
"Memangnya kamu siapa sampe berani mecat aku, hah? Kamu cuma staf biasa di sini, jadi jangan sok mau pecat aku." Marah Ika tidak terima dengan apa yang di ucapkan Dira.
"Apa dia menjalani masa percobaan sebelumnya?" Tanya Dira pada staf di sana sembari melirik Ika yang sudah mendekat kembali padanya.
"Tidak, Nona. Dia lewat jalur orang dalam, jadi langsung debut untuk jadi model."
Dira mengangguk paham dengan apa yang di katalan wanita di depannya.
"Heh, aku bakalan kasih tahu sepupu aku untuk pecat kamu dan kalian semua." Ika mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seseorang yang di sebutnya sepupu.
Tak berapa lama setelah Ika selesai menelpon, datanglah seorang wanita yang memasang wajah sombong dan marah ke dalam tempat foto.
"Kak, lihatlah mereka! Menindasku dan bahkan ingin memecatku dari sini. Bahkan tempat foto yang mereka berikan sangat jelek." Ika mengadukan semuanya pada wanita yang baru saja datang.
"Siapa yang berani menindas kamu? Dan siapa penanggung jawab foto kali ini?" Tanya wanita itu angkuh.
"Saya yang bertanggung jawab atas foto kali ini dan semua set yang ada. Manager Vita, untuk seorang pemula seperti wanita ini, sudah peraturna perusahaan memberikannya pekerjaan dari terendah dulu sebelum mendapatkan yang lebih baik. Apa lagi wanita ini tida menjalani masa percobaan, bos akan ..."
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi pria yang abru saja bicara. Hingga ucapannya selesai sebelum terucap seluruhnya.
"Siapa kamu berani mengaturku? Aku Manager di sini, dan aku berkuasa atas apa yang berada di bawah kekuasaanku. Kalian semua adalah orang-orang di bawah kekuasaanku. Berani sekali kalian menindas adikku. Apa kalian sudah bosan bekerja di sini?" Marah wanita bernama Vita yabg merupakan seorang Manager utama para model.
"Kalau kalian tidak bisa bekerja menuruti perintah ku, lebih baik pergi dari perusahaan ini. Karena perusahaan tidak butuh orang-orang yang tidak patuh seperti kalian semua." Lanjutnya masih marah-marah.
"Hanya seorang Manager, kamu sanggup memecat orang sebanyak ini demi adikmu. Kamu tega membuat banyak orang kehilangan pekerjaan hanya demi satu orang." Dira menatap datar Vita.
Vita balas menatap sinis pada Dira.
"Memangnya kenapa? Aku yang berkuasa atas tim tidak berguna ini. Ingin memecat atau mempekerjakan mereka, itu hak ku dan kamu juga tidak di terima lagi bekerja di sini." Tunjuknya pada Dira.
"Kalau begitu kemasi barang-barangmu dan pergi dari perusahaan ini bersama adikmu itu. Karena perusahaan tidak membutuhkan orang yang tidak berguna seperti kalian." Dira balik menatap sinis pada dua wanita di depannya.
Vita dan Ika menatap remeh pada Dira yang sudah berani memecat mereka berdua.
__ADS_1
"Memangnya kamu siapa berani memecat kami? Kamu hanya staf biasa dan tidak memiliki kekuasaan apapun di sini. Pergi dari sini sekarnag juga sebelum aku menuntutmu karena sudah menyebabkan kerugian besar pada perusahaan. Akibat menunda sesi foto hingga membuang banyak waktu."
Vita menatap Dira dari atas hingga bawah.
"Pakaian tiruan saja di pakai-pakai, apa ingin pamer dengan pakaian palsu itu kalau kamu orang kaya?" Ejek Vita.
"Kaya apanya? Dia itu hanya orang kampung yang bekerja di warung makan biasa, Kak." Ika ikut mengejek Dira.
"Oh, sebelumnya hanya bekerja di warung. Pantas sangat norak dan kuno, sampai tidak bisa mengetahui kedudukan berkuasa orang lain." Vita dan Ika tertawa bersama.
"Sekalipun Anda seorang Manager, tidak seharusnya menghina orang lain, Bu Vita. Apa Anda tidak tahu kalau Nona ini adalah istrinya tuan Gara?" Salah seorang staf yang mengenali Dira karena pernah melihatnya bersama Gara angkat suara.
Tentu wanita itu berani mengatakan seperti itu, karena tak pernah melihat atasannya membawa wanita ke perusahaan dengan bergandeng mesra. Apa lagi hubungan Gara dan Intan sebelumnya tak pernah terekpos.
"Apa? Dia istrinya, pak Gara? Mata kamu sakit, ya?" Vita tertawa mendengar ucapan staf itu karena tak percaya. Vita memang tak datang ke acara pernikahan Gara karena sedang pergi saat itu.
Tapi dari beberapa foto yang tersebar di media, dengan Dira yang berada di hadapannya sangat berbeda jauh. Meski harus di akui Vita kalau Dira sangat cantik. Tapi tetap ada perbedaan dari kedua wajah itu.
"Istri pak Gara itu sangat cantik dan berkelas, anak angkatnya pak Madi. Pamannya pak Gara, sedangkan dia hanya pelayan warung jelak yang kampungan." Ika ikut tertawa bersama Vita dengan bahagianya.
Dira sengaja meloudspeker panggilan dari Gara saat pria itu menelpon. Karena terlalu malas meladeni kedua wanita di depannya. Dira cari cara cepat saja membungkam orang-orang sombong itu.
Apa lagi suara itu cukup familiar bagi mereka.
"Di lantai 3, ruangan foto majalah untuk model pemula." Dira menatap Vita yang juga menatapnya dengan alis bertaut.
"Astaga, Sayang. Mas, udah cari kamu kemana-mana, tahunya malah di sana. Tunggu di sana kangan kemana-mana lagi, ya! Mas, ke sana sekarang."
"Iya, cepat ya, Mas. Soalnya ada sesuatu yang luar biasa di sini." Dira tersenyum sini pada Vita.
"Iya, iya." Panggilan berakhir karena Gara mematikan panggilannya. Pria itu ingin segera bertemu dengan istrinya yang sudah di cari hingga ke lantai atas.
"Nelpon siapa kamu? Jangan harap ada orang yang bisa bantu kamu lepas dari masalah ini. Karena perusahaan ini tidak sembarangan orang bisa ikut campur." Vita masih saja menyangkal kalau suara tadi adalah atasannya.
Apa lagi Gara yang memang jarang datang ke agensi dan berkomunikasi dengan mereka. Suara Wawan lah yang paling di kenalnya, karena ia juga menaruh pada pria beristri itu.
__ADS_1
"Hah ... Susah memang kalau harus menjelaskan pada orang berkuasa. Eh, sok berkuasa." Dira tersenyum ramah pada Vita dan Ika.
Tapi bagi kedua wanita itu, senyuman Dira malah lebih terlihat seperti mengejek mereka.
"Jangan sombong kamu, simpanan saja banyak gaya. Tunggu sampe aku tahu siapa laki-laki itu, hidup kamu bakalan habis di tangan istrinya." Ika menakut-nakuti Dira yang sama sekali tak perduli.
Apalagi Dira telah melihat kedatangan suaminya yang baru masuk pintu.
"Siapa yang bakalan di habisi? Istri siapa yang kalian maksud?" Tanya Gara mendekati Dira.
Semua orang menunduk hormat sejenak melihat ke datangan Gara dan Wawan. Kedua atasan mereka yang sangat di segani.
"Tuan Gara, Pak Wawan." Vita tersenyum manis melihat kedatangan kedua pria tampan itu.
Vita langsung memperbaiki penampilannya dan mendekati kedua pria itu.
"Ada apa ini? Kenapa kalian tidak bekerja?" Wawan menatap seluruh staf yang hanya diam berdiri mengelilingi orang yang menjadi pusat perhatian.
"Wanita itu menolak melakukan foto karena set nya yang sederhana, Pak. Manager Vita, memarahi kami karena itu dan mengancam akan memecat kami." Seorang wanita berkata jujur memberitahu.
Vita menatap tajam wanita itu agar diam, hingga membuat wanita itu menunduk takut.
"Sayang, kenapa kamu bisa di sini? Apa yang terjadi sebenernya?" Gara memeluk Dira mesra yang cukup mengejutkan orang-orang di sana.
"Manager kamu itu, dia gunakan kekuasaannya untuk masukkan model baru tanpa pelatihan. Bahkan ingin memberikan pemotretan yang mewah. Yang lebih kejam lagi, dia mau pecat kami semua, SUAMIKU." Dira menekankan kata suamiku pada Gara.
Agar Vita dan Ika tahu kalau ia memang istri dari Gara. Bukan seorang simpanan seperti yang mereka katakan.
"Manager itu juga bilang kalo aku simpenan laki-laki beristri." Wajah Dira di buat sendu dan sedih, seolah-olah dia sangat tersakiti.
"Apa? Benari sekali kamu menghina istriku?" Marah Gara berteriak menatap Vita yang langsung gemetar ketakutan.
"Is-istri ... Jadi dia benar-benar istri, Tuan Gara?" Shok Vita sembari menunjuk Dira.
"Wan, bereskan hama-hama ini." Gara menggedong Dira ala bridal sembari pergi.
__ADS_1
Dira menatap Vita dan Ika mengejek saat melewati kedua wanita yang sedang shok itu.