yang terlihat sangat kecil.


"Dimana ini? dimana aku?" Histeris Dira panik karena merasa dirinya telah di culik atau akan di bunuh dengan cara di lemparkan dari ketinggian.


"Gak mungkin!" Dira berlari kearah yang di yakininya sebagai pintu karena ada pegangannya.


Tapi belum sampai ia mendekat pintu itu sudah terbuka dari luar dan menampakkan wajah panik Gara dan dua orang pramugari wanita di belakangnya.


"Ada apa? kenapa Ra?" Khawatir Gara bercampur panik saat mendengarkan suara teriakan dari luar.


Gara sangat kaget saat mendengar suara teriakan yang berasal dari belakangnya. Tapi belum yakin suara siapa itu karena di pesawat bukan hanya dirinya dan sang istri saja, masih ada dua pramugari yang bekerja di sana.


Tapi saat seorang pramugari menghampirinya dan mengatakan kalau suara teriakan itu berasal dari kamar pribadi. Gara langsung panik dan berlari secepatnya menuju kamar dimana sang istri berada.


Dira yang melihat kedatangan Gara langsung mendekap erat pria itu dengan tubuh gemetaran karena shok.


"Kita di culik mas, kita di culik!" Panik Dira dengan air mata yang menetes.


Bagaimanapun juga ia seorang wanita dan mendapati dirinya bangun tidur berada di ketinggian tentu saja sangat mengejutkan. Apa lagi sebelumnya ia bersama sang suami berada di hotel. Lalu kenapa sekarang bisa berada di tempat asing yang sangat tinggi?.


"Di culik gimana?" Tanya Gara yang masih belum paham dengan kepanikan istrinya.


"Kita ini di culik mas, tadikan kita masih di hotel. Aku juga masih tidur di kasur hotel selesai makan tapi sekarang lihat! Kita ada di tempat asing ini mas. Mana tinggi banget lagi tempatnya, ini pasti penculiknya mau bunuh kita mas."

__ADS_1


"Nanti kita di paksa untuk lompat dari sini ke bawah sama penculiknya, atau gak si penculik itu minta uang tebusan sama nenek." Celoteh Dira panjang lebar sesuai dengan apa yang di pikirkannya.


"Pikirkan sesuatu mas, supaya kita bisa bebas dari sini. Kasihan keluarga kita kalo sampe denger kabar penculikan kita," lanjutnya masih dengan nada panik. Bahkan air matanya terus menetes akibat ketakutan.


Apa lagi di pikirannya kalau dua pramugari yang datang bersama Gara itu komplotan penculik yang sengaja berdandan rapi supaya tidak terlalu mencolok dan ketahuan kalau mereka penculik.


Gara yang mulai paham dengan kepanikan istrinya menahan tawa. Namun juga tidak tega melihat wajah takut dan air mata wanita di depannya.


Bagaimanapun juga ia merasa bersalah karena tidak memberitahu Dira sebelumnya kalau mereka akan terbang ke Bali setelah sarapan tadi.


"Sst tenang Ra, kamu tenang dulu ya. Jangan panik," ucap Gara berusaha membuat istrinya diam dan tenang.


"Gimana bisa tenang? Apa lagi gak panik mas? Kita ini di culik loh mas, gimana nanti kalo ne ..."


Cup


Gara mengecup bibir sang istri agar diam dan tenang. Tidak menyangka saja Gara kalau ternyata istrinya bisa secerewet itu kalau sedang panik dan ketakutan.


Dira mengangguk.


"Kita gak di culik, apa lagi bakalan di ancam untuk di bunuh. Nenek sama keluarga yang lain juga gak bakalan di mintai uang tebusan, karena kita ini naik pesawat makanya terbang tinggi dan kita mau ke Bali untuk bulan madu."


"Semua ini hadiah dari keluarga kita termasuk nenek. Kata Mega kamu suka sama pantai, jadi nenek usul untuk terbangkan kita ke Bali. Supaya kita bisa habiskan waktu seminggu berduaan di sana, paham."


Gara menjelaskan sembari menghapus air mata Dira.


"Jadi kita gak di culik mas?" Tanya Dira lagi meyakinkan dirinya kalau tidak sedang di culik.


"Enggak, siapa yang berani culik kita emangnya?" Kekeh Gara pelan karena wajah polos Dira yang terlihat menggemaskan saat bertanya, apa lagi kedua matanya masih terlihat memerah akibat menangis tadi.


Jadi terlihat persis seperti anak kecil yang habis menangis karena tidak di beri permen.

__ADS_1


"Trus ini kamar siapa kalo kita gak di culik? Masa iya di pesawat ada kamarnya?" Heran Dira masih belum percaya sepenuhnya dengan apa yang di katakan sang suami tadi.


"Ini kamar pribadi untuk istirahat, di luar juga ada sih kursi yang bisa di pake untuk tidur. Tapi mas ngerasa kamu bakalan lebih nyaman di sini aja tidurnya," jelas Gara.


"Kok bisa ada kamar pribadinya mas? Memangnya pesawatnya sebesar apa?" Polos Dira yang memang belum pernah melihat pesawat apa lagi menaikinya.


Karena dalam hidupnya ia hanya tahu bekerja dan belakar saja untuk masa depannya jadi tidak pernah sempat mengurus sesuatu yang tidak penting. Biarlah di anggap kampungan yang penting ia bisa menghabiskan waktunya untuk hal yang lebih berguna.


"Kamu memangnya gak pernah naik pesawat?" Dira menggeleng.


"Kalo ngelihat?" Dira menggeleng yang membuat Gara menghembuskan napasnya panjang. Tak habis pikir dengan wanita di depannya.


Kemana aja istriku selama ini? Sampe lihat pesawat aja gak pernah, batinnya.


"Ya udah nanti kalo udah turun kamu lihatin tuh pesawat sampe puas. Kamu ukur sendiri seberapa besarnya, sampe bisa ada kamarnya." Pasrah Gara lalu membawa Dira keluar dari kamar itu.


"Mereka siapa mas? Bukan komplotan penculik itukan?" Tanya Dira menghentikan langkahnya saat melihat dua Pramugari di dekat pintu yang melihat kearah mereka.


"Itu Pramugari istriku, bukan penculik. Kalo modelan penculik kayak gitu, gak akan ada yang takut," jawab Gara sedikit tegas agar sang istri tak lagi membahas masalah penculik.


"Tapi kok mereka lihatin kita terus sih mas? Memangnya kita pemain film atau artis sampe harus di lihatin," ucap Dira lagi yang membuat Gara menepuk keningnya tak habis pikir dengan sang istri yang berubah jadi begitu ceriwis sejak bangun.


Apa istrinya terkena suatu penyakit karena tidur saat masih pagi, pikir Gara.


"Udahlah biarin aja mereka. Gak usah di pedulikan, anggap aja patung." Gara menarik Dira keluar dari kamar dan melewati kedua Pramugari itu begitu saja.


Sedangkan Dira hanya diam karena sebenarnya pikirannya masih belum terlalu berjalan dengan baik akibat kejadian panik tadi. Bahkan saat Gara menyebutkan nama Mega yang memberitahu nenek kalau ia suka pantai pun belum di sadarinya.


"Si bos kalo ngomong enak banget ya, masa cantik gini di bilang patung." Protes Pramugari itu sembari berjalan menuju tempat penyediaan makanan dan minuman di pesawat.


"Biarin ajalah, namanya juga pengantin baru. Apa lagi tadi istri si bos kelihatan panik banget, jadi mungkin itu cuma penghibur supaya istrinya tenang," ucap seorang lagi.

__ADS_1


"Ya udahlah, yang penting kita bisa ikut jalan-jalan juga ke Bali. Jalan-jalan gratis." Kekeh kedua Pramugari itu.


__ADS_2