
"Jadi begini ya, perasaan memiliki keluarga yang utuh?" Dira berdiri di balkon kamar di kediaman papi Dian.
"Memangnya kenapa, sayang?" Gara mendekat dan memeluk Dira.
"Rasanya sangat hangat di saat saling bercanda. Dapet perhatian dari orang tua begitu menyenangkan dan membahagiakan." Dira menyandarkan kepalanya di dada Gara.
"Sejak kamu masuk ke dalam keluarga nenek, kamu udah dapetkan semua perhatian dan kasih sayang dari kami semua. Apa yang gak pernah kamu dapetkan sesama dulu, sekarang dan masa depan bakalan kamu dapetkan." Gata mempererat pelukannya.
"Mas, akan selalu berusaha untuk membahagiakan kamu." Gara mengecup pipi Dira yang membuat wanita itu tersenyum.
Malam semakin larut, Dira dan Gara masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
Pagi ini Dira sedang bersiap untuk mencari baju kebaya yang akan di pakainya saat wisuda. Sebenarnya Dira tidak mau memakai kebaya, cukup long dres saja.
Namun maminya memaksa dan mengatakan sangat ingin melihat anaknya memakai kebaya. Apa lagi di hari pernikahan Dira dengan Gara mereka tidak bisa hadir.
Saat mereka sedang sarapan, terdengar suara seseorang melangkah masuk sembari memanggil mami Hera.
"Mbak Hera! Mbak! Mana anakmu?" Orang-orang di meja makan menoleh ke arah suara.
"Jangan teriak-teriak, Nin! Udah kayak di hutan aja kamu ini," ucap mami Hera yang membuat Nina tersenyum saja.
Pandangan Nina beralih ke Dira dan Gara yang ikut duduk di sana.
"Jadi dia beneran putri kalian, Mbak?" Nina mendekati Dira dan menatap dengan binar bahagia.
"Iya, tapi apa maksud ucapanmu itu?" Tanya mami Hera yang kurang paham.
"Ya ampun, jadi tebakan ku benar. Kamu memang keponakan, Tante." Nina memeluk Dira dengan perasaan yang bahagia.
"Maaf, apa maksud Tante?" Tanya Dira tak paham juga.
Nina menatap Dira bahagia.
"Waktu di nikahan kamu, Tante sempet gak sengaja sentuh bekas luka di pundak kamu. Saat itu Tante udah firasat, bahkan sempet niat untuk kasih tahu mami Hera. Tapi om ngelarang karena takutnya salah orang."
"Tante kamu bahkan sampe teriak-teriak tadi malem." Mami Hera terkekeh mengingat tadi malam.
"Jangan di bahas, Mbak. Itu cuma salah aatu bentuk kebahagiaan aku karena kabar baik dari, Mbak." Nina mencari alasan agar tak malu.
Dira hanya diam saja sembari mengunyah makanan yang di suapkan suaminya.
"Tante, dari tadi bahas tentang Dira, tapi yang di bahas malah asik romantisan sama suaminya." Mendengar ucapan Rina.
__ADS_1
Orang-orang yang masih di meja makan sontak menoleh ke arah pasangan suami istri yang memang masih saling suap.
"Manja banget sih jadi orang," cibir Sam melirik sinis Gara.
"Sirik tanda tak mampu," sahut Gara santai sembari menyuapi Dira dengan makanan terakhir di piringnya.
"Siapa juga yang sirik? Aku juga bisa kale." Sam mengalihkan pandangannya ke sang istri di samping. "Sayang suapin, Mas." Pinta Sam.
Rina yang sedang menyuapi bubur bayi pada anaknya, mengarahkan sendok berisi bubur pada Sam.
"Kok bubur, sih? Nasinya sayang." Tolak Sam yang di sodori bubur.
"Itu di piring kamu ada, Mas." Tunjuk Rina menggunakan dagunya ke arah piring Sam yang memang masih tersisa nais dan lauk.
"Ck, kamu gak bisa di ajak romantis-romantisan." Sam mengajukan protes pada Rina.
"Waktunya gak tepat Mas, bukan gak mau. Anak kamu masih sarapan juga." Rina menyuapkan bubur pada anaknya yang baru berusia 10 bulan.
"Ngalah sama anak, Mas. Jangan mau enaknya aja, tapi giliran ngurus anak kamu gak mau." Sam menatap tajam Gara yang mengejeknya.
"Adik ipar durhaka," ucap Sam kesal.
Gara hanya tertawa mendengar ucapan Sam.
"Ngapain kamu ikut perempuan? Pergi kerja sana, biar dapet uang banyak. Adikku harus kamu berikan uang yang banyak dan kehidupan yang baik." Sam memarahi Gara yang mengikuti Dira.
"Berisik banget sih orang tua. Pergi kerja sana! Anakmu butuh uang banyak untuk masa depannya," ucap Gara.
"Kamu juga ha ..."
"Mas! Udah siang, nanti terlambat kerja." Rina menegur suaminya yang malah berdebat dengan Gara.
"Pergi sana, Mas! Harga susu mahal," ejek Gara.
"Mas!" Dira menegur suaminya juga yang masih saja tidak mau diam.
Gara mendekati istrinya dan langsung menempel pada Dira.
"Nempel terus ... " Sam segera masuk ke dalam mobil saat istrinya menatap ke arahnya.
"Kerja terus ..." teriak Gara yang membuat Sam mengeluarkan kepalan tangannya.
"Mas, jangan teriak-teriak." Dira menatap suaminya dengan wajah cemberut.
"Maaf, sayangku." Gara tersenyum manis pada Dira agar istrinya tak marah.
__ADS_1
Mereka akhirnya pergi ke mall bersama, Dira bersama Gara di mobil mereka sendiri. Sedangkan yang lainnya di mobil berbeda yang di bawa supir.
"Kamu udah kabari nenek dan yang lainnya, Mas?" Tanya Dira menatap suaminya yang sedang menyetir.
"Udah, Mas kabari mama melalui chat keluarga. Kamu belum gabung di grup chat keluarga kan?" Gara melihat sekilas istrinya.
"Belum. Kalau keluarga punya grup chat, gimana sama nenek Mas? Apa nenek ikut dalam grup itu juga?" Tanya Dira.
"Iya, dong. Bahkan nenek yang awalnya usulin untuk buat grup chat keluarga, supaya kami semua bisa komunikasi dan tahu kabar masing-masing. Apa lagi selama beberapa tahun terakhir keluarga yang lain tinggal di luar negeri, ada juga yang di luar kota."
Gara menjelaskan tentang grup chat keluarga mereka.
"Nenek, gaul juga ya ternyata." Dira terkekeh saat baru ingat kalau pernah melihat nenek memegang ponsel mahal.
"Iya, bahkan lebih gaul dari cucu-cucunya lagi."
"Masa sih, Mas?"
"Kamu tahu, apa yang nenek lakukan waktu mau cariin Mas jodoh?" Gara menatap istrinya.
"Apa?" Penasaran Dira.
"Nenek, sampe drama dan lakukan segala hal supaya Mas mau nerima perjodohan dari nenek. Waktu Mas nolak, nenek marah sampe diemin Mas." Gara terkekeh kala mengingat saat-saat itu.
"Katanya firasat orang tua gak pernah salah. Ku pikir itu benar, Mas." Dira tersenyum manis melihat Gara.
"Iya, Mas juga ngerasa kalo itu semua bener. Karena Mas sangat bahagia sekarang, dan sepertinya Mas harus ucapkan terimakasih sama nenek."
"Jangan cuma terimakasih aja, Mas. Kita juga harus kasih nenek hadiah yang paling di sukai sama nenek." Dira bahagia membahas hadiah untuk nenek.
"Hadiah apa yang harus kita kasih ya, sayang?" Gara meminta pendapat.
"Kira-kira apa yang nenek belum punya ya, Mas? Kita harus kasih nenek sesuatu yang berbeda."
Gara terlihat berpikir mendengar apa yang belum neneknya punya. Sebab semuanya sang nenek sudah punya.
"Ah! Mas tahu, sayang." Dira menatap suaminya senang.
"Mas, yakin kalo nenek bakalan seneng kita kasih hadiah ..." Gara menggantung kalimatnya yang membuat Dira semakin penasaran.
"Apa, Mas?" Tanya Dira.
"Cicit! Kalo kita punya anak, nenek pasti bakalan seneng. Dan itu merupakan hadiah terindah, bukan cuma untuk nenek aja. Tapi juga untuk tentunya."
Dira menahan senyumnya melihat keantusiasan Gara saat membahas anak.
__ADS_1