
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Gara kala mendapati istrinya duduk termenung di balkon kamar mereka.
"Aku masih gak percaya aja, Mas. Rasanya kehidupan ini kayak mempermainkan aku." Dira menatap langit malam yang cerah dengan sendu.
"Mempermainkan gimana maksud kamu?" Tanya Gara belum paham arah pembicaraan istrinya.
"Dulu sewaktu aku masih kecil, ibu aku meninggal dunia. Ayah nikah lagi sewaktu aku unur tiga tahun. Ayah sayang banget sama aku, tapi istrinya gak. Apa lagi sejak aku ngelihat dengan mata kepalaku sendiri kalo istri ayah itu selingkuh sama teman kerjanya ayah."
"Ibu tiri aku jadi semakin gak suka sama aku. Setiap ayah pergi kerja atau tugas keluar kota, ibu tiri aku selalu gunakan kesempatan itu buat siksa aku dengan segala cara. Aku yang waktu itu masih kecil nurut-nurut aja di perintah, bahkan di ancem."
"Sampe puncaknya waktu aku kelas 2 SMA. Anak yang di kira ayah itu anak kandungnya, rupa-rupanya malah anak dari selingkuhan ibu tiri aku."
"Maksudnya? Ibu tiri kamu selingkuh sampe punya anak?" Tanya Gara memperjelas.
"Iya, Mas. Ibu tiri aku itu mulutnya manis banget kalo ngomong. Pinter bersilat lidah, sampe ayah bisa di bohongin sama dia tanpa perasaan sama sekali."
Dira menunduk denfan air mata yang sudah berderai kala mengingat kehidupan lampaunya.
Gara yang melihat itu segera menarik Dira kepelukannya. Ua tak ingin menghentikan tangisan istrinya, karena hanya kali ini saja Gara akan membiarkan istrinya itu menangisi masa lalunya.
Setelah ini tidak akan Gara ijinkan lagi Dira menangisi masa lalu itu.
"Darimana ayah tahu kalo anak itu bukan anak kandungnya?" Tanya Gara masih penasaran.
"Waktu itu kami kecelakaan, Mas. Mobil yang di kendarai ibu tiri aku hilang kendali tiba-tiba karena ibu tiri aku gak fokus nyetir. Anaknya yang duduk di depan mengalami luka lebih parah dari aku."
"Wajahnya penuh luka, tangan kirinya juga luka parah karena kena kaca mobil. Trus bagian tulang belakangnya juga bermasalah kata Dokter."
__ADS_1
Dira kembali mencoba mengingat masalah kecelakaan yang menimpa dirinya bersama ibu dan saudara tirinya dulu.
"Itu kamu umur berapa tahun?" Tanya Gara.
"Sekitar umur 15 atau 16 tahun gitu, Mas."
"Sekitar kelas 2 SMA dong!" Ucap Gara.
"Iya. Setelah kecelakaan itu kami di tolong warga sekitar untuk ke rumah sakit. Karena saudara tiriku yang paling luka parah, dia di bawa keruang operasi. Sedangkan aku sama ibu tiriku cuma di bersihkan lukanya aja."
"Ayah yang di telpon ibu langsung dateng, bertepatan sama Dokter yang keluar dari ruang operasi. Dokter bilang Mika butuh donor sumsum tulang belakang. Dokter juga bilang kalo keluarga kandung bisa punya kecocokan lebih besar sama anaknya."
"Jadi ayah tanpa ragu donorin sumsumnya, tapi kata Dokternya gak cocok. Sumsum ayah gak cocok sama Mika, ayah kaget waktu itu. Sampe Dokternya di ajakin berantem sama ayah karena gak terima kalo sumsumnya gak cocok sama Mika."
"Dari sanalah ayah marah-marah sama ibu tiri aku, ayah nuntut penjelasan tentang siapa ayah kandung Mika. Ibu terpaksa jujur karena sama ayah kalo Mika bukan anak kandungnya. Ibu tiri aku juga langsung hubungi ayah kandung Mika. Di sanalah ayah shok berat sewaktu tahu siapa ayah kandung Mika."
"Itulah yang buat ayah sampe kena serangan jantung tiba-tiba, Mas. Teman kerja ayah itu orang yang paling di percaya sama ayah. Bahkan ayah banyak bantu orang itu dalam segala hal. Itu sebabnya ayah begitu shok sampe pingsan."
"Sehari semalam ayah pingsan, waktu udah sadar ayah langsung minta temennya itu bicara langsung. Jadi semua masalah perselingkuhan ibu tiri aku terkuak. Bahkan temen ayah itu pun, sempet hina ayah habis-habisan karena gak tahu sama sekali tentang perselingkuhan dia sama istri ayah."
"Ayah yang kondisinya belum stabil jadi drop lagi, bahkan detik itu juga ayah meninggal."
Dira semakin tak kuasa menahan air matanya yang mengalir semakin deras mengingat betapa tragisnya cara sang ayah meninggal kala itu.
"Mereka tega, Mas. Bahkan di kondisi ayah yang gak berdaya, mereka masih bisa-bisanya nunjukin kemesraan di depan ayah. Orang itu juga bilang kalo ternyata usaha milik ayah udah jatuh ketangannya. Rumah ayah juga udah jadi miliknya dan itu semua berkat bantuan ibu tiri aku."
Gara mengeratkan pelukannya pada Dira sembari mengelus sayang pundak dan kepala istrinya. Mendengar kisah menyedihkan keluarga istrinya sungguh membuat hatinya sakit.
__ADS_1
"Jangan bilang kalo kamu di usir dari rumah setelah ayah meninggal?" Tebak Gara.
"Iya, Mas. Ibu tiri aku bilang kalo semua masalah yang menimpa keluarga kami itu karena aku. Ibu tiri aku bilang kalo aku anak pungut pembawa sial bagi keluarga. Ibu usir aku tanpa kasih apa-apa, bahkan ponsel sama pakaianku pun gak di kasih."
"Huh, kok ada ya manusia modelan begitu?" Gumam Gara tak habis pikir.
"Trus, gimana caranya kamu bisa kenal sama Mega? Anak itu lari dari rumah karena marah sama tante Rida yang sering sibuk sendiri," lanjut Gara.
"Aku ketemu sama Mega di jalan, Mas. Saat itu aku kelaperan banget, sampe gak sanggup lagi buat jalan. Aku duduk di teras rumah makan sambil lihatin orang-orang makan, berharap rasa laperku bisa hilang. Tapi yang ada malah semakin laper."
"Mega datengin aku bawa nasi bungkus sama air minum. Awalnya aku ragu untuk nerima, tapi Mega maksa bahkan narik aku buat cari tempat yanh enak untuk makan. Kami makan berdua di emperan warung yang tutup."
"Dari sana kami saling cerita masalah hidup masing-masing. Dan waktu itu dia ngaku sebagai anak yatim piatu, gak punya tujuan mau kemana. Dari sana kami cari tempat tinggal dan mulai semuanya sama-sama. Dia juga yang selalu kasih aku motovasi untuk terus maju, jadi lebih kuat dan berani."
"Ya, meski awal-awal kami hidup bersama, aku selalu merasa waspada sama dia. Kenyataan tentang penghianatan yang di terima ayah dari orang kepercayaannya, buat aku takut untuk percaya sama orang begitu aja. Tapi Mega juga yang yakinkan aku kalo gak semua orang itu sama jahatnya kayak mereka."
"Jadi karena itu kamu bisa nerima nenek yang baru kamu kenal?" Tanya Gara penasaran.
"Bisa iya, bisa enggak. Soalnya waktu itu aku cuma gak tega aja lihat nenek sendirian duduk di kursi roda, apa lagi waktu itu cuaca panas. Spontan aja aku bantu nenek masuk warung, trus aku ambilin makan sama minum. Gak ada amksud apapun selain bantu nenek, bahkan aki gak pernah nanyak nenek siapa dan sebagainya."
"Kamu gak takut nenek bakalan nipu kamu? Bisa ajakan, orang yang kelihatan lemah malah lebih berbahaya." Ujar Gara mengingatkan istrinya kalau yang terlihat baik belum tentu baik pula aslinya.
"Entahlah, Mas. Aku gak ngerasa apa-apa waktu deket nenek. Cuma rasa seneng aja karena perhatian sama cara nenek bicara ke aku."
Gara tersenyum mendengar jawaban istrinya. Semakin di peluknya Dira dengan penuh kasih sayang.
"Masuk, yuk! Semakin dingin di luar." Gara dan Dira masuk ke dalam kamar bersama untuk istirahat.
__ADS_1