
Tak terasa waktu cepat berjalan, kini Dira dan Gara sudah tiba di Jakarta hendak keluar bandara.
Dira masih menempel pada Gara karena masih merasakan perasaan seperti di atas pesawat yang mengudara.
Bahkan langkahnya sedikit berat untuk di bawa berjalan.
Tadinya Gara hendak menggendong Dira karena tak tega melihat keadaan istrinya. Namun apalah daya jika Dira menolak. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian apa lagi bahan gosipan orang-orang.
"Tuan!" Terdengar panggilan dari Reno yang berlari mendekati Gara.
Wajah Reno terlihat panik, bahkan di belakangnya ada banyak pengawal yang mengikuti.
"Kenapa?" Tanya Gara.
Meski sudah tahu jika Reno menyiapkan pengawal pasti ada banyak wartawan yang menunggu di depan. Tapi maksud pertanyaan Gara bukan ke arah itu, tapi situasi yang terjadi.
Meski nama dan fotonya sering menghiasi majalah dan koran serta berita bisnis. Tapi sangat jarang para wartawan mengejarnya. Biasanya para wartawan akan mengejarnya jika ada masalah menarik dari dirinya yang bisa di jadikan berita.
"Kabar tentang kedekatan Tuan dengan Intan tersebar ke media. Tapi hanya berupa wacana saja, para wartawan datang ke sini untuk mewawancarai, Tuan." Bisik Reno agar tak di dengar istri atasannya.
Gara mengangguk mengerti, melepaskan pegangan tangan Dira yang membuat wanita itu mendongak.
"Kenapa?" Tanyanya heran.
"Gak papa, di depan banyak wartawan. Jadi pastikan kamu gak lepaskan pelukan, Mas."
Dira mengangguk dan semakin memeluk Gara, karena dirinya masih merasa kurang baik setelah turun dari pesawat. Apa ini namanya mabuk udara? Pikirnya.
Pasangan suami istri itu berjalan dengan di jaga ketat oleh pengawal. Sedangkan Reno di berdiri di depan Gara untuk melindungi juga. Begitu keduanya keluar dari bandara, sorot kameran dan pertanyaan bermunculan menyerbu.
" Bisa anda jelaskan mengenai berita yang beredar itu, Tuan?"
"Apa benar anda memiliki hubungan dengan artis sekaligus model berinisial I?"
"Apa anda mengencani artis anda sendiri, Tuan?"
"Bagaimana dengan istri anda?"
"Apa pernikahan kalian masih baik-baik saja?"
"Apa istri anda tahu tentang hubungan anda dengan artis itu?"
"Apa anda masih menjalin hubungan dengan artis itu?"
Rentetan pertanyaan demi pertanyaan terus di lontarkan oleh para wartawan itu.
Dira semakin merapatkan tubuhnya pada Gara. Bagaimanapun juga? Dira hanyalah orang awam yang tak pernah tersorot kamera, apa lagi berurusan dengan yang namanya wartawan.
Dira bahkan menyembunyikan wajahnya di dada sang suami sembari terus mengikuti langkah kaki Gara.
Sesampainya di dalam mobil, baulah Dira bisa menghirup napas lega.
"Huh, ngeri banget sih pertanyaan mereka." Keluh Dira.
"Namanya juga pemburu berita," ucap Gara.
__ADS_1
"Memangnya ada apa sih, Mas? Kamu deket sama siapa?" Tanya Dira penasaran.
"Mantan," jawab Gara santai.
"Mantan? Udah jadi mantan kok masih di bahas."
Dira memejamkan matanya lagi karena masih belum pulih sepenuhnya dari efek naik pesawat.
"Makan dulu yuk!" Ajak Gara si gelengi Dira.
"Tapi kamu harus makan."
"Nanti ada Wartawan lagi."
"Ya udah, kita makan di rumah aja."
Dira mengangguk mengiyakan saja. Yang di inginkan perempuan itu saat ini hanya memejamkan mata sejenak.
Sesampainya di rumah nenek Ira, keduanya sudah di sambut oleh yang punya rumah.
"Ya ampun, ya ampun, cucu-cucuku udah pulang. Kok cepet banget pulangnya, Nak?" Wanita tua itu memeluk Dira penuh sayang juga kebahagiaan.
"Selamat kembali pulang, Nak."
"Terimakasih, Nek."
"Ayo masuk."
Nenek Ira hendak membawa Dira seorang diri masuk ke dalam rumah. Sedangkan Gara yang hendak di tinggalkan langsung mengajukan protes.
"Ah iya, maaf. Hampir aja Nenek lupa sama kamu." Kekeh nenek Ira.
Sedangkan Gara hanya bisa menggelengkan kepala saja.
Ketiga orang itu masuk bersamaan, sedangkan koper mereka sedang di turunkan oleh Reno.
"Halo, Kakak ipar."
Dira mengalihkan pandangannya ke arah suara yang di kenalnya.
"Mega?" Kaget Dira.
"Hehehe kangen ya?"
Kedua sahabat itu saling berpelukan bahagia, melepaskan rasa rindu. Apa lagi selama hampir 2 minggu, hanya sekali saat resepsi pernikahan Dira keduanya bertemu.
"Aku kangen kamu." Dira memeluk Mega sembari menggoyangkan badan keduanya ke kanan dan ke kiri.
Layaknya anak kecil yang saling merindu. Bahkan yang tadinya Dira merasa kurang baik, kini sudah sangat membaik.
"Kamu kok bisa ada di sini sih?" Tanya Dira penasaran.
Dira memang belum tahu kalau sebenarnya Mega cucu perempuan nenek Ira. Itu sebabnya keberadaan Mega di rumah nenek Ira menjadi pertanyaannya. Apa lagi pakaian Mega yang sangat santai.
"Aku ini adik ipar kamu." Kening Dira mengkerut mendengarnya.
__ADS_1
"Adik ipar? Apa maksud kamu?" Tanya Dira.
"Papa Madi, yang jadi papa angkat kamu itu. Sebenernya adalah papa kandungku."
Mega tersenyum menatap Dira yang nampaknya masih berpikir keras. Mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
"Papa kandung kamu? Jadi, papa angkat aku itu papa kandung kamu?"
Mega mengangguk mengiyakan.
"Kok bisa?"
"Ya, bisalah. Papa kita sama papa mertua kamu saudara kandung. Tapi papa mertua kamu yang lebih tua." Mega menjelaskan.
Dira mengedipkan kedua matanya cepat, masih memikirkan apa yang tadi di dengarnya.
Papa angkatnya adalah papa kandung Mega. Dan papa mertuanya saudara laki-laki paling tua dari papa angkatnya.
"Jadi kamu sebenernya anak orang kaya? Bukannya dulu kamu bilang, kamu itu gelandangan? Gak punya orang tua, gak punya tujuan."
Dira berucap dengan polos dan tanpa sadar sudah mengatakan semua apa yang di katakan Mega dulu padanya.
Mega yang mendegar ucapan polos Dira hanya bisa nyengir menahan takut. Bagaimana tak takut kalau mamanya sudah melotot menatapnya.
"Oh, jadi gelandangan. Gak punya orang tua dan gak punya tujuan ya?" Mama Rida berucap dengan menggertakkan giginya.
"Ehehehe ... itu, Ma. Cuma bercanda aja kok itu dulu." Mega menggaruk kepalanya.
"Huh, mentang-mentang udah bisa cari duit sendiri. Trus kamu doain Mama sama Papa udah gak ada ya?"
Mama Rida berdiri dari duduknya, kedua tangannya sudah di kepalkan dan saling menggosok sekaan siap memukul.
"Ampun ...." Mega berlari meninggalkan ruang keluarga di mana keluarga dari nenek Ira berkumpul.
"Sini kamu! Dasar anak nakal. Anak kurang ajar, Mama pukul kamu ya?"
Terjadilah aksi saling kejar antara Mama Rida dengan Mega sampai lantai dua di mana kamar Mega berada.
"Keluar Mega! Keluar!" teriak mama Rida marah.
"Gak mau, pukulan Mama sakit." Tolak Mega.
"Gak sakit kok, Nak. Rasanya enak, kayak kamu lagi makan ayam goreng sama orang yang kamu cintai," bujuk mama Rida.
"Bohong ..."
Keributan dari lantai dua itu hanya di tanggapi dengan gelengan orang-orang yang ada di lantai satu ruang tamu.
Dulu setiap kali mereka berkumpul, maka akan selalu ada keributan antara mama Rida dengan Mega. Anak yang paling nakal di keluarga nenek Ira.
"Kok mama Rida marah? Apa aku ada salah ngomong?" Gumam Dira merasa heran.
"Udah biarin aja mereka berdua, sini duduk sama Mama aja."
Mama Ella menarik Dira duduk di sofa sebelahnya. Ia tidak mau menantu perempuan satu-satunya ini ikut terkontaminasi akan tingkah ipar dan keponakannya.
__ADS_1