
Gara mendekati sang istri yang duduk santai di kursi selonjoran tak jauh dari pantai. Masih di terasan samping vila yang menghadap ke pantai langsung.
Dira duduk di sana di temani segelas jus dan potongan buah juga kue yang di siapkan oleh pelayan di vila yang merupakan istri si pengurus vila.
"Istriku ..." panggil Gara lirih.
"Maafin, Mas mu ini ya."
"Mas gak serius kok ngomong yang tadi. Cuma bercanda aja, maaf ya."
Gara menatap Dira dengan wajah serius meminta maaf. Tapi apalah daya jika yang sejak tadi di ajak bicara sama sekali tak merespon.
Dira masih duduk santai menikmati pemandangan pantai dan laut yang indah di siang menjelang sore. Sesekali Dira memakan potongan buah dan kue serta jusnya.
Huhh
Gara menghela napas karena segala ucapannya tak di hiraukan Dira. Sepertinya kali ini ia harus berjuang lebih keras lagi mendapatkan maaf dari istrinya.
Dira melirik Gara di kursi samping yang nampak duduk dengan kedua tangan di rentangkan layaknya orang pasrah. Memang pasrah karena tak bisa meluluhkan kemarahan istrinya.
Tring..
Ponsel Gara berbunyi, pria itu merogoh saku celana pendeknya. Kening pria itu berkerut dalam, bahkan pandangannya jadi sangat fokus seketika.
Dira merasa ada yang aneh dengan raut wajah suaminya. Tapi ia tidak mau ambil pusing dan memilih memejamkan mata menikmati semilir angin yang berhembus menerpa dirinya.
Di kota Dira tidak akan bisa mendapatkan suasana sejuk seperti di tempat itu. Hanya cuaca yang terasa semakin panas yang selalu dia dapatkan jika tidak sedang musim hujan.
Sedangkan Gara menerima telpon dari asistennya, Reno.
"Apa yang terjadi di sana?"
"Pacar bos buat masalah, bahkan dia gak mau dateng ke konferensi yang di gelar pak Wawan. Dia membantah pengaturan agensi dan malah pergi menemui orang-orang yang terkait di video itu."
Reno menjelaskan secara singkat apa yang terjadi.
Sedangkan Gara melirik ke arah istrinya dulu sebelum menjawab. Setelah di rasa aman kala mendapati Dira tertidur pulas, barulah Gara menjawab.
"Kami udah putus, kalo sekali lagi kamu bilang gitu. Siap-siap bulan depan." Ancam Gara.
"Ampun, Tuan. Gak lagi deh, janji"
Gara mendengus malas kala mendengar panggilannya yang di rubah-rubah oleh Reno. Asisten Gara itu terkadang memanggil Gara tuan, terkadang bos.
"Kemana dia sekarang?"
"Menurut Managernya Intan, dia pergi nemui orang yang terlibat sama dia di video itu, Tuan. Tapi belum bisa ketemu siang ini karena masih kerja. Kemungkinan nanti sore baru mereka ketemuan di salah satu restoran."
__ADS_1
"Bukannya itu orang perusahaan? Bagian resepsionis sama depan lift nya di perusahaan pusat."
"Iya,Tuan. Itu memang di perusahaan pusat. Setelah Tuan dan Nyonya pergi ke bandara siang itu, Intan dateng ke perusahaan menjelang sorenya."
"Apa yang di lakukannya di sana?"
Gara terus berbicara pada Reno di telpon sembari memperhatikan wajah tidur Dira.
"Dia ke perusahaan pusat mencari anda, Tuan. Menurut pihak keamanan yang berkaitan, Intan buat keributan karena gak terima di tegur untuk gak naik lift petinggi. Tapi perempuan itu maksa, sampe akhirnya dia di tarik keluar tapi berhasil kabur."
"Bahkan dia masuk keruangan Tuan. Yang lebih parahnya lagi, di ruangan Tuan ada Tuan Besar yang lagi sidak."
Reno menjelaskan lagi apa yang terjadi.
"Iya, papa memang udah bilang mau mantau perusahaan selama saya pergi. Di mana kamu sama Gilang waktu kejadian itu?"
"Setelah dari bandara, saya pergi menemui beberapa klien kita, Tuan. Sedangkan tuan Gilang lagi pergi rapat. Saya juga tahu masalah itu ke esokan harinya, Tuan.
"Apa rekaman cctv nya masih ada?"
"Yang di file cctv sudah di hapus setelah tuan Wawan memintanya. Tapi saya sudah mengambil salinannya lebih dulu. Tuan, mau lihat gak? Ratu drama di kehidupan nyata beraksi?"
Reno menawarkan rekaman cctv yang ia dapatkan.
"Iya, apa ada lagi yang mau kamu sampaikan?"
"Jangan telpon lagi kalau bukan masalah yang sangat serius. Kalau kalian masih bisa atasi jangan ganggu saya."
"Siap bos"
Gara mengakhiri panggilannya dengan Reno lalu mengantongi lagi ponselnya.
Melihat kearah Dira yang masih tidur nyenyak tanpa terganggu dengan suaranya tadi. Gara ikut menyamankan posisinya di kursi selonjoran dan terus memperhatikan Dira hingga ikut tertidur juga.
Sampai sore tiba, Dira dan Gara baru bangun dari tidur mereka bersamaan. Sadar tertidur di luar ruangan, Dira langsung berdiri dan masuk ke dalam vila membawa piring dan gelas yang di pakainya tadi.
Gara yang melihat istrinya bergegas pergi mengikuti.
Keduanya masuk ke dalam kamar untuk mandi sebelum hari semakin gelap.
"Mau apa?" Kaget Dira kala suaminya ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Mau mandi bareng istri." Enteng Gara yang membuat Dira melotot tak percaya.
"Gak ada mandi bareng, keluar sekarang!" Usir Dura membuka pintu kamar mandi lebar.
Gara mendekati pintu, tali bukan untuk keluar. Melainkan untuk menutup pintu lalu mendekap istrinya.
__ADS_1
"Jangan jutek-jutek istriku, suamimu ini udah ngaku bersalah loh. Bahkan udah minta maaf juga, tapi masih aja gak perduli sama suamimu ini." Gara memasang wajah sedih agar Dira tak mengusirnya.
"Salah kamu sendiri gak tepati omongan."
"Maaf."
Gata mengecup kening Dira lembut lalu turun bibir. Kecupan demi kecupan di berikan Gara pada bibir istrinya.
Gingga akhirnya Gara tak bisa menahan diri lagi di sore hari itu.
Beberapa saat kemudian, keduanya keluar dari kamar mandi dengan ekspresi berbeda.
Jika Gara terlihat lebih cerah, maka Dira terlihat mendung.
"Kalo sekali lagi maksa di kamar mandi, Mas gak akan daper jatah." Ancam Dira.
Tadi perempuan itu sudah sempat menolak melakukan di kamar mandi dan meminta untuk ke kaamar saja. Tapi Gara seakan tuli dan semakin terlena dengan pesona istrinya.
Jadi lah ia harus membujuk istrinya lagi.
"Maaf istriku, Mas suamimu ini udah gak nahan lagi. Habisnya tadi malam gak dapet jatah, padahal Mas udah nahan-nahan banget loh itu. Apa lagi liburan kita ini konsepnya bulan madu, masa bulan madu harus nahan madu." Cengir Gara.
Huh
"Madu, madu, memangnya lebah." Jutek Dira, sedangkan suaminya hanya terkekeh.
Dira membuang muka dari Gara dan duduk di kursi meja rias.
"Sini, biar Mas bantu keringkan rambut kamu." Gara menawarkan dirinya membantu untuk mengurangi kekesalan istrinya.
Dira hanya diam tak menjawab atau menolak. Dia akan menghukum suaminya yang sangat suka membuatnya kesal ini.
"Malam ini kamu mau makan apa?"
"Seafood." Dira menjawab dengan singkat.
"Itu aja?"
"Hm."
"Oke, nanti kita ke restoran seafood paling enak di dekat sini."
"Aku mau yang tempatnya dekat pantai."
"Siap, Nyonya."
Setelah selesai mengeringkan dan menyisir rambut istrinya. Gara segera bersiap karena mereka akan keluar vila.
__ADS_1