
"Kita singgah ke kantor kontraktor dulu, ya? Mas mau mulai perombakan rumah secepatnya," ucap Gara.
"Iya, Mas."
"Ke kantor Sam dulu, Ren."
"Baik, Tuan."
Mobil terus melaju menuju perusahaan yang di maksud oleh Gara. Sesampainya di sana, Gara segera masuk bersama snag istri di sampingnya.
"Saya ingin bertemu dengan, Pak Sam. Apa Beliau ada?" Tanya Reno pada Resepsionis.
"Apa Tuan sudah membuat janji sebelumnya?"
"Katakan saja kalau Tuan Gara ingin bertemu."
"Baik, mohon tunggu sebentar."
Resepsionis itu melakukan panggilan sejenak lalu menatap Reno lagi.
"Silahkan, Tuan. Anda sudah di tunggu di ruangan, Beliau."
Reno mengangguk saja lalu melihat ke arah Gara dan Dira.
"Mari, Tuan, Nyonya. Pak Sam ada di ruangannya."
"Ayo."
Gara mendekap erat pundak Dira sembari berjalan di depan Reno. Gara cukup kesal dengan beberapa pria yang menatap istrinya secara terang-terangan begitu.
"Apa perusahaan ini kekurangan wanita cantik? Sampai istri orang pun mereka lirik-lirik," gumam Gara.
Pria itu menatap kesal sembari melotot pada pria yang kebetulan bertatapan langsung dengannya setelah menatap Dira.
Reno hanya menahan senyum melihat kecemburuan atasannya itu. Namun juga iri karena ia belum memiliki pasangan.
Tok tok tok
Reno mengetuk pintu yang bertuliskan nama orang yang mereka cari.
"Masuk." Terdengar sahutan dari dalam ruangan itu.
Reno membuka pintu mempersilahkan atasannya masuk.
"Lihat lah siapa yang datang ini? Sang Tuan muda investor terbesar di perusahaanku yang tak seberapa ini."
Pria itu terkekeh setelah menggoda Gara.
"Ck, jangan mulai." Gara menarik kursi untuk istrinya duduk, barulah ia menarik kursi untuknya sendiri.
"Lihatlah, betapa berkuasanya seorang Tuan Anggara Kusuma Putra. Bahkan pemilik ruangan belum mempersilahkannya untuk duduk, tapi dia dengan tenangnya duduk di situ."
"SAM BAL terasi!" Gara menambahkan kata 'Bal' pada nama temannya itu agar berhenti mengganggunya.
"Ck, bisa aja si CARI GARA-GARA.
Sam tertawa puas setelah melihat Gara mendengus akibat mendapatkan balasan dari ejekannya.
__ADS_1
"Saya serius Tuan Samsul Ardian!" Peringatan dari Gara jika sudah memanggil nama lengkap pria di depannya.
"Oke, oke, oke, santai."
Sam berdehem sejenak sembari memperbaiki duduknya.
"Jadi, Anda butuh apa Tuan Muda? Sampai Anda datang ke ruangan saya yang buruk ini?"
"Saya butuh alat berat yang bisa menggilas sesuatu sampai hancur berkeping-keping."
"Oh, kalau itu ada alatnya. Tapi kalau boleh tahu, untuk apa alat berat itu kira-kira, Tuan Muda?"
"Saya ingin menghancurkan teman saya yang bernama Samsul. Dia sangat menyebalkan bagi saya." Gara menyeringai melihat Sam yang nampak kaget.
"Wah, kalau begitu sepertinya Anda datang di waktu yang tidak tepat, Tuan Muda."
"Oh ya, menagapa begitu? Saya rasa ini adalah saat yang tepat."
"Tidak tepatnya karena alatnya tiba-tiba rusak."
"Rusak kenapa?"
"Karena orang yang ingin anda hancurkan adalah bosnya. Jadi alat berat itu merusakkan dirinya sendiri."
"Oh baiklah, kalau begitu saya bisa pakai kursi ini saja untuk memberinya pelajaran. Walau tidak hancur berkeping-keping, setidaknya bisa masuk rumah sakit."
"Sadis amat, Bro." Sam bergidik ngeri.
Gara tertawa puas setelah berhasil menakut-nakuti temannya. Tentu saja apa yang mereka ucapkan barusan tidak beneran. Keduanya hanya bercanda saja.
Bahkan kini Sam susah ikut tertawa geli bersama Gara akibat kekonyolan pembahasan mereka barusan.
Tadi membicarakan alat berat, lalu ingin menghabisi orang. Setelahnya ingin memukul dengan kursi agar masuk rumah sakit. Sekarnag tertawa bersama. Apa mereka punya kelainan saraf? Batin Dira.
Istri Anggara itu bahkan menaruh tangan kanannya ke kening sang suami.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Gara akan apa yang di lakukan istrinya.
"Kamu sehat kan, Mas? Kita kerumah sakit aja, yuk! Aku takut urat saraf kamu ada yang lepas," ucap Dira polos yang membuat Gara melongo tak percaya.
Sedangkan Sam dan Reno tertawa terpingkal karena ucapan istri Gara itu.
"Astaga, Ga. Istrimu jujur banget." Sam masih tsrtawa akan ucapan Dira tadi.
"Kenapa kalian ketawa juga? Apa urat saraf kalian ada yang putus juga, ya?"
Gantian Gara yang tertawa karena kalimat polos istrinya. Sedangkan Reno dan Sam terdiam dan gantian melongo.
"Rasain, makanya jangan tertawa di atas penderitaan orang lain," ujar Gara senang.
Beberapa saat kemudian...
Setelah suasana kondusif dan tenang, barulah Gara mengutarakan maksud kedatangannya.
"Begini, Tuan Sam. Maksud kedatangan saya ke sini, saya ingin Anda merenovasi beberapa bagian dari rumah yang akan saya tempati."
"Anda ingin perubahan yang bagaimana, Tuan Gara?"
__ADS_1
"Saya ingin rumah yang nyaman dan bisa membuat orang tidak mudah bosan berada di sana. Karena istri saya akan lebih banyak di rumah nantinya."
"Baiklah, tapi saya harus melihat langsung ke rumah Anda. Saya baru bisa menentukan bagaiamana harus mengubahnya."
"Dua hari lagi saya akan mengirimkan alamatnya pada Anda."
"Kenapa harus dua hari lagi?"
"Karena besok saya masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Dua hari lagi baru senggang, dan kita bisa ke sana bersama untuk membahasnya."
"Ah benar, baiklah kalau begitu. Senang bekerja sama dengan Anda tuan Gara."
Sam mengulurkan tangannya pada Gara.
"Senang juga bisa bekerja sama dengan Anda Tuan Sam. Semoga Anda bisa memuaskan saya dengan hasil kerja Anda dan tim."
Gara menyambut uluran tangan dari Sam dan keduanya bersalaman.
Saat Sam mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Dira dengan senyuman ramahnya. Tiba-tiba tubuh pria itu membeku dan pandangannya terus menatap lekat pada Dira.
Membuat istri Gara itu tidak nyaman, lalu merapatkan tubuhnya pada sang suami. Menyadari keanehan pada temannya, Gara langsung menegur.
"Inget istri sama anak di rumah, Sam."
"Ah, maaf, maaf." Pria itu tersentak kaget mendengar suara Gara.
Tangannya juga langsung di tarik kembali.
"Maaf, bukan maksudku untuk gak sopan sama istri kamu, Ga. Aku cuma tiba-tiba inget sama mama ku aja waktu lihat istrimu."
"Memangnya tante belum pulang?"
"Belum, masih keenakan jalan-jalan di luar negeri. Anaknya di suruh kerja cari uang." Sam terkekeh sembari terus memperhatikan Dira.
Tersirat sebuah kerinduan di mata Sam kala melihat wajah Dira. Terutama bagian kedua bola mata Dira.
"Boleh aku tahu siapa nama istrimu, Ga? Kemarin aku buru-buru waktu di acara kalian, jadi gak sempat kenalan."
"Ah iya, nama istriku Nadira Anjani." Gara mempeekenalkan istrinya pada Sam.
"Nadira Anjani?" Kedua mata Sam melotot sempurna.
"Iya, kenapa? Apa kamu pernah ketemu sama istriku sebelumnya?" Heran Gara dengan reaksi temannya itu.
Dira hanya diam saja sembari terus memperhatikan teman suaminya itu. Apa lagi tatapan penuh kerinduan di kedua mata pria itu kala melihatnya.
Sangat terlihat tulus dan begitu dalam perasaan itu.
"Apa kamu ingat? Keluargaku pernah di timpa musibah penculikan dulu."
"Oh itu, tapi apa hubungannya sama istriku? Apa mungkin istriku ini adik kamu yang dulu hilang?"
Kedua mata Dira melotot sempurna mendengar ucapan suaminya.
"Apaan sih, Mas? Gak lucu tahu!" Ketus Dira tak suka dengan omongan Gara.
"Maaf, Sayang."
__ADS_1
"Aku juga gak tahu, Ga. Ada atau gak nya hubungannya sama istrimu ini. Tapi wajahnya bener-bener duplikat mama aku, kedua bola matanya mirip papa. Coklat cerah, trus di bagian bawah bola matanya itu ada titik hitamnya."
Sam mencoba mengingat ciri-ciri sang adik yang sudah hilang 20 tahun lebih. Akibat dari kasus penculikan anak yang di lakukan oleh pengasuhnya sendiri.