
Pagi ini Gara kembali membawa istrinya ke kantor, tapi bukan kantor pusat yang saat ini sedang di jalankan oleh papa Rudi sementara.
Dira dan Gara pergi ke agensi artis untuk melihat-lihat saja. Apa lagi setelah kejadian yang sangat menghebohkan minggu lalu. Gara belum sempat datang ke agensi miliknya itu.
"Mas, kenapa nempel terus sih? Memangnya gak capek?" Tanya Dira heran dengan suaminya yang sama sekali tak melepaskan dirinya.
Sejak tadi malam Gara menempel padanya, di setiap kesempatan pria itu pasti akan selalu menempel lagi. Bahkan ketika Dira dan yang lainnya menonton bioskop rumahan.
Gara tetap saja memeluk istrinya tanpa mau lepas.
"Gak, malah enak tahu nempel sama kamu." Gara menatap istrinya menggoda yang malah membjat Dira jengah.
"Jangan mulai, Mas. Memangnya tadi malam belum puas apa? Udah ganggu aku nonton sama yang lain, ganggu aku tidur juga. Masih ngantuk aku nya karena ulah kamu." Gara hanya bisa terkekeh saja menatap wajah kesal Dira.
"Ya maaf, Sayang. Habisnya nagihin sih, Mas gak bisa lepaskan kamu gitu aja lah."
Gara mengeratkan pelukannya di pundak Dira hingga tubuh mereka benar-benar menempel.
"Aroma, aroma pengantin barunya belum hilang ya, Mas?" Wawan datang bersama Sekretarisnya yang mengikut di belakang.
"Sirik aja pengantin lama," sinis Gara pada Wawan yang hanya di tanggapi kekehan.
"Gak ke kantor pusat, Mas?" Tanya Wawan penasaran.
Pasalnya baru kali ini pria yang tidka pernah absen dari kantor itu nampak sangat santai. Bahkan pakaiannya juga cukup santai dengan jeans longgar dan kemeja lengan panjang yang di gulung sampai siku.
Sedangkan Dira memakai gaun selutut dengan lengan sesiku. Panampilan keduanya nampak sangat santai dan serasi.
"Seminggu ini papa yang gantiin." Wawan semakin heran di buatnya, tapi kemudian kembali mengganggu Gara.
"Kak Dira, hati-hati di dekat buaya buntung. Nanti dia terus menerkam gak pake berhenti." Kekeh Wawan menatap Gara mengejek.
__ADS_1
"Enak aja bilang aku buaya buntung, lah kamu kadal busuk." Gara tak mau kalah dengan Wawan membalas ucapan sepupunya.
"Kalo kadal sih gak seganas buaya, Mas. Buaya itu berada di urutan teratas untuk pemangsa di darat, tapi spesialis wanita aja."
Wawan tertawa meski mendapatkan pelototan dari Gara.
"Wah, ngadi-ngadi nih anak. Ngajak ribut memang, untung keadaan masih ramai kalau gak habis kamu." Ancam Gara yang sama sekali tak membuat Wawan takut.
"Uhh ... Takutnya ..." Wawan semakin tertawa karena berhasil membuat Gara kesal.
Mereka berdua tidak sadar kalau Dira sudah pergi meninggalkan keduanya yang masih asik bercanda. Gara baru sadar saat tak lagi merasakan keberadaan sang istri.
"Loh, kemana Dira?" Gara melihat sekitarnya tapi tak menemukan keberadaan sang istri.
"Nyonya, sudah lebih dulu di depan. Bahkan sudah masuk ke dalam lift, Tuan." Agi memberitahu Gara.
"Ck, semua ini ulah kamu." Gara menyalahkan Wawan sebelum akhirnya ia pergi mencari keberadaan istrinya.
Mereka yang sudah pernah melihat Dira bersama Gara sedikit memberi salah sebagai rasa hirmat pada istri atasan. Sedangkan yang belum pernah melihat Dira dengan Gara, hanya berjalan acuh saja dengan kesibukan mereka.
Dira tak pernah mempermasalahkan hal itu, ia tidak gila kehormatan sama sekali. Meski ia sudah menikah dan mengadakan resepsi pernikahan yang mewah dengan Gara.
Tak banyak orang yang mengenalinya dengan dandanan seperti biasa. Karena saat di acara pernikahan Dira memakai make up dengan cantiknya yang membuat orang tak mengenalinya saat sudah tak bermake up.
Samar-samar Dira mendengar suara keributan dari arah kanan. Wanita itu langsung bergegas menuju sumber keributan itu.
"Kenapa set jelek ini harus di berikan padaku? Aku ini calon artis terkenal, harus mendapatkan sesuatu yang sangat bagus." Teriak seorang wanita.
"Tapi kamu masih pemula, belum memiliki banyak kemampuan untuk mendapatkan sesuatu yang baik." Salah seorang pria menjawab.
"Apa kamu bilang? Aku ini anak pengusaha dan pacarku juga pengusaha besar. Kalian bisa saja di pecat dari sini kalau aku mau."
__ADS_1
Dira mengerutkan keningnya mendengar ancaman wanita yang marah-marah itu.
"Maaf, ada apa ini?" Tanya Dira penasaran.
Orang-orang di sana langsung menoleh ke arah Dira. Termasuk wanita yang sejak tadi marah-marah.
"Yo, siapa ini? Bukankah ini Dira si anak kampungan di kampus." Ika menatap rendah pada Dira.
"Ika? Kenapa kamu bisa di sini?" Tanya Dira lagi tanpa memperdulikan hinaan Ika.
"Dia, Atmika Antika. Model baru yang akan mulai debut hari ini, Nyonya. Tapi dia tidak mau foto karena semuanya sederhana." Seorang penata rias yang harusnya merias Ika angkat bicara.
"Atmika Antika?" Dira berpikir sejenak mencoba mengingat nama yang tak asing itu.
Ah, baru wanita itu ingat siapa perempuan di depannya ini. Tentu saja dia saudara tiri Dira yang dulu wajahnya hancur karena kecelakaan. Anak dari ibu tiri Dira yang bengis dan kejam.
"Jadi kamu, Mika. Anaknya ibu Desi dengan bapak Anggoro." Dira mengucapkan dengan penuh penekanan menatap Ika.
"Iya, kenapa? Kamu takut begitu tahu siapa aku yang sebenernya? Belum terlambat untuk dapet maaf dari ku, selama kamu bisa kasih aku yang terbaik di perusahaan ini. Apa lagi kamu kan bekerja di sini, jadi lakukan sesuatu yang berguna untukku." Sombong Ika alias Mika, yang mengira kalau Dira bekerja sebagai staf biasa.
"Kenapa sesederhana ini tempatnya?" Tanya Dira pada si fotografer.
"Ini foto untuk majalah biasa yang mengotrak kerja dengan agensi. Jadi kami tidak mungkin menyiapkan set bagus, kalau anggaran untuk setiap foto hanya sedikit sesuai kontrak." Jelas si fotografer apa adanya.
"Apa? Jadi ini cuma foto untuk majalah biasa? Gak, gak, gak, aku gak mau foto untuk majalah ini. Kalo anggaran untuk set aja murah, gimana sama bayaranku nanti? Bisa-bisa cuma di kasih nasi kotak aja lagi." Ika memasang wajah sinisnya menatap set yang ada.
"Kita hanya butuh gambar kamu saja, bukan sama setnya. Karena nanti mau di edit juga dan cuma gambar kamu yang akan terpampang di majalah tanpa set apapun." Si fotografer memberitahu.
"Gak! Pokoknya aku gak mau foto untuk majalah ini. Aku mau ganti majalah lain aja." Tolak Ika mentah-mentah sembari melangkah hendak pergi.
"Keluarkan dia dari perusahaan kalau tidak mau menuruti peraturan. Di sini hanya butuh orang yang bisa bekerja profesional saja. Tidak perduli bagaimana keadaannya dan bagaimana tempatnya, kita hanya butuh yang profesional." Tegas Dira dengan wajah datarnya yang membuat langkah Ika terhenti.
__ADS_1