
Malam hari di tepi pantai laut Bali, pemandangan indah dengan taburan bintang di langit.
Dira berjalan di tepi pantai bersama Gara sembari bergandengan tangan. Bukan untuk menunjukkan kemesraan mereka melakukan itu. Tetapi Gara berinisiatif sendiri untuk menggandeng tangan istrinya.
"Indah banget pemandangan malam ini."
Dira tersenyum manis menikmati pemandangan dan semilir angin malam yang menerpa.
"Memang indah, tapi angin malamnya bisa buat masuk angin kalo terlalu lama di luar."
"Baru juga sebentar." Dira sedikit cemberut karena kesenangan terusik.
"Bukan masalah sebentarnya, tapi memang angin malam di pantai itu lebih dingin. Memangnya kamu gak kedinginan?"
"Dingin sih."
Gara melepaskan pegangan tangan mereka dan beralih mendekap bahu istrinya.
"Ayo pulang, tangan kamu udah dingin."
Lengan Dira di usap-usap oleh Gara agar sedikit mengurangi rasa dingin. Dira memang memakai dres lengan pendek yang memiliki rok selutut.
Entah siapa yang sudah menukar kopernya hingga isi di dalamnya bisa berubah. Padahal jelas-jelas Dira membawa pakaian sederhana miliknya. Dan saat di hotel pun isi di dalamnya masih sama.
"Kok kesini Mas?" Heran Dira kala dibawa menuju salah satu bar mini di dekat pantai itu.
"Minum dulu sedikit biar badan anget."
"Tapi gak minum-minum juga kali mas."
"Gak papa, kita minum yang alkoholnya rendah."
"Sama aja itu minuman memabukkan mas."
"Sedikit aja kita minumnya."
Gara memaksa Dira untuk duduk di kursi mini bar. Meski tahu istrinya kesal, Gara tetap memilih minuman yang rendah kadar alkoholnya.
"Nih, kamu minum sedikit. Supaya gak badan kamu gak dingin." Gara menyerahkan segelas kecil minuman kepada Dira.
"Minum aja sendiri, aku mau pulang," ketus Dira.
Wanita itu beranjak dari duduknya.
"Jangan pulang dulu, sebentar aja kita minum disini." Bujuk Gara.
Bukannya melunak akan bujukan sang suami, Dira malah memasang wajah jutek pada Gara.
"Minum aja sendiri sana, minum semuanya yang ada di tempat ini. Sekalian tidur di sini aja kamu, gak usah pulang."
Melihat wajah tak bersahabat dari istrinya membuat Gara cepat-cepat menghabiskan minuman di gelasnya. Membayar sebentar lalu pergi mengejar Dira yang sudah berjalan di depan.
"Ck, dasar laki-laki gak pengertian. Istri kedinginan bukannya di bawa pulang malah di bawa ke bar," gerutu Dira.
"Dira! tunggu!"
Terdengar suara panggilan dari belakang. Dira melihat Gara mengejarnya dengan langkah cepat. Tapi siapa yang perduli dengan pria menyebalkan itu? Batin Dira.
Dira kembali melanjutkan langkahnya tanpa perduli lagi dengan panggilan dari Gara. Hingga akhirnya pria itu dapat mensejajarkan langkah dengan istrinya.
"Cepet banget sih jalan kamu?" Tanya Gara sembari menggandeng tangan Dira.
__ADS_1
"Buat apa nungguin orang yang gak peka?" Ketus Dira.
"Siapa yang gak peka?"
Dira melirik kesal pada Gara yang entah kenapa malam itu terasa sangat mengesalkan.
"Au ah, gelap."
"Gelap gimana? jalanannya terang benderang gini."
"Mas, kok ngeselin banget sih?" Dira mempercepat langkahnya mengejar sang istri yang semakin terlihat kesal saja.
"Kok Mas di tinggal? Kamu kenapa sih?" Heran Gara dengan sikap Dira.
Dira hanya diam dan terus berjalan memasuki vila tempat mereka menginap.
Hingga waktu tidur tiba, pasangan suami istri itu masih saling diam. Lebih tepatnya Dira yang banyak diam dan tak memperdulikan ucapan suaminya.
"Kamu kenapa sih? kok mukanya jutek gitu?" Tanya Gara untuk yang kesekian kalinya setelah mereka masuk ke dalam kamar.
"Jawab dong Nadira, kamu kenapa?"
Gara merebahkan tubuhnya di samping Dira yang membelakanginya. Gara merapatkan tubuhnya pada Dira dan memeluk tubuh ramping istrinya.
"Istri Mas, kenapa sih? Kalo memang Mas ada salah, kamu bilang langsung sama Mas. Jangan diem aja, karena mas gak punya ilmu kebatinan yang bisa baca pikiran apa lagi isi hati orang lain."
Gara masih berusaha membujuk Dira yang tidak mudah untuk rayu apa pagi di bujuk.
"Mas gak peka," sahut Dira akhirnya.
Gara tersenyum mendengar suara istrinya yang akhirnya mau menjawab pertanyaannya.
"Gak peka gimana? Mas ngerasa udah paling pengertian dan perhatian kok." Pelukan keduanya di pererat oleh Gara, meski dirinya hanya bisa memeluk dari belakamg.
"Ya, jelasin dong istriku yang cantik. Mas suamimu ini harus gimana supaya istri cantik ini gak jutek lagi?"
"Lebih peka sama lingkungan, lebih sensitif sama keadaan."
"Gitu ya, tapi kalo lebih sensitif kayanya gak bisa."
Dira membalikkan tubuhnya ke arah Gara.
"Gak bisanya?"
"Ya gak bisa, soalnya kalo harus lebih sensitif Mas khawatir kamu kesusahan jalan."
Kening Dira mengkerut dalam karena tidak paham akan maksud sang suami.
"Apa hubungannya lebih sensitif sama gak bisa jalan?"
"Hubungannya?" Dira mengangguk.
"Mas lebih sensitif sama ini."
Kedua mata Dira melotot kaget merasakan sesuatu di bawah sana. Sedangkan Gara sudah memasang senyum jahilnya.
"Aaahhh, mesum."
Dira memukuli dada Gara semakin merasa kesal saja. Sungguh ia tak menyangka kalau suaminya ternyata orang yang mesum.
"Kok mesum sih? Sama istri sendiri gak ada yang namanya mesum, tapi enak." Kekeh pria itu yang semakin mendapat pukulan dari Dira.
__ADS_1
Dira duduk dan memukuli tubuh Gara dengan bantal guling yang tadi di peluknya saat membelakangi Gara.
"Mass, mesum banget kamu."
Gara tertawa lepas melihat reaksi istrinya yang wajahnya memerah karena malu. Belum lagi kekesalannya yang memukul dengan kuat.
"Udah, udah, kamu mau bunuh suami hah?" Gara menangkap dan merebut bantal yang di gunakan Dira untuk memukulnya.
Dira duduk dengan bersila dan kedua tangan bersedekap menatap Gara tak bersahabat. Sedangkan Gara sendiri berusaha menahan tawanya.
"Ketawa aja terus sampe kamu ompong," ketus Dira yang malah kembali mengundang tawa Gara.
"Astaga, kamu lucu banget sih kalo kesel. Muka kamu merah lagi."
Dira yang sudah tak tahan lagi melihat tawa sang suami yang mengejeknya. Wanita itu beranjak dari kasur hendak keluar meninggalkan suami menyebalkannya itu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Gara yang tak mendapatkan jawaban.
Dira keluar dari kamar yang di tempatinya dan menuju kamar lain yang ada di sebelah.
Untung saja vila itu memiliki kamar lebih dari satu. Menurut pengurus yang bekerja di sana, vila yang mereka tempati ini memang sering di tempati oleh keluarga Gara.
Jadi wajar saja kalau memiliki kamar lebih dari satu.
Gara yang di tinggalkan langsung menyusul keluar kamar dan berusaha mencari dimana keberadaan istrinya.
"Dira!"
"Kamu dimana?"
Gara berkeliling dari ruang tengah sampai area kolam renang. Tapi sang istri tak kelihatan juga.
"Nadira! dimana kamu?"
Saat sampai di area dapur, Gara tak juga menemukan keberadaan Dira. Dan itu membuat Gara kebingungan dan mulai merasa takut.
"Apa aku udah keterlaluan banget ya tadi?" Tanya Gara pada dirinya sendiri.
"Haduh, bisa kacau kalo sampe anak orang beneran ngambek. Mana gak gampang di bujuk rayu lagi."
Gara kelimpungan sendiri karena ulahnya, ia juga memikirkan bagaimana cara membujuk sang istri nantinya kalau masih marah. Jika saja Dira mudah di bujuk dengan uang atau barang mewah seperti Intan.
Gara tidak akan kebingungan mencari cara, namun istrinya berbeda dan sangat sulit di taklukan.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Pengurus vila mendekati Gara yang nampak kebingungan.
"Bapak dari mana?" Tanya Gara balik.
"Saya tadi keliling sebentar di luar vila untuk mastikan kalo semuanya udah aman. Trus lihat Tuan di sini lagi kebingungan, jadi saya datangi."
"Lihat istri saya gak Pak? Tadi dia ngambek trus keluar kamar."
"Wah, saya gak lihat Tuan. Tapi kita bisa lihat di cctv supaya lebih mudah carinya."
"Ah, iya bener. Ayo ayo cepet."
Gara dan pengurus vila pergi keruangan dimana terdapat monitor yang menampilkan seluruh sisi vila yang tersorot kamera.
"Lihat Tuan, Nyonya rupanya ke kamar sebelah. Bukan pergi kemana-mana."
Pengurus vila menunjuk layar monitor yang menampakkan saat Dira memasuki kamar sebelah.
__ADS_1
"Terimakasih Pak, saya tinggal dulu."
Gara bergegas pergi meninggalkan ruangan monitor dan menyusul istrinya.