
Dira duduk santai bersama Gara setelah makan siang tadi. Mereka sengaja belum pergi karena ada sesuatu yang ingin Gara sampaikan pada gadis yang akan menjadi istrinya tak lama lagi.
Sedangkan nenek Ira sudah pergi meninggalkan keduanya untuk mengurus masalah lainnya yang di perlukan untuk pernikahan. Nenek Ira memang menyiapkan semua keperluan pernikahan Gara dan Dira sendiri.
Karena sangat bahagia dengan rencananya yang berjalan sesuai harapan maka nenek Ira akan memberikan pernikahan terbaik untuk Dira dan Gara.
Gara menatap Dira yang nampak santai dan asik dengan dunianya sendiri bermain ponsel sembari mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan.
Ekhem
Gara berdehem untuk menarik perhatian Dira yang seakan tidak tertarik untuk menatapnya. Biasanya dirinya selalu menjadi pusat perhatian setiap perempuan. Bahkan tak sedikit yang mengungkapkan kekaguman dan rasa suka mereka padanya.
Tapi kenapa gadis di depannya justru terlihat sangat acuh dan tak peduli. Apa pesonaku udah luntur ya? Batin Gara seraya meraba wajahnya.
Terdengar suara pintu di ketuk dan masuklah seorang pemuda dengan setelan formal membawa tas kantoran di tangannya.
"Mana?" Tanya Gara seraya mengulurkan tangan kanannya kearah orang yang baru datang.
Orang itu membuka tas dan mengambil beberapa lembar kertas lalu menyerahkannya pada Gara.
"Silahkan Tuan, semua sudah sesuai perintah," ucap pemuda itu di angguki Gara.
"Nih, baca baik-baik." Gara melemparkan kertas yang tadi di serahkan asistennya ke meja di depan Dira.
Gadis itu melirik kertas di depannya tanpa minat sama sekali. Bahkan tampangnya nampak sangat polos dan lugu.
"Apa ini?" Tanya Dira meletakkan ponselnya dan meraih kertas yang tadi di lemparkan Gara ke meja.
"Kontrak pernikahan. Selama pernikahan kita gak ada yang namanya mencampuri masalah pribadi. Kamu harus ikuti semua peraturanku, termasuk yang paling penting kamu gak boleh ngadu sama nenek apapun yang terjadi di rumah tangga kita," ucap Gara seraya menatap Dira datar.
Dira masih membaca apa yang tertera di setiap lembaran kertas yang di pegangnya.
"Uang bulanan 100 juta sebulan?" Di tatapnya Gara tidak percaya.
Yang di tatap merasa di remehkan pun angkat suara.
"Kenapa? kurang?" Sinis Gara.
"Gak percaya aja kamu bisa ngasih uang bulanan sebanyak ini," kata Dira kembali membaca sisa tulisan di kertas yang akhirnya tertera materai untuk tanda tangan.
__ADS_1
"Satu milyar pun bisa aku kasih buat kamu setiap bulan. Apa lagi 100 juta yang cuma seujung kuku. Bahkan kaosku ini harganya lebih dari 100 juta," ucap Gara tidak terima karena di sepelekan.
Dira diam dan menatap Gara santai.
"Kasih pulpennya." Asisten Gara mengeluarkan pulpen dari tasnya dan menyerahkannya pada Dira.
Dira meraih pulpen dari tangan asisten Gara dan mulai meletakkan ujung pulpen di atas kertas. Matanya kembali menatap Gara yang menatapnya sinis.
Gara merasa cukup senang karena Dira ternyata gadis yang penurut meski ia sudah sempat kesal karena di remehkan. Belum pernah ada orang yang meremehkannya bahkan sang nenek sekalipun.
Tapi Dira sudah berani-beraninya meremehkannya dan setelah pernikahan nanti dia pasti akan membuat perhitungan dengan gadis itu.
Krek..
Gara dan asistennya tercengang melihat apa yang terjadi di atas meja.
"Ups! maaf sengaja, aduh salah gak sengaja maksudnya." Cengir Dira dengan wajah polos menatap Gara yang melongo tak percaya.
Kertas yang seharusnya berisi tanda tangan persetujuan kontrak pernikahan mereka justru koyak bagian tanda tangannya hingga materainya pun ikut terkoyak juga.
"Apa yang kamu lakukan?" Geram Gara.
"Entahlah, kertasnya udah lapuk," kata Dira enteng seraya mengangkat kertas yang koyak dan menunjukkannya pada Gara, lalu ...
Lima lembar kertas yang tadinya di lemparkan Gara dengan keadaan utuh kini sudah terbagi menjadi empat bagian setiap kertasnya.
"Kenapa kamu koyak kertas itu hah?" Geram Gara menahan amarahnya. Secara tidak langsung Dira sudah menantangnya dengan tidak mau menandatangani kertas itu dan malah mengoyaknya.
"Tanganku kepeleset," sahut Dira santai tanpa rasa takut sedikitpun pada intimidasi dari Gara yang sudah membuat sang asisten ketakutan.
Santai banget mbak? Gak lihat singa udah mau nerkam apa? Batin asisten Gara yang bernama Reno.
"Kasih aku jawaban yang pasti kalo masih mau keluar dari sini." Gertak Gara dengan wajah yang semakin terlihat tak bersahabat.
"Kamu penjaga pintu ya?" Tanya Dira dengan entengnya. Wajah polosnya semakin membuat Gara geram saja, tapi ia menahan segala rasa kesalnya.
"Jangan main-main kamu ya."
"Siapa yang main-main?" Tanya Dira.
__ADS_1
Gara menggenggam kedua tangannya di atas meja melampiaskan amarah dan kedua matanya terpejam dengan kepala sedikit menunduk.
Pemuda itu menghembuskan napasnya kasar. Lalu kembali menatap Dira tajam yang sama sekali tak membuat takut gadis di depannya. Itu lah yang membuat Gara heran, kenapa Dira tak takut dengan kemarahannya atau gertakannya.
"Jangan menguji kesabaranku Nona, karena akibatnya akan merugikan dirimu sendiri," ucap Gara bernada dingin.
"Nona, tolong jelaskan maksud nona kenapa robek kertas perjanjiannya," kata Reno pelan berherap Dira mengerti keadaan.
Karena bahasa formal Gara sudah keluar bersaman dengan aura dinginnya akan sangat membahayakan. Pemuda itu tak akan pandang bulu lagi siapa yang ada di hadapannya saat ini.
Dira memainkan sedotan di tangannya, mengaduk-aduk minumannya. Masih dengan tampang santainya tampa rasa takut seidkitpun.
"Kenapa aku harus tanda tangani surat itu?" Tanya Dira pula dengan nada tak kalah dingin dari Gara. Membuat pemuda itu tersentak karena Dira justru berani melakukan hal yang sama dengannya.
"Karena pernikahan Nona dan Tuan bukan berdasarkan cinta tapi..." kalimat Reno terhenti kala Dira menyela.
"Tapi aku di lamar secara baik-baik sama nenek Ira. Di jemput secara baik-baik pula, jadi untuk apa harus ada perjanjian segala? Kalo memang gak setuju bicara langsung sama nenek, bukan ngasih surat perjanjian nikah kontrak.Ini bukan dunia novel atau cerita drama, norak banget sih!" Cibir Dira di akhir kalimatnya.
Reno melirik tuannya yang masih berwajah dingin. Baru kali ini ia menemukan lawan tuannya selain nenek Ira, bahkan kedua orang tua Gara tak mampu mengatur apa lagi memerintah pemuda itu.
Sekarang malah ada seorang gadis pilihan nenek Ira yang akan jadi istri Gara berani mencibir dan mengejeknya.
Gak mudah taklukin calon istrimu Tuan, batin Reno.
"Jadi karena itu kamu merasa berada di atas angin?" Tanya Gara.
"Gak juga, ngapain di atas angin? Aku bukan layang-layang," sahut Dira.
"Trus apa maumu? Jangan karena kamu di pilih nenek, lalu bisa berbuat sesuka hatimu. Akulah yang akan mengaturmu," ucap Gara.
"Inginku cuma di hargai dan di perlakukan sebagai seorang istri pada umumnya meski gak ada cinta. Justru karena aku pilihan nenek aku bakalan gunakan itu jadi senjata kalo kamu macem-macem. Kalo kamu gak sakiti hati dan fisikku, aku juga bakalan ikuti aturan kamu. Selama itu gak rugikan aku, karena apa?" Dira menatap tajam Gara.
"Aku bukanlah gadis cengeng yang cuma bisa nerima siksaan sama hinaan. Aku bukan gadis murahan yang bisa sembarangan di permainkan laki-laki. Aku juga bukan gadis bodoh yang bakalan diem aja kalo ada orang yang jatuhin harga diri aku. Termasuk pacar atau mantan kamu, atau siapapun itu yang gak suka sama aku karena jadi istri kamu."
Dira menunjuk Gara tanpa rasa takut bahkan jari telunjuk Dira menyentuh kaos yang di pakai Gara. Dira akan bersikap keras pada orang yang berani menindasnya, asal jangan di ketinggian.
"Tapi sebelum aku nurutin peraturan kamu. Kamu juga harus jamin beberapa hal sama aku. Pertama, istri prioritas utama dari selingkuhan dan sejenisnya. Kedua, jangan coba-coba bawa perempuan lain ke hadapanku. Ketiga, aku bakalan hargain dan perlakukan kamu persis kayak gimana kamu hargain aku dan perlakukan aku." Dira duduk kembali seperti semula.
"Oh, yang terakhir," ujarnya sembari mengangkat pulpen di depannya sebagai tanda kalau masih ada hal lainnya. Gara hanya mampu diam tanpa kata.
__ADS_1
"Aku mau uang bulanan dua milyar, karena 100 juta bagi kamu cuma seujung kuku. Sebagai istri aku harus dapet yang terbaikkan," lanjutnya sembari tersenyum pada Gara.