
Setelah berbelanja perhiasan kini Gara membawa istrinya menuju butik yang masih berada di gedung yang sama.
"Mas, mau beli baju?" Tanya Dira.
"Iya, kita beli baju. Baju kamu kan gak banyak yang di bawa."
"Mas, tahu gak siapa yang tukar isi koper aku?"
"Kenapa?"
"Baju-bajunya itu banyak yang beda. Kaos sama celana kulot aku gak ada, tapi yang lainnya masih sama. Malah ada beberapa gaun di dalemnya."
Dira mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya.
"Kemarin kamu pake gaunnya, kan?"
"Iya, sebenernya ragu sih. Takutnya punya Anggi, tapi masa gaunnya Anggi ada di koper aku?"
"Anggi gak pake gaun kayak gitu. Kalo pun Anggi punya gaun, pasti ukuran roknya setengah paha."
"Masa sih, Mas?"
"Iya, sebenernya gaun yang di koper kamu itu dari nenek."
"Nenek? Kok bisa?"
"Ya bisalah, kamu kan tidur waktu kita berangkat ke bandara. Reno singgah di butiknya tante Pita karena di suruh nenek."
"Nah, di sana anggitanya tante Pita bawa beberapa gaun pesanan nenek. Mereka juga yang masukin gaunnya ke koper kamu."
Akhirnya Dira tahu darimana asal kedatangan gaun-gaun cantik itu di kopernya. Sejak awal ia melihat gaun-gaun itu sudah ingin bertanya pada Gara.
Namun karena suaminya itu selalu punya topik untuk di bicarakan. Atau selalu punya segiatan untuk di lakukan bersamanya, jadi lah Dira lupa bertanya.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan, Nona." Pegawai butik mendekat.
"Kamu mau yang mana, Istriku?"
"Mas, kok dari tadi manggil aku gitu terus sih?"
Heran Dira pada suaminya yang sejak tadi terus mengucapkan kata 'istriku' padanya. Seakan-akan hanya dirinya sendiri yang memiliki istri.
"Biar semua orang tahu kalo kamu istri, Mas."
Dira menghembuskan napas pelan mendengar jawaban suaminya. Kemasukan apa suaminya ini sampai tingkahnya sedikit kekanakan menurutnya.
"Saya mau baju yang untuk santai aja, Kak."
"Gak bisa gitu dong, Istri." Protes Gara dengan pilihan istrinya.
"Kenapa gak bisa?" Tanya dira bingung.
"Kita mau foto untuk moment honeymoon pernikahan."
"Buat apa foto gitu? Bukannya biasa foto preweding ya?"
__ADS_1
"Itu sebelum nikah, tapi kita kan udah nikah. Jadi namanya moment honeymoon pernikahan. Nanti kalo udah punya anak namanya babymoon, kita foto juga nanti."
Dira mengerjapkan kedua matanya mendengar kalimat suaminya.
"Terserahlah, Mas." Pasrahnya, dari pada harus mendengar lebih banyak lagi istilah si moon.
"Gaun yang simpel aja kak. Yang cocok untuk suasana pantai."
"Kalo itu sebelah sini, Tuan, Nona." Pegawai butik itu mengarahkan Dira dan Gara ke bagian lain butik.
"Silahkan di pilih."
Dira melepaskan pegangan tangan Gara dan mulai memilih gaun yang ada di gantungan.
"Yang ini gimana, Mas?" Dira menunjukkan sebuah gaun simpel berwarna biru laut.
Panjang gaun itu di bawah lutut, dengan bagian tali bahunya hanya selebar tiga jari bermotif bunga. Bagian roknya terdapat dua lapisan dengan bagian luarnya yang transparan untuk mempercantik gaunnya.
"Cantik, coba kamu pake?" Pinta Gara ingin melihat gaun pilihan istrinya di pakai.
"Silahkan sebelah sini, Nona." Pegawai butik menunjukkan ruang ganti pada Dira.
Sembari menunggu Dira keluar, Gara meminta pada pegawai butik agar di bawakan kemeja yang senada dengan milik istrinya.
"Gimana, Mas?" Dira keluar dari ruang ganti dengan gaun pilihannya tadi.
Gara tak menjawab apa lagi merespon pertanyaan istrinya. Saking terpesonanya dengan kecantikan Dira, Gara bahkan tak sadar kalau pegawai butik sudah datang membawakan kemeja yang di mintanya.
"Tuan, ini kemeja yang anda minta."
Gara berdehem untuk mengalihkan rasa kagetnya, juga akibat terlalu mengagumi istri sampai lupa diri.
"Bagus, kita ambil itu aja sama satu gaun lagi. Sebentar."
Gara berdiri dari duduknya dan mendekati barisan gaun yang masih menggantung. Mengambil sebuah gaun putih yang panjangnya lebih pendek dari sebelumnya.
"Kamu coba yang ini juga." Dira menerima gaun yang di berikan suaminya.
Tanpa banyak bertanya lagi, Dira segera masuk kembali ke ruang ganti tanpa memperhatikan gaun yang di pilih suaminya.
Gara mengulurkan tanganya meminta kemeja tadi.
"Saya ambil ini," ucapnya setelah melihat ukuran bajunya.
"Baik, Tuan."
Tak lama Dira keluar lagi dari ruang ganti dengan gaun pilihan suaminya.
"Waw ..."
Gara benar-benar kagum dengan istrinya yang terlihat cocok dengan pakaian apapun. Bahkan gaun yang di pilih Gara semakin membuat Dira terlihat tinggi dengan kaki jenjangnya.
"Mas, gak salah pilih gaun yang ini? Ini kependekan, Mas?"
Dira berusaha menarik rok yang panjangnya di pertengahan pahanya itu. Merasa sedikit tidak nyaman karena baru pertama kali memakai rok di atas lutut.
__ADS_1
"Kamu cantik, Istriku." Gara mendekati Dira dengan tersenyum.
"Kita pilih yang ini juga ya?" Dira mengangguk menyetujui permintaan Gara.
Dira berpikir hanya sekedar untuk berfoto saja ia memakai gaun itu. Setelah selesai berfoto nanti Dira akan langsung ganti.
Selesai dengan memilih pakaian untuk berfoto. Dira dan Gara menuju restoran untuk mengisi perut. Rencananya besok sore baru mereka akan berfoto di tepi pantai.
Karena ini akhir pekan dan sudah pasti di pantai banyak orang. Gara tak mau kegiatan mereka besok jadi tontonan banyak orang. Apa lagi pasti akan ada saja orang yang mengenalinya.
Di Jakarta sendiri sedang terjadi ledakan berita terpanas seorang artis sekaligus model yang baru saja tersebar pagi ini. Hingga siang hari berita itu sudah menjadi trending.
Bahkan si artis sekaligus model itu sudah di panggil pihak perusahaan untuk mengkonfirmasi berita viral itu.
"Apa pendapat kamu mengenai hal ini?" Tanya Wawan selaku wakil Direktur sekaligus sepupu Gara.
"Itu hanya editan," sahutnya santai seakan apa yang terjadi bukan masalah besar.
Wawan melihat ke arah Sekretarisnya.
"Telpon pihak pusat dan minta salinan cctv sekarang." Tegas pria itu.
"Baik, Pak."
"Jika memang terbukti kamu bersalah, maka pihak perusahaan akan memberikan sangsi padamu. Dan bersiaplah untuk kehilangan beberapa pekerjaan sebagai konsekuensinya."
Wawan menatap Intan yang masih saja terlihat santai di depannya sembari memainkan kukunya.
Bener-bener gak punya sopan santun, batinnya.
"Silahkan lakukan apa yang kalian mau, karena semua itu gak akan mempengaruhi apapun. Karirku gak akan terganggu sama sekali, apa lagi sampe kehilangan pekerjaan." Pede Intan.
"Apa menurutmu mas Gara akan membantumu kali ini?" Tebak Wawan yang sudah hapal dengan kebiasaan artisnya yang satu ini.
"Tentu saja. Lagi pula dari semua artis yang ada di perusahaan ini, hanya aku yang paling menjanjikan." Sombong Intan.
"Heh, terlalu percaya diri akan membuatmu mati dengan cepat."
Wawan melihat laptop di depannya karena malas melihat orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri selangit seperti Intan. Bisanya hanya mengandalkan orang lain saja.
"Ini laporan dari pihak pusat, Pak." Sekretaris Wawan menyerahkan ponselnya untuk menunjukkan sesuatu.
Wawan melihat dengan seksama rekaman cctv yang ada di ponsel Sekretarisnya. Bukan sekedar rekaman video saja, tapi juga rekaman suaranya.
Hingga yang ada di depan lift hingga ke lantai atas semua ada di sana.
Wawan tersenyum sinis menatap Intan yang nampak masih santai saja. Padahal rekaman kejadian di perusahaan GT pusat sudah di dengarnya juga.
"Kira-kira gimana respon Direktur Utama kalau melihat rekaman ini?" Tanya Wawan pada Sekretarisnya yang bertujuan menyindir Intan.
"Saya tidak berani memastikan, Pak."
"Benar juga, tapi keyakinanku dia akan marah. Jadi sebelum masalah ini semakin berdampak dengan agensi, lakukan konferensi. Katakan kalau perusahaan akan meminta artis yang bersangkutan untuk meminta maaf secara terbuka pada yang bersangkutan."
"Mengakui kesalahannya dan tak akan mengulagi hal yang sama. Katakan juga jika perusahaan akan mendukung perbuatan tercela artisnya dan akan memberikan dua kali kesempatan lagi."
__ADS_1
Wawan menatap sinis Intan yang sudah tak lagi terlihat santai seperti tadi.