Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Wanita mirip Dira


__ADS_3

Dira yang mendengar ucapan pria di hadapannya menatap tak percaya.


"Apa maksudnya yang kayak gini?" Dira menarik sedikit kelopak mata bagian bawahnya.


Menunjukkan sesuatu yang tersembunyi di kelopak mata bawhanya.


Kedua mata Sam melotot tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Begitu pula dengan Gara yang baru tahu kalau di bagian bawah bola mata istrinya ada tanda seperti itu.


"I-iya," gugup Sam bahagia karena prasangka benar.


"Maaf, apa kamu punya bekas luka di punggung? Seperti bekas luka jahitan."


Dira menatap suaminya meminta persetujuan untuk menunjukkan bekas yang di maksud pria di depannya.


Gara mengangguk saat mengerti maksud istrinya. Karena dirinya juga sangat penasaran dengan identitas istrinya ini. Yang setahu Gara hanya seorang anak yatim piatu.


Dira balik badan dan mengingkap rambutnya ke depan. Lalu Gara membantu menarik sedikit baju Dira hingga menampakkan sedikit lukanya.


"Iya, bener. Bekas luka itu? Bekas luka yang sama kayak yang dulu," ucap Sam dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Darimana kamu tahu kalo istriku punya bekas luka? Kamu ngintip, ya waktu istriku lagi mandi?" Tuding Gara menatap Sam.


"Apaan sih, Mas? Siapa yang bisa ngintip aku mandi? Kamar kita aja di lantai atas, udah gitu kamu juga ada di kamar waktu aku mandi." Dira menatap Gara sedikit kesal.


"Hehehe ... Bercanda, Sayang." Gara tersenyum garing, yang membuat Dira mendengus.


Sam hanya bisa menghembuskan napasnya jengah. Sudah biasa baginya melihat Gara yang terkadang bersikap nyeleneh jika sedang serius-seriusnya. Kecuali dalam dunia kerja.


"Apa kamu mau lihat mami, Mas?" Tanya Sam pada Dira tanpa memperdulikan pertanyaan Gara.


"Boleh," sahut Dira.


"Hey, hey, hey, jangan bicara sama istriku! Siapa yang kasih kamu ijin ngomong sama istriku? Jawab dulu pertanyaanku!" Kesal Gara.


"Dulu sewaktu adikku Nadir umur setahun lebih, dia pernah jatuh. Punggungnya nabrak ujung meja kaca sampe luka lumayan dalem. Mami sama tante Nina yang bawa Nadir ke rumah sakit." Sam menjelaskan sesuai apa yang dia ingat.


Sembari tangan pria itu meraih ponsel untuk menghubungi maminya.


"Kamu kemana waktu adikmu celaka?" Tanya Gara penasaran.


"Aku nangis histeris."


"Cengeng banget sih!" Cibir Gara.


"Karena aku penyebab Nadir jatuh. Waktu itu umurku masih sekitar 6 tahunan kalo gak salah. Nadir terus gangguin aku main, karena kesel di gangguin terus, ku dorong aja Nadir waktu itu tanpa mikir apapun."


"Cih! Jadi saudara kok jahat banget. Gak ada sayang-sayangnya sama adek." Gara kembali mencibir Sam.

__ADS_1


Sam yang hendak menjawab kalimat Gara terhenti karena sambungan telepon video dengan maminya sudah terhubung.


"Halo, Mami." Sam menyapa sang mami dair ponselnya sembari tersenyum.


"Halo, Sayang. Kamu masih di kantor, ya?"


"Iya, Mi. Ada tamu tak di undang dateng."


Sam mengarahkan ponselnya pada Gara.


"Halo, Tante. Apa kabar?" Sapa Gara ramah.


"Halo juga, Ga. Kabar Tante baik, kamu sendiri gimana?"


"Sehat banget, Tante."


"Tante denger dari Sam, kamu udah nikah, ya? Selamat ya, Ga. Maaf banget, Tante gak bisa dateng ke acara kamu."


"Gak papa, Tante. Santai aja."


"Dimana istri kamu sekarang? Apa dia ada di sana?"


"Ini istriku, Tante. Namanya Nadira Anjani."


Gara mengarahkan ponsel milik Sam je arah sang istri.


Seketika ekspresi wajah wanita di layar ponsel itu berubah sangat serius.


"Halo, Tante."


Dira menyapa maminya Sam dengan gugup dan hati yang bergemuruh. Wajah tua yang masih terlihat cantik itu sungguh membuat Dira tak kuasa.


Fitur wajah yang hampir sam dengan dirinya, meski hanya melihat dari layar ponsel. Dira merasa sedang berkaca saja, hanya beda sedikit saja dari wajah mereka.


Yaitu kerutan yang nampak mulai terlihat di wajah maminya Sam.


"Siapa nama kamu, Nak?" suara wanita di seberang sana terdengar lirih.


"Nadira Anjani."


"A-apa?" Nampak raut kaget yang sangat jelas di wajah itu.


"Bisa Mami pulang ke Indo? Sam rasa kita perlu bicara langsung supaya apa yang Mami pikirkan bisa terbukti."


Sam yang sudah mengambil ponselnya kembali langsung meminta maminya untuk segera pulang.


Sam sendiri tidak tega kala melihat istri temannya meneteskan air mata.

__ADS_1


Gara mendekap erat tubuh Dira yang bergetar karena tangisannya. Sungguh sebuah kejutan yang tak terduga. Selama ini yang Dira tahu, dirinya seorang yatim piatu.


Ibunya meninggal saat ia berusia dua tahun, dan ayahnya meninggal saat ia baru kelas dua SMA.


Berjuang keras menghidupi diri sendiri, kesepian dan tak memiliki banyak waktu untuk bersantai. Apa lagi sekedar bermanja pada orang tua layaknya anak seusianya.


Hidup Dira benar-benar tak mudah bahkan sejak berusia tiga tahun saat ayahnya menikah lagi dengan seorang janda satu anak.


Meski ayahnya sangat menyayanginya, tapi ibu tirinya selalu mencari celah untuk menyakitinya saat sang ayah tak di rumah.


Kini ia mendengar seseorang mengaku sebagai saudara kandungnya. Bahkan tahu jika ia memiliki tanda di mata dan bekas luka di punggung.


Sam menatap Dira yang menangis di pelukan Gara. Hatinya terasa sakit melihat kesedihan wanita yang di yakininya jika itu adik kandungnya.


"Ga! Boleh gak kalo misalnya aku sama istri kamu tes DNA? Aku gak sabar kalo harus nunggu mami sama papiku dateng."


Sam mengutarakan niatan hatinya pada Gara. Sebagai wanita bersuami, tentu Sam harus meminta ijin pada suami wanita itu lebih dulu. Meski hatinya sangat meyakini kalau Dira adiknya.


"Kamu mau, Sayang?" Tanya Gata pada Dira yang sedang menormalkan napasnya akibat menangis tadi.


Dira hanya mengangguk saja, ia juga penasaran dengan pria di hadapannya. Apa lagi wanita yang mirip dengannya tadi.


"Boleh minta rambut istri kamu, Ga?" Pinta Sam.


"Enak aja minta rambut! Memangnya kamu gak punya rambut sendiri apa?" Sensi Gara menatap galak pada temannya.


"Kamu kok malah semakin eror sih, Ga? Sehelai aja rambut istri kamu, supaya nanti ku bawa kerumah sakit buat di tes. Gimana mau tes DNA kalo kamu gak kasih rambutnya?"


"Bilang dari tadi kalo minta sehelai buat di tes. Kamu ngomongnya minta rambut doang, aku mikirnya kan jadi lain."


"Memang dasar kamu gak pernah berpikiran baik kalo sama aku. Lagian untuk apa semua rambutnya ku minta? Kalo dia memang adik kandungku, gimana? Jadi jelek nanti adikku kalo rambutnya habis."


"Makanya kalo ngomong itu di perjelas, jadi gak ada yang salah paham."


Gara terus mengajak Sam beradu mulut, kebiasaan mereka sejak dulu. Adu mulut masalah sepele menjadi cara mereka berkomunikasi.


"Ini, Mas!" Dira menyerahkan sehelai rambutnya yang baru saja ia cabut.


Sam menghentikan keributannya dengan Gara. Menatap wanita cantik di depannya yang begitu mirip sang mami ketika muda.


"Mas, sangat berharap kalo kamu memang adik kecil, Mas." Sam menatap Dira penuh harap.


"Semoga, Mas."


"Udah, udah, udah, kami mau pulang dulu. Udah semakin sore ini. Nanti kalo hasilnya udah keluar telpon aku," ucap Gara.


Gara yang merasa sedikit cemburu melihat interaksi antara Sam dan istrinya langsung menyela.

__ADS_1


"Iya," sahut Sam kesal dengan sikap Gara yang posesif menurutnya.


Gara merangkul bahu Dira dan membawa istrinya pergi dari ruangan Sam.


__ADS_2