Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Akting nenek Ira


__ADS_3

Dira dan nenek Ira duduk berdua di salah satu kursi yang ada di pinggiran taman itu. Sedangkan Desi sudah pulang dengan ojek online yang di pesannya.


"Dira, Nenek boleh meminta sesuatu gak sama kamu? Anggaplah ini sebagai permintaan Nenek yang terakhir." Mata Dira melotot mendengar ucapan nenek Ira.


"Maksud Nenek apa? Memangnya Nenek mau kemana? Kok pakek permintaan terakhir segala." Kaget Dira akan ucapan nenek Ira.


"Gak kemana-mana, cuma Nenek ngerasa sedih banget. Nenek udah setua ini tapi cucu Nenek belum nikah. Kamu mau gak nikah sama cucu Nenek? Jadi cucu Nenek juga."


Semakin kagetlah Dira mendengarnya bahkan matanya sudah lebih lebar lagi melototnya.


"Kamu kenapa? Kok melotot gitu?"


Sengaja nenek Ira bertanya agar Dira segera sadar dan kedua mata indah itu kembali normal, tidak melotot lagi. Karena meski bola mata Dira indah, kalau melotot tetap seram juga.


"Maaf Nek, maaf, Dira cuma kaget aja denger ucapan Nenek."


Dira menggaruk pipinya dengan jari telunjuk, merasa tak enak hati sudah berbuat kurang sopan pada nenek Ira.


"Gak papa Nak. Nenek maklum kalo kamu kaget, Nenek yang lancang karena lamar kamu tiba-tiba. Nenek cuma takut kalo cucu Nenek gak cepet nikah sama orang lain, pacarnya itu bakalan buat cucu Nenek sengsara."


Nenek Ira mulai mengeluarkan jurus akting sedihnya.


"Cucu Nenek udah punya pacar?" Nenek Ira mengangguk namun masih dengan wajah sedih.


"Trus kenapa pacarnya malah buat cucu Nenek sengsara? Kalo memang cinta kenapa harus saling menyakiti?" Heran Dira belum paham.


"Perempuan itu gak cinta beneran, Nak. Dia cuma mau manfaatin cucu Nenek aja, kalo dia butuh cucu Nenek harus selalu ada. Apa yang dia minta harus selalu di penuhi, tapi dia gak pernah mau luangkan waktu untuk ketemu Nenek."


"Bahkan cucu nenek sendiripun sering di abaikan kalo dia gak butuh." Air mata nenek Ira menetes.


Dira merasa kasihan pada nenek Ira langsung mendekap bahu tua itu dan mengelusnya pelan.


"Gimana nanti kalo Nenek udah semakin tua, gak bisa apa-apa? Siapa yang mau peduli sama orang tua ini?"


Nenek Ira semakin meneteskan air mata seraya melirik-lirik Dira yang juga berwajah sedih dan tidak tega melihatnya.


"Kamu mau ya nak jadi cucu mantu Nenek?" Tawar nenek Ira lagi pada Dira.


"Gimana ya Nek? Dira mau jadi cucu Nenek. Tapi kan gak harus jadi cucu mantu Nek, Dira gak mau ngerusak hubungan orang lain," kata Dira mencoba memberi penjelasan pada nenek ira akan apa yang ia pikirkan.

__ADS_1


"Kalo kamu gak mau jadi cucu mantu Nenek, kamu gak akan leluasa untuk ketemu Nenek, Nak. Apa lagi kalo Nenek udah gak bisa apa-apa nanti, trus cucu Nenek nikah sama perempuan itu. Dia pasti gak bakalan ijinin kamu untuk ketemu Nenek"


"Gak akan gampang ketemu sama orang yang gak punya hubungan sama kita, Nak. Apa lagi kalo orang yang ngelarang itu orang yang gak suka sama kita."


"Bisa aja nanti kamu di tuduh mau ngerebut suaminya atau mau ngerayu suaminya dengan alasan mau ketemu Nenek, padahal ada maksud lain."


Nenek Ira mengatakan kemungkinan terburuk yang akan terjadi kemudian hari jika Dira hanya menjadi cucunya tanpa sebuah ikatan.


"Tapi kan sama aja Nek, Dira tetap bakalan di sebut perusak hubungan orang kalo nikah sama cucu Nenek yang udah punya pasangan."


Dira masih tetap pada keputusannya.


"Hubungan mereka gak banyak yang tahu, Nak. Karena mereka gak publish juga, hubungan mereka tertutup. Itu sebabnya perempuan itu bisa bebas kemana aja dia mau tanpa ada berita perselingkuhan dia." Nenek Ira mencoba meruntuhkan keputusan Dira.


Dira diam berpikir apa yang harus dia lakukan dengan lamaran dadakan nenek Ira yang tak terduga ini.


"Malangnya nasibku ini, sudah tua tapi gak ada yang perduli. Bahkan cucuku pun sibuk kerja, anak-anakku jauh."


Nenek Ira kembali berakting lebih sedih dan memilukan agar hati gadis di sebelahnya goyah.


Karena tak mudah menggoyahkan hati Dira begitu saja. Jadi nenek Ira harus mengeluarkan akting full agar terlihat sangat nelangsa dan target memakan umpan.


"Suamiku ... kenapa kamu tinggalkan aku sendirian di dunia ini? Takdir sungguh membuatku sedih dan sendirian." Tangis nenek Ira yang terdengar sangat pilu hingga Dira merasa ikut sedih.


"Udah Nek jangan nangis lagi, Dira mau kok jadi cucu mantu Nenek," ucap Dira tulus seraya memeluk nenek Ira penuh kasih.


"Sungguh?" Nenek Ira melepaskan pelukan Dira dan menatap wajah gadis di hadapannya yang mengulas senyum manis untuknya.


"Iya Nek, Dira juga udah gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Dulupun kalo seandainya gak ketemu sama Mega, entah kemana Dira bakalan pergi," kata Dira yang semakin membuat nenek Ira berbinar.


"Terimakasih ya, Nak. Udah mau jadi cucu mantu Nenek."


Nenek Ira membawa Dira kepelukannya dengan perasaan bahagia dan haru. Ia juga baru tahu kalau ternyata gadis yang dia pilih untuk menjadi calon istri cucunya ini tidak memiliki siapapun lagi.


"Iya Nek, tapi nanti kalo cucu Nenek gak mau nerima Dira gimana? Kan gak mungkin kalo kita maksa. Dira gak mau nanti di siksa kalo udah nikah cuma karena dia gak cinta. Bahkan gak bisa nerima Dira jadi istrinya."


Dira mengeluarkan apa yang ada di hatinya di hadapan nenek Ira.


"Kamu tenang aja, kalo dia berani macem-macem sama kamu, Nenek yang bakalan hadapi dia. Lagian dia juga udah janji untuk gak bakalan nolak Nenek carikan jodoh."

__ADS_1


"Soal masalah pacarnya jangan takut juga. Semakin kamu takut sama dia, dia pasti bakalan semakin suka nindas kamu nanti," kata nenek Ira meyakinkan Dira kalau tidak akan ada masalah nantinya jika gadis itu menjadi cucu mantunya.


Setelah perbincangan itu selesai, Dira memutuskan untuk pulang saja dan nenek Ira tidak memaksanya lagi untuk ikut kerumahnya karena Dira sudah janji besok akan datang.


Dira pulang menggunakan ojek sedangkan nenek Ira di jemput supirnya setelah Dira jauh. Nenek Ira tidak mungkin mengantarkan Dira pulang karena tidak ingin gadis itu berubah pikiran saat melihat mobilnya yang mewah.


Sesampainya di rumah, nenek Ira dapat melihat seorang wanita dengan pakaian seksi di ruang tamu sedang memarahi pekerjanya.


"Kamu buta ya? Bawa gitu aja gak becus. Gelas itu mahal, bahkan gaji kamu sebulan gak cukup untuk beli gantinya," bentak Intan.


Hanya karema tak sengaja menjatuhkan gelas yang tadi di gunakan untuk menyuguhkan minuman pada Intan. Perempuan itu sudah marah-marah.


"Maaf Non, saya beneran gak sengaja," ucapnya menunduk takut karena baru kali ini ada orang yang marah dan membentak mereka.


"Dasar gak guna, bersikan itu semua," lanjut Intan yang belum menyadari keberadaan nenek Ira.


"Ada apa ini?" Tanya nenek Ira.


Intan yang melihat nenek Ira masuk dengan pakaian sederhana berupa daster murahan milik kepala pelayan yang sengaja di pinjamnya.


"Siapa yang kasih ijin kamu masuk hah?" Kata Intan ketus juga sok berkuasa.


"Memangnya kenapa kalo aku masuk?" Pancing nenek Ira lagi yang mulai menebak kalau perempuan di depannya ini kekasih sang cucu.


"Dengerin ya pengemis gak tahu diri, ini rumah Neneknya pacar aku. Rumah orang kaya, berkelas, semuanya bersih. Kalo kamu masuk yang ada rumah jadi kotor dan berkuman." Sinis Intan.


"Kuman kok nuduh kuman," ucap nenek Ira yang memancing amarah Intan.


"Satpam! Satpam!" Teriak Intan marah yang memancing penghuni rumah keluar.


"Ada apa ini?" tanya Gara yang baru muncul dari ruang kerjanya sembari memegang sebuah map merah.


"Tuh, ada pengemis. Suruh satpam ngusir sebelum Nenek kamu dateng, ntar dia malah nyuri lagi di rumah Nenek kamu," cibir Intan.


Plak


"Usir dia keluar." Gara menampar dan mendorong Intan hingga terjatuh di lantai.


"Apa-apaan kamu Gara? Kenapa kamu tampar dan usir aku? Harusnya kamu tampar dan usir pengemis itu." Tunjuk Intan pada nenek Ira yang memasang wajah datar tak bersahabat.

__ADS_1


"Seret dia keluar," kata nenek Ira.


Pekerja laki-laki yang ada di ruangan itu langsung menarik Intan keluar rumah. Sedangkan nenek Ira naik ke lantai atas tanpa perduli dengan Gara yang menatap nenek Ira dengan wajah bersalah.


__ADS_2