
Seminggu berlalu dengan cepat. Kini tiba waktunya hari pernikahan Dira dan Gara yang di adakan secara mewah dan megah oleh nenek Ira.
Meski tidak memiliki orang tua sebagai walinya di pelaminan dan yang mendampinginya saat pemberkatan. Acara pernikahan tetap berjalan dengan baik karena papanya Gara tidak mengijinkan para wartawan mengeluarkan pertanyaan yang bersifat pribadi pada mereka.
Pertanyaan yang boleh di bahas hanya mengenai pesta yang sedang berlangsung. Dan untuk pengganti orang tua Dira, paman Gara yang menjadi pendamping Dira sebagai orang tua angkat dengan senang hati.
Semua keluarga Gara datang ke acara pernikahan bujangan yang sudah berumur hampir 30 tahun itu. Saat nenek menghubungi semua anak dan saudaranya mereka sangat antusias untuk datang.
Tidak perduli siapa dan apa latar belakang Dira. Semua keluarga Gara menerima Dira sebagai anggota baru dengan tangan terbuka. Bahkan adik perempuan Gara pun tak kalah bahagianya karena akhirnya memiliki kakak ipar.
Sepasang pengantin baru itu sedang duduk manis di pelaminan. Dekorasi yang elegan namun tak meninggalkan kesan mewah membuat Dira benar-benar tak percaya kalau kini ia menjadi Ratu sehari.
Yang lebih membuatnya tak percaya lagi adalah sekarang ia memiliki orang tua angkat yang sangat baik padanya. Bahkan memperlakukannya seperti anak mereka sendiri.
"Kenapa?" Tanya Gara saat menyadari pandangan Dira yang berkeliling.
Menatap dekorasi pesta dan juga jalannya acara yang sedang berlangsung. Acara di isi oleh penampilan dari beberapa artis di bawah naungan perusahaan Gara.
"Gak nyangka aja kalo nenek siapin pesta yang sebesar ini," sahut Dira.
"Nenek suka sama kamu. Ah, kayaknya bukan cuma nenek aja sih. Tapi semua keluarga aku juga suka sama kamu dan sekarang kamu udah jadi bagian dari kami. Jadi mulai sekarang perhatikan segala tingkah lakumu nyonya Gara", ucap Gara yang membuat Dira menatap pemuda di sampingnya.
"Ck, berasa nikah sama pejabat paling berpengaruh di dunia aja." Gerutu Dira memajukan sedikit bibir bawahnya.
"Suamimu ini memang orang yang sangat berpengaruh di dunia Nona," ujar Gara tersenyum tipis.
"Dunia apa? Dunia khayalan?" Ejek Dira yang membuat Gara hanya mampu mempertahankan senyum tipis di bibirnya.
Menggenggam erat telapak tangan istrinya sebagai tanda mereka akan memulai hidup baru.
Gara sudah tidak bersikap datar lagi pada Dira sejak saat pertemuan keluarganya dengan Dira. Yang hasilnya sungguh membuatnya cukup kaget karena penerimaan semua keluarganya.
Bahkan papa Kusuma yang tidak terlalu respec pada orang lain yang baru di temuinya pun mau mengeluarkan beberapa kalimat. Hal itu sudah cukup membuat Gara yakin untuk memulai lembaran baru hidupnya dengan gadis asing yang kini sudah jadi istrinya.
__ADS_1
Meski perasaan mereka masih berbeda, asalkan niatan untuk menjalani rumah tangga yang harmonis satu tujuan. Rumah tangga mereka pasti akan berakhir membahagiakan.
Di sudut lainnya ruangan pesta pernikahan. Mega yang memakai pakaian pengiring pengantin sedang sibuk mengambil makanan yang sudah di siapkan untuk para tamu.
Tapi entah apa yang merasuki gadis itu hingga make up nya kali ini nampak sangat berlebihan dan terlalu menor. Bahkan Dira dan Desi tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mega hanya mengatakan kalau dia ingin saja saat Dira bertanya tentang riasannya.
Desi duduk di salah satu kursi bersama seorang pekerja di warung. Sedangkan Mega tidak juga duduk sejak tadi karena asik sendiri dengan setiap makanan yang ingin di cicipinya.
Sudah lama ia merindukan makanan mewah di acara orang kaya. Karena terlalu fokus ingin mencoba setiap makanan di sana, Mega sampai tak menyadari kehadiran dua orang di belakangnya.
"Borong aja semuanya," seru suara seorang wanita yang membuat tubuh Mega menegang.
Tanpa melihat ke sumber suara, Mega berjalan ingin menjauh dan melarikan diri. Tapi sayang, ia sudah tidak memiliki kesempatan itu karena pundaknya sudah di pegang oleh pria paruh baya yang bersama wanita tadi.
"Mau kemana lagi kamu?" Tanya pria itu yang membuat Mega mau tak mau harus menoleh.
"Maaf Tuan, saya udah gak sopan dan sekarang saya mau pergi," sahut Mega dengan senyuman bodohnya.
"Jangan harap kamu bisa kabur lagi, mau Mama botakin kamu." Ancam wanita paruh baya di hadapan Mega yang membuat gadis itu menelan ludah kasar.
"Salah orang?" Sela wanita yang menyebut dirinya mama pada Mega tadi.
Sedangkan Mega hanya bisa tetap tersenyum bodoh menanggapi karena dirinya yang sudah tertangkap.
"Sekalipun kamu pake make up kayak badut, Papa sama Mama tetep bisa kenal sama kamu. Walaupun udah 4 tahun kamu kabur dari rumah," ucap pria yang ternyata orang tua Mega.
"Makan kamu yang kayak orang kelaparan itu aja udah buat Mama yakin kalo kamu anak gadis Mama yang paling maruk kalo makan. Plus suka kabur-kaburan," ucap mama Mega.
"Yah, sia-sia aku nahan malu dandan kayak gini." Cemberut Mega.
"Memangnya siapa yang nyuruh kamu dandan kayak gitu?" Tanya Mamanya Mega.
"Gak ada, sengaja aja danda kayak gini biar gak ada yang kenal. Tapi rupanya Papa sama Mama malah kenal juga," gerutu Mega.
__ADS_1
"Gak mungkin Mama gak kenal sama anak sendiri. Apa lagi kamu yang cuma pergi 4 tahun dan badan kamu juga dari dulu gini-gini aja. Gimana ceritanya Mama gak bisa tanda kalo itu kamu," ucap mamanya Mega yang membuat gadis itu cemberut.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa di sini? Kamu tahu darimana kalo Nenek ngadain pesta nikahan mas kamu itu?" Tanya Papanya Mega.
"Tuh lihat." Mega menunjuk pelaminan di mana sepasang pengantin masih duduk manis di sana.
"Kenapa memangnya sama pengantin itu? Kamu mau nikah juga?" Tanya Mamanya Mega yang membuat gadis itu menatap malas mamanya.
"Apaan sih Ma omongannya? Maksud aku itu pengantin perempuannya itu temen aku Ma. Selama 4 tahun ini aku tinggal sama dia, berbagi suka duka sama-sama. Berjuang untuk hidup sama-sama," jelas Mega secara singkat.
"Masa sih? Dia itu udah jadi anak angkat Papa sama Mama nak. Karena dia gak punya keluarga lagi jadi Papa inisiatif untuk jadikan dia anak angkat supaya Wartawan gak banyak pertanyaan tentang identitasnya," ujar papanya Mega yang membuat Mega tak percaya.
"Iya aku udah denger tadi Ma," sahut Mega santai tanpa mempermasalahkan apa yang di sampaikan mamanya.
Mega memang sudah lama tak pernah tahu kabar tentang keluarganya lagi. Meski di media atau di surat kabar terkadang menampilkan kesuksesan keluarganya tapi ia tak perduli. Bahkan selalu berusaha menghindar kala tidak sengaja bertemu.
Itulah sebabnya saat pertama kali melihat nenek Ira di depan warung mereka, Mega langsung kabur ke dapur dengan berbagai alasan. Entah neneknya itu akan mengenalinya atau tidak yang penting kabur dulu.
Bahkan saat Dira menceritakan tentang dirinya yang di lamar nenek Ira. Mega yang paling cerewet agar Dira menerima dan selalu memberi semangat sebaik mungkin agar pernikahan terus berjalan.
Mega juga nekat datang ke pesta pernikahan Dira karena ia tidak ingin melewatkan haru bahagia sahabatnya dan anak pamannya. Walau di awal bertemu keluarganya ia sempat tegang takut ketahuan, tapi saat semua keluarganya acuh ia bisa bernapas lega.
Tapi entah bagaimana kedua orang tuanya bisa mengenalinya meski ia sudah berdandan menor.
Di pelaminan Dira dan Gara sedang bersalaman dengan para tamu yang berasal dari kalangan orang kaya dan pejabat.
"Selamat Tuan Gara, semoga segera memiliki keturunan," ucap seorang pria paruh baya dengan senyuman ramahnya.
"Terimakasih Tuan Farhan atas doa dan kehadirannya," sahut Gara ramah pula.
"Selamat ya, Nak. Kamu sangat cantik," ucap istri tuan Farhan ramah sembari memeluk Dira.
"Terimakasih Nyonya," sahut Dira pula membalas pelukan hangat wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Nyonya Farhan mengelus punggung Dira yang terbuka dan kaget kala merasakan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Ini ... tanda apa ini?