Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Bab 57.


__ADS_3

Semua orang terpelongo mendengar permintaan Dira yang sangat aneh bagi mereka. Bahkan ada beberapa orang yang menganggapnya bodoh karena ingin melepaskan beasiswanya.


Para Dosen tak kalah heran juga dengan keputusan Dira. Sedangkan keluarga besar Dira sendiri tetap diam memperhatikan, apa yang ingin di lakukan Dira.


"Bisa beri kami alasan dari permintaan kamu tadi, Nak?" Tanya salah satu Dosen.


"Sebenarnya ... Saya takut di luar negeri sendirian, Pak. Selain itu, saya baru saja bertemu dengan keluarga kandung saya setelah sangat lama berpisah. Saya tidak mau berpisah lagi dengan mereka. Ya, walaupun itu terdengar sederhana sebagai alasan. Namun bagi saya pribadi, keluarga saya lebih penting dari pada keluar negeri dan harus berpisah kembali."


Dira tersenyum tipis pada para Dosennya dan juga Fira yang menatapnya tak percaya. Sebenaenya Dira juga sangat ingin belajar ke luar negeri.


Namun jika mengingat Fira yang juga berjuang keras demi beasiswa yang saat ini di dapatkannya. Dira merasa kalau lebih baik Fira saja yang pergi. Apa lagi saat ini kehidupan Dura sudah lebih baik.


Jika dia ingin kuliha di luar negeri bagian manapun. Sang suami pasti akan mampu mewujudkan impiannya. Atau mungkin orang tua kandungnya. Bahkan uang Dira sendiri pun sudah cukup jika ingin kuliah ke luar negeri.


"Baiklah kalau memang kamu ikhlas, Nak. Bapak, sangat tersanjung dengan alasan kamu. Walau pendidikan juga penting, namun jika kasusnya seperti kamu yang baru bertemu orang tua. Bapak, bisa memahami perasana kamu."


Seorang Dekan tertinggi di kampus itu menepuk pundak Dira sembari tersenyum.


Akhirnya beasiswa di alihkan ke Fira sebagai penerimanya. Dira tersenyum bahagia melihat betapa bahagianya Fira yang sampai meneteskan air mata.


Setelah acara wisuda selesai, semua orang bubar dan kembali pulang. Ada pula yang masih berfoto-foto di sekitar kampus dan area wisuda untuk mengambil momen.


Dira di sambut pelukan hangat dari seluruh keluarganya.


"Nenek, sangat bangga sama kamu sayang. Nenek juga udah bisa nebak apa sebenarnya alasan kamu melepaskan beasiswa itu," ucap nenek Ira memeluk Dira.


"Mungkin itu memang rezekinya dia, Nek." Dira tersenyum membalas pelukan nenek Ira.


"Mami, gak sangka kamu memiliki hati yang sangat mulia anakku. Betapa beruntungnya Mami memiliki anak seperti kamu." Mami Hera mencium kening Dira lalu memeluknya.


"Aku yang lebih bahagia memiliki dia sebagai istri, Mi." Gara menepuk dadanya bangga pada dirinya sendiri.


"Ck, kalau bukan nenek yang jodoh kan, Mas mungkin masih sama nenek lampir itu." Mega yang sudah tiba mengejek Gara.


"Itu namanya takdir melalui uluran tangan nenek," ucap Gara tak mau kalah.


"Tetap saja itu ada campur tangan nenek, Mas." Eva ikutan mengejek Gara.

__ADS_1


"Awas kamu, ya! Mas gak mau kasih uang lagi," ancam Gara.


"Aku bisa minta nenek, blek." Eva menjulutkan lidahnya pada Gara.


Pria itu mendengus kesal karena adik-adiknya malah mengejek dirinya. Untung saja Sam dan Gilang tidak ada di sana. Kalau kedua orang itu ada, sudah bisa di pastikan dirinya akan menjadi bulan-bulanan bahan ejekan.


"Kamu yang terbaik, Mas." Dira memeluk suaminya yang sedang kesal setelah melepaskan pelukan mama mertuanya.


Gara tersenyum penuh kemenangan dan kebahagiaan saat mendapatkan pujian dari sang istri. Gara membalas pelukan istrinya tak kalah bahagia.


"Ucapan kalia gak ada yang berguna kalau istriku udah kasih aku pujian." Senang Gara tersenyum.


"Bucin." Kompak Mega dan Eva bersamaan.


Mereka berfoto bersama untuk membuat kenangan di hari bersejarah bagi Dira. Setelah sesi berfoto selesai, mereka berjalan keluar menuju parkiran.


"Mas, aku mau kekamar mandi dulu." Gara melihat istrinya yang berhenti melangkah.


"Ayo, Mas temani kamu." Mata Dira melotot kaget. "Gak usah, Mas. Di sana pasti banyak perempuan," tolak Dira.


"Tapi, Mas ..."


"Sudahlah, ayo." Gara menarik pelan tangan istrinya.


"Kemana arahnya?" Tanya pria itu.


Dira mengarahkan tangannya menunjuk arah yang di tanya suaminya. Keduanya berjalan bersama dengan bergandengan tangan.


Namun saat di lorong-lorong kampus menuju kamar mandi. Bam yang melihat keberadana Dira langsung mencegah, bahkan memegang tangan Dira untuk di bawanya pergi.


"Apa yang kamu lakukan?"


Gara yang menyadari istrinya di tarik seseorang segera menahan. Bahkan melepaskan pegangan tangan Bam yang cukup kuat di pergelangan tangan Dira.


"Aku mau ngomong sama Dira, kamu gak usah ikut campur," ucap Bam menatap tak suka pada Gara.


"Siapa kamu berani melarang aku? Kalau memang ada yang mau di omongin, silahkan. Waktumu 3 detik," kata Gara pula.

__ADS_1


Bam menatap tajam Gara dan semakin tak bersahabat saja.


"Kamu gak berhak memberi waktu padaku untuk nomong sama, Dira. Aku ini pacarnya, jadi behak untuk ngomong. Kamu yang siapa berani pegang-pegang pacarku?"


Kedua mata Dira melotot menatap Bam yang sembangan bicara. Gara juga tak kalah kaget dan melototnya mendengar ucapan pemuda di depannya.


Baru saja Gara akan bersuara, Dira sudah lebih dulu marah pada Bam.


"Sejak kapan kita pacaran? Dekat aja gak pernah," ucap Dira marah pada Bam.


"Jadi kamu gak mengakui kedekatan kita selama ini? Kamu juga lupa bagaimana aku mengatakan cinta waktu itu? Kamu milikku Dira, jangan deket-deket sama dia." Bam kembali ingin meraih tangan Dira.


Namun Gara lebih dulu menyembunyikan tubuh istrinya di belakang tubuh besarnya. Pandangan dingin dan marah Gara juga sangat terlihat saat ini.


"Jangan suka mengklaim sesuatu yang bukan milikmu. Antara kita gak pernah ada kedekatan atau hubungan apa-apa. Aku juga gak pernah nerima pernyataan apapun dari kamu. Jadi berhenti gangguin aku."


Dira sudah cukup jengah dengan Bam yang selalu saja mengusiknya selama ini di kampus. Kini Dira bicara tegas dan penuh keyakinan agar Bam tak lagi mengejarnya.


"Tapi suka kamu, Dir. Aku cinta sama ka ..."


Bugh


Ucapan Bam terhenti dan berganti tubuhnya yang terjatuh ke tanah akibat tinju keras dari Gara. Bam kaget dengan serangan tiba-tiba dari pria yang melindungi Dira.


Suami mana yang tak akan marah saat di hadapannya ada seorang pria yang terus mendesak istrinya. Bahkan menyatakan cinta setelah di beri penjelasan akan penolakan.


"Ayo, Mas! Aku udah gak tahan," ucap Dira pelan sembari menahan tangan Gara yang hendak memukul Bam kembali.


Wanita itu tak ingin sang suami mengotori tangannya hanya untuk memukuli Bam.


"Jangan ganggu istriku lagi, dan jangan suka mengakui hal yang gak pernah terjadi. Kesabaranku begitu tipis, hidupmu bisa ku hancurkan dalam sekejab kalau kesabaranku habis," ucap Gara tegas dan tajam menatap Bam.


Gara memeluk erat pinggan Dira dan berjalan lagi menuju toilet. Meninggalkan Bam yang duduk di lantai marmer dingin itu.


Bam sangat shok mendengar ucapan Gara mengenai Dira sebagai istrinya. Selama ini saja dirinya begitu sulit mendekati dan mendapatkan perhatian dari Dira.


"Kenapa dia bisa jadi suami, Dira? Kapan mereka menikah? Kenapa wajah pria tadi gak asing bagiku?" Bam bergumam sendiri.

__ADS_1


__ADS_2