
Wawan menatap tajam Vita dan Ika bergantian, baru saja satu masalah selesai. Kini datang masalah lain, dan ini malah menyinggung kesayangan dari atasan mereka pula.
"Kemasi barang-barangmu atau kamu menjadi karyawan biasa." Wawan memberikan pilihan pada Vita.
"Tapi, Tuan ... Saya tidak salah apa-apa. Tadi itu hanya salah paham saja." Vita yang di beri pilihan sulit itu mencari alasan.
"Bagaimana dengannya?" Wawna menatap Ika yang sedang menempel pada lengan Vita.
"Saya ... Saya tidak mengenalnya, Tuan." Vita melepaskan pegangan Ika dari lengannya dan bergeser menjauh.
Mendengar dirinya tak di akui oleh Vita dan ingin mencari aman sendiri. Ika tak mengatakan saja semua yang ia ketahui. Dari pada menanggung semua akibat seorang diri.
"Kakak, kok ngomong gitu sih? Bukannya Kakak yang nawarin aku untuk jadi model majalan terkenal? Bahkan Kaka juga janjikan semua fasilitas terbaik dari perusahaan untukku. Kakak, juga bilang kemarin kalo Kaka itu pacarnya wakil Direktur agensi ini."
Vita melotot pada Ika yang sudah berani mengatakan semua hal yang di banggakan Vita ketika datang ke rumah Ika menawari sepupunya kerjaan.
"Kemasi barangmu sekarang juga." Wawan menatap tajam dan tak suka pada Vita yang semakin ketakutan.
"Maafkan saya, Tuan. Apa yang di ucapkan Ika tidak benar. Saya tidak pernah mengatakan hal seperti itu." Vita ingin memegang tangan Wawan.
Tetapi pria itu sudah lebih dulu menarik tangannya.
"Bahas itu antara kalian saja, sekarang pergi dari perusahaan. Kami tidak membutuhkan orang tukang bual seperti dirimu."
Wawan melangkah pergi dari ruangan itu, meninggalkan Vita yang menangis sedih karena di pecat.
"Tuan Wawan, sudah memiliki istri dan anak. Jadi jangan menghalu terlalu tinggi, apa lagi sampai jadi pelakor." Agi mengingatkan Vita sebelum pergi juga menyusul tuannya.
Vita menangis sedih sembari berjalan ke ruangannya. Ia tak menyangka kalau karirnya yang baru saja naik harus jatuh, bahkan berakhir begitu cepat.
Dira dan Gara memilih untuk pergi saja dari perusahaan itu. Gara tak ingin istrinya sampai mendapatkan hinaan lagi seperti tadi.
Gara takut kalau batin istrinya kembali terguncang karena mendapat hinaan dari orang-orang.
Padahal Dira sendiri santai-santai saja, ia hanya selalu berusaha rileks dan tenang dalam menghadapi sesuatu. Tentunya Dira juga tak mau terus di hantui oleh masa lalu dan tekanan batin.
"Kita mau kemana, Mas?" Tanya Dira saat mobil sudah melaju.
Gara membawa supir agar ia bisa duduk berdekatan dengan istrinya.
"Ke rumah yang baru kita beli, Reno sudah menunggu di sana untuk tanda tangan surat-suratnya. Ada Sam, juga di sana." Gara melirik ke arah Dira.
"Apa kedua orang tuanya juga ikut?" Tanya Dira santai yang membuat Gara bernapas lega.
__ADS_1
Sepertinya perkiraan Dokter salah, batin Gara.
Pria itu tersenyum sembari mengecup kening istrinya.
"Kita ketemu Sam, untuk masalah renovasi rumah. Tapi kalo kamu mau ketemu sama orang tuanya Sam, kita bisa ke rumah mereka." Tawar Gara.
"Apa mereka beneran orang tua aku ya, Mas?" Dira masih merasa ragu.
Ia takut berharap terlalu banyak, namun hasil yang di dapatkan tidak sesuai harapannya.
"Sudah pasti mereka itu keluarga kandung kamu. Ciri fisik seseorang mungkin bisa berubah seiring bertambahnya usia. Tapi ciri khas bawaan lahir gak akan sama setiap orang, dan kemiripan karena keturunan juga berbeda."
"Apa kayak tanda hitam di bagian bawah bola mataku? Sama warna mataku juga, Mas?"
"Bisa jadi, karena gak banyak orang yang punya warna mata cokelat cerah untuk orang Indo. Apa lagi bekas luka kamu ini." Gara menyentuh bahu Dira.
"Kok bisa ya, Mas. Bekas lukanya gak hilang walau udah bertahun-tahun."
"Gak semua bekas luka bisa hilang meski bertahun-tahun. Ada yang permanen dan jadi tanda seseorang juga. Bisa jadi ciri khas orang yang punya luka juga kalau bekasnya udah permanen."
"Kayak bekas luka ku ya, Mas? Sampe temen Mas itu tahu kalau aku punya bekas luka di bahu."
"Itu karena dia menebak kalo kamu adik kandungnya yang hilang. Untuk lebih meyakinkan dirinya, dia tanya tentang bekas luka itu. Karena kamu punya, ya dia minta lakukan tes DNA, walau udah nebak."
Dira menghela napas panjamg lalu menya darkan kepalanya di pundak Gara.
Setibanya di rumah yang mereka tuju, Dira dan Gara turun bersamaan.
Reno mendekati Gara dan mengarahkan tuannya untuk masuk. Di dalam tansaksi terjadi, sekaligus penanda tanganan surat-surat rumah.
Setelah selesai, Reno dan orang-orang yang bersangkutan pergi meninggalkan rumah mewah itu.
"Kok, Reno pergi? Apa dia gak temenin Mas lagi?" Tanya Dira heran melihat kepergian Reno.
"Selama seminggu ke depan, dia jadi Sekretarisnya papa. Karena papa yang gantiin Mas di perusahaan," jawab Gara.
"Memangnya kenapa, Mas? Apa ada masalah besar yang mengharuskan papa turun ke perusahaan?"
"Gak, papa cuma bilang kalau Mas harus punya lebih banyak waktu sama kamu. Supaya papa cepet punya cucu." Gara terkekeh saat Dira memukul pelan lengannya.
"Modus kamu, Mas. Itu memang maunya kamu aja supaya gak kerja."
Dira berjalan menuju halaman depan dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
__ADS_1
"Itu bukan modus, Sayang. Tapi cari kesempatan selagi ada yang gantiin." Gara mengikuti langkah istrinya.
"Sama aja, Mas."
Gara memeluk istrinya sayang.
Tak lama sebuah mobil masuk ke dalam lingkungan rumah.
"Hey! Kalian di situ rupanya." Sam yang sudah keluar dari mobil berjalan mendekati Dira dan Gara.
"Lama banget kamu. Minta alamat sejak 2 jam lalu, datang baru 3 jam kemudian."
Sam tidak memperdulikan ocehan Gara dan memilih mendekati Dira yang masih duduk menatap kedatangannya.
Sam dengan perasaan haru dan bahagianya duduk di samping Dira sembari memeluk istri Gara itu.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan istriku." Gara kesal menatap Sam yang mengacuhkannya dan malah memeluk istrinya.
"Adikku. Kamu memang adik kandungku." Sam menangis haru.
Gara menghentikan gerakannya yang hendak melepaskan pelukan Sam.
"Benarkah aku adik kandung, Mas Sam?" Tanya Dira untuk meyakinkan harapannya.
Sam melepaskan pelukannya lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan amplop dari sana.
"Ini ... Ini surat dari Dokter. Hasil tesnya udah keluar, dan hasilnya kamu memang adik kandungku."
Sam menunjukkan kertas yang mengatakan kalau Dira memang adik kandung Sam.
Dira berdiri dari duduknya dengan wajah tak percaya. Bahkan kertas di tangan Sam di rampasnya begitu saja untuk di lihat dengan cermat.
"Ini ... Sungguhan? Aku ... Aku masih punya keluarga kandung." Air mata Dira mengalir seiring dengan kebahagiaan hatinya yang tak terkira.
"Iya, kamu adik kamu, Mas." Dira memeluk Sam dengan penuh haru.
Sam membalas pelukan Dira tak kalah bahagianya. Meski semalam ia sangat menyesal dengan apa yang di lakukannya. Tapi kini ia sangat bersyukur karena Dira menerima dirinya.
"Sudah cukup, inget istri di rumah." Gara menisahkan pelukan Sam dan Dira.
Gara tidak rela istrinya di peluk lama-lama oleh Sam.
"Dia adikku, Ga. Kami udah lama gak ketemu, pelit banget." Sam kesal dengan apa yang Gara lakukan.
__ADS_1
"Dia istriku, cuma aku yang boleh peluk lama-lama."
Sam mendengus kesal dengan ucapan Gara, sejak dulu temannya itu tak pernah mau mengalah padanya.