
Gara menatap tak percaya gadis di depannya yang ternyata tak mudah di genggam begitu saja. Meski Gara menyadari apa yang di lakukannya salah dengan memberi kontrak pernikahan yang sama saja ia mempermainkan pernikahan.
Tapi ia melakukan itu karena takut gadis pilihan neneknya lepas kendali dan justru mencari celah untuk menyakiti neneknya suatu saat nanti tanpa sepengetahuannya.
Ada rasa takut sang nenek kembali mendapatkan perlakuan tak baik di hati Gara setelah apa yang di lakukan Intan kala itu.
Gara tak ingin menyimpulkan terlalu banyak tentang sikap dan sifat Dira yang baru pertama di temuinya ini. Yang dapat di lihatnya dari apa yang sudah terjadi hanyalah, Dira gadis yang tidak mudah di taklukan meski ia harus mengeluarkan uang banyak.
Karena Dira memilih pulang setelah menyampaikan apa yang ingin di sampaikannya. Gara pun mau tidak mau harus mengantarkan gadis itu seperti amanah sang nenek.
Tadinya Dira sempat menolak tapi karena Gara mengeluarkan titah sang nenek yang sempat memberi arahan agar Dira di antarkan Gara pulang, jadilah gadis itu mau di antarkan pulang oleh Gara.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil dengan Reno sebagai supirnya. Dira melihat sekeliling mobil yang sangat mewah itu. Tentu Dira tahu kalau mobil yang di naikinya ini mobil mewah.
Dira dan Mega pernah melihat-lihat iklan mobil di internet karena mereka berencana membeli mobil untuk memudahkan perjalanan mereka kalau belanja banyak.
Iseng-iseng keduanya melihat bursa mobil mewah. Dira dapat memastikan kalau harga mobil yang di naikinya ini sangat cukup untuk biaya hidupnya hingga tua meski harus rebahan di rumah saja.
"Kamu kerja apa?" Tanya Dira yang sangat penasaran akan pekerjaan calon suaminya itu.
Gara melihat ke arah Dira yang masih melihat segala isi mobil dengan tampang polosnya.
Muka polos mental baja, batinnya.
"Kenapa?" Tanya Dira heran karena Gara hanya melihatinya seperti orang bengong.
"Gak, memangnya kamu gak tahu aku kerja apa?" Dira geleng kepala.
"Nenek gak kasih tahu emangnya?" Dira menggeleng lagi, yang membuat Gara bingung.
"Trus, kalo kamu gak tahu kerjaan aku apa? Kenapa kamu mau nikah sama aku?" Tanya Gara memastikan.
"Karena nenek," sahut Dira enteng.
Kedua alis Gara terangkat keatas. Bagaimana bisa ada orang yang tidak mengenalnya? Bahkan tidak mengetahui apa pekerjaannya. Sedangkan banyak majalah dan stasiun tv juga sudah pernah menayangkan artikel tentang dirinya.
"Di rumah kamu ada tv?" Tanya Gara dengan wajah polos menatap Dira.
"Ada," sahut Dira tak kalah polos.
__ADS_1
"Pernah lihat majalah? Koran? Berita bisnis?" Dira mengangguk.
"Beneran kamu gak tahu siapa aku selain cucunya nenek Ira? Kerjaan aku juga kamu gak tahu?" Dira mengangguk lagi.
"Yang bener aja kamu? Masa iya sih gak tahu siapa aku?" Kaget Gara tak percaya.
"Ya benerlah, gak penting juga tahu siapa kamu kalo gak jadi calon suami aku." Gara mengedipkan kedua matanya berulang.
Sedangkan Reno di depan yang mendengar pembicara kedua penumpangnya merasa kaget sekaligus geli. Kaget karena masih ada orang yang tak mengenali sang tuan dan geli karena wajah polos tuannya yang baru pertama di lihatnya dan pernyataan 'gak penting' dari Dira terhadap tuannya.
Hancur image tuan, bahkan gak penting bagi Nona kalo gak bakalan jadi suaminya, batin Reno.
Dira sendiri memang pernah peduli dengan segala berita gosip atau berita apapun karena kesibukannya yang bekerja dari pagi hingga malam hari. Waktu istirahat juga terbatas, jikapun membuka berita maka Dira lebih suka melihat bursa saham bisnis.
Gadis muda itu sangat ingin memiliki sedikit saham untuk tabungan masa depannya agar lebih terjamin. Itulah sebabnya Dira terkadang melihat-lihat perusahaan mana yang harga sahamnya naik dan turun.
Meski belum mampu untuk membeli walau 1% saham. Namun dengan memantau dan melihat berapa harga saham setiap pasar.
Dira jadi memiliki target berapa minimal tabungan yang harus ia punya untuk bisa mencapai keinginanya itu.
Ekhem ekhem
"Kamu tahu perusahaan GT CORP?" Tanya Gara serius pada Dira.
"Tahu, itukan perusahaan di bidang entertaiment terbesar. Bahkan punya agensi artis sendiri," sahut Dira tenang.
"Kamu tahu siapa Direkturnya?" Tanya Gara lagi.
"Gak." mata Gara melotot.
Bagaimana mungkin bisa ada orang yang tidak tahu siapa Direktur GT CORP di kota besar yang sudah serba canggih ini?
"Kamu pernah lihat tv gak sih? Atau di rumah kamu gak ada tv ya?"
"Denger ya, ada gak nya tv di rumah aku. Pernah gak nya aku lihat tv, itu gak ada sangkut pautnya sama Direktur GT. Kenal aja gak, deket apa lagi, ngapai harus tahu siapa Direkturnya. Mending aku kerja cari uang dari pada harus sibuk ngurusin sesuatu yang gak guna."
Skak! Gara terdiam tak bisa menjawab lagi. Entah apa yang harus ia katakan lagi pada gadis di sampingnya.
"Nih orangnya." tunjuk Gara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Dira melihat Gara dengan satu alis terangkat.
"Kamu kenapa? orang apa?" Herannya.
"Ini Direktur GT yang udah banyak terdengar namanya di seluruh negeri ini." bangga Gara menunjuk pada dirinya sendiri.
Sebenarnya ia tidak ingin membanggakan dirinya yang seorang Direktur besar. Tapi entah kenapa di hadapan gadis yang akan menjadi istrinya ini ia tidak bisa menahan diri.
Ketidak percayaan dan ketidak tahuan Dira tentang dirinya yang akan menjadi suaminya tak lama lagi membuat Gara shok.
"Kamu? Direktur GT?" Dira menunjuk Gara tak percaya.
"Iya," sahut Gara.
"Kalo gitu perkenalkan. Aku Presiden seluruh dunia." Kata Dira yang membuat Gara harus menahan kesal dan amarah sekaligus karena Dira malah menganggapnya bercanda.
Entah bagaimana caranya membuat gadis di sampingnya percaya kalau dirinya seorang Direktur di perusahaan GT. Yang tak hanya berbisnis di bidang hiburan dan etertaiment saja tapi juga di bidang lain.
"Ck, gak lucu candaan kamu."
Gara bersedekap dan memilih diam melihat kearah depan dari pada harus semakin menjelaskan hal yang tak akan membuat Dira percaya pada dirinya.
Nenek dapet cewek ini dari mana sih? Masa perusahaan besar gitu gak tahu siapa pemimpinnya? Bahkan orang yang gak kerja di sana tahu siapa pemimpinnya. Gak pernah lihat dunia luar nih cewek kayaknya, batin Gara seraya melirik-lirik Dira yang melihat jalanan dari jendela sampingnya.
Yah, nominasi pasangan konyol tahun ini bisa di serahkan sama kedua orang di belakang sebagai pemenangnya, batin Reno pula.
Beberapa saat kemudian mobil yang di naiki Dira dan Gara tiba di warung tempat Dira tinggal dan bekerja selama ini.
"Dimana rumah orang tua kamu? Kenapa kita gak ke sana aja? Ini tempat kamu kerjakan?" Tanya Gara yang memang sudah di beritahu nenek apa pekerjaan Dira.
"Ini rumahku, orang tuaku udah gak ada. Kalo kamu mau ke sana besok aja, atau kapan kamu sempat," jawab Dira tenang tapi membungkam Gara.
"Boleh juga," kata Gara sebelum Dira menjauh dari mobilnya dan membuat gadis itu berhenti.
"Kamu serius?" Gara mengangguk.
"Besok aku datang lagi, kita ke sana." kini Dira yang mengangguk dan tersenyum tipis.
Setelahnya barulah Dira meneruskan langkahnya menuju warung yang nampak ramai. Gara masih memperhatikan langkah Dira hingga tak terlihat lagi karena sudah masuk ke dalam warung.
__ADS_1