Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Di perusahaan GT CORP


__ADS_3

Gara membawa Dira menuju perusahaan utama GT CORP. Gedung yang terlihat lebih tinggi dari gedung sebelumnya.


"Ini perusahaan kamu, Mas?" Tanya Dira menatap kagum bangunan di depannya yang tingginya sungguh membuat leher sakit jika melihatnya keatas terus.


"Bukan punya, Mas. Ini masih punya keluarga, cuma Mas yang jalankan."


"Apa disini Mas punya saham juga?" Dira menatap suaminya penasaran.


"Kenapa kamu tanya itu?" Heran Gara.


"Gak kenapa-kenapa sih? Kemarin aku tanya sama nenek tentang kartu hitam itu. Kata nenek, 5 pun kamu mampu buatin aku kartu itu. Itu artinya usaha Mas bukan cuma di perusahaan entertaiment itu aja."


"Darimana kamu tahu kalo usaha Mas bukan cuma itu aja?"


"Karena kata nenek, kartu itu gak sembarangan orang bisa punya. Bahkan tagihannya pertahun aja mahal, berdolar-dolar."


"Jadi kamu tunjukin kartu itu sama nenek?" Tanya Gara ingin memastikan tebakannya.


"Iya, aku tanya sama nenek tentang kartu itu karena masih penasaran."


"Penasaran kenapa? Mas, udah kasih tahu kamu apa gunanya kartu itu."


"Aku cuma masih belum yakin aja sih, Mas. Maaf, bukan maksud aku gak percaya sama kamu. Tapi selama ini yang aku tahu itu, setiap kartu kredit pasti ada batas limitnya. Sedangkan kartu itu Mas bilang gak ada batas limitnya."


Gara tersenyum tipis sembari geleng kepala mendengar ucapan istrinya.


Setelah sampai di lantai atas, tepatnya di ruangan Gara. Dira menatap kagum ruangan yang nampak lebih luas dan mewah.


"Kamu tunggu Mas sebentar, ya. Ada hal yang harus Mas selesaikan dulu. Nanti kalo udah selesai, baru kita peegi cari rumahnya."


Gara mendudukkan di sofa yang ada di ruangannya.


"Iya, Mas."


Dira duduk manis di sofa lalu meraih ponselnya di dalam tas kecil yang sejak tadi bertengger cantik di pundaknya.


Gara duduk di kursi kerjanya dan mulai mengerjakan beberapa pekerjaan yang ada di mejanya. Sudah banyak pekerjaan yang sudah menumpuk di sana.


Tak lama pintu di ketuk, bersamaan dengan sahutan dari Gara. Masuklah Reno bersama tiga orang di belakangnya. Dua wanita muda dan satu pria yang sudah berumur.


Dira kembali fokus pada ponselnya tanpa perduli dengan apa yang di lakukan suaminya. Jika di perusahaan GT ini, Dira tidak akan ikut campur apapun masalahnya.


Beda hal nya dengan di perusahaan GK LABEL. Karena di sana Dira juga punya tanggung jawab sebagai pemilik saham.


Merasa haus dan sangat ingin minum sesuatu yang dingin. Dira mengangkat pandangannya pada snag suami.


Di lihatnya Gara sedang bicara serius dengan ketiga orang di depannya. Ingin pergi sendiri tapi ia tidak tahu jalan. Ingin memanggil sang suami, sedang sibuk.


"Butuh sesuatu, Sayang?" Tanya Gara yang tak sengaja melihat kegelisahan istrinya.


"Aku haus, Mas."


"Mau minum apa?"


"Hm ... pengen minum sesuatu yang dingin, Mas."


"Jus?"


"Boleh, deh. Jus wortel ya, Mas?"


Pandangan Gara beralih pada telpon kantor di mejanya.


"Pasankan jus wortel, kalau bisa beberapa cemilan juga."


"..."

__ADS_1


"Apa saja, yang penting sehat."


Gara meletakkan telponnya lalu melihat ke arah Dira yang masih setia menatapnya.


"Sebentar ya, Sayang. Sekretaris Mas lagi pergi cariin."


"Iya, Mas." Dira tersenyum sumringah karena keinginanya terpenuhi.


Gara kembali fokus bicara pada ketiga karyawannya setelah Dira bermain ponsel lagi.


Beberapa saat kemudian, ketukan pintu terdengar lagi. Gara mempersilahkan untuk masuk.


Masuklah seorang Sekretaris wanita membawa beberapa kantong kresek di tangannya.


"Ini, Tuan. Pesanan yang Anda minta," ucapnya.


Gara berdiri dari duduknya dan mendekati Sekretaris wanitanya.


"Letakkan di meja," ucapnya.


"Terimakasih." Dira tersenyum ramah pada wanita yang sudah meletakkan bungkusan di meja.


"Sama-sama, Nona."


"Nyonya, bukan Nona," ucap Gara meralat kalimat Sekretarisnya.


"Ah iya, maaf, Nyonya. Maafkan kesalahan saya." Sekretaris wanita itu menunduk takut.


"Tak apa, santai saja. Dira tersenyum manis pada bawahan suaminya itu.


"Pergilah," ucap Gara.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan, Nyonya."


Setelah kepergian Sekretaris wanita itu, pandangan Gara beralih pada tiga orang yang masih ada di ruangan itu juga.


"Baik, Tuan. Kami permisi."


Ketiga orang itu beranjak pergi meninggalkan ruangan atasan mereka. Namun salah satu di antara mereka, menyempatkan diri menatap istri atasannya.


"Permisi, Nyonya." Wanita itu tersenyum pada Dira.


"Silahkan." Dira membalas senyuman itu ramah yang tentu saja hal itu membuat bahagia orang yang menyapanya.


"Ah senangnya, nyonya membalas sapaanku." Pekiknya bahagia saat mereka sudah keluar dari ruangan Gara.


"Kamu beneran sapa, nyonya?" kaget temannya.


"Iya, senyumnya ramah banget. Cantik lagi orangnya."


"Wah, tahu begitu aku tadi menyapa juga."


"Sudahlah, berdoa saja kita masih bisa bertegur sapa dengan nyonya lain kali."


"Iya."


Sedangkan di dalam ruangan Gara, pasangan suami istri itu duduk bersama menikmati pesanan Dira.


Lebih tepatnya Dira sendiri yang minum dan makan cemilan dengan lahap. Gara hanya duduk di sampingnya saja sembari meneruskan pekerjaan.


"Masih banyak kerjaannya, Mas?" Tanya Dira melihat kertas-kertas yang sedang di tekuni Gara.


"Kayak yang kamu lihat. Padahal cuma beberapa hari di tinggal, tapi udah sebanyak ini."


"Apa gak ada yang gantiin kamu, Mas?"

__ADS_1


"Ada, papa juga di sini. Tapi gak semua kerjaan bisa di selesaikan mereka. Ada beberapa kerjaan yang cuma Mas yang bisa kerjakan."


"Kenapa gitu? Apa karena mereka gak bisa ngerjain?"


"Gak juga, mereka bisa ngerjain ini. Cuma memang ini yang paling penting dan harus Mas yang selesaikan."


"Oooo."


Dira diam tak bertanya lagi, meneruskan makan cemilannya dan minuman yang dingin menyegarkan.


Saat jam makan siang barulah keduanya mulai beranjak. Bahkan Reno sudah di dalam ruangan atasannya.


"Bawa sisa kerjaan ke rumah, Ren. Setelah makan siang saya tidak kembali ke kantor lagi."


"Baik, Tuan. Apa Tuan jadi melihat rumah barunya?"


"Iya, lokasinya sudah kamu dapatkan?"


"Sudah, Tuan."


Gara menggandeng Dira keluar dari ruangan menuju lantai bawah.


"Perempuan yang bawa minuman tadi siapa, Mas?" Tanya Dira.


"Sekretaris, Mas. Cuma meja kerjanya yang di depan ruangan tadi."


"Trus, Reno kerjanya sebagai apa?"


"Sekretaris juga, cuma dia multi fungsi." Gara terkekeh kecil.


"Multi fungsi gimana?" Tanya Dira belum paham.


"Sekretaris sekaligus Asisten. Bisa Mas suruh apa aja meski di luar jam kerja."


"Wah, gajinya pasti lebih besar dong dia. Pekerjaannya aja udah dobel."


"Iya, bahkan tripel lagi."


Pasangan muda itu sampai di lobi dan memasuki mobil setelah Reno datang.


Mereka makan siang bersama di salah satu restoran dekat perusahaan GT. Di sana pula banyak para karyawan Gara yang makan siang.


Tapi karena tak punya banyak waktu untuk bersantai. Mereka tak sempat bergosip apa lagi memandangi pasangan muda itu.


Selesai makan siang, Gara membawa Dira untuk melihat rumah yang akan mereka tempati bersama.


"Apa kamu punya rumah idaman untuk keluarga, sayang?" Tanya Gara menatap Dira.


"Rumah idaman, ya? Ada sih, Mas."


"Gimana rumah idaman kamu?"


"Halamannya luas, banyak tanamannya, ada air mancurnya di halaman depan. Trus di halaman belakang ada padang kayak rumputnya gitu sedikit, di tanami pohon juga."


"Kenapa harus ada padang rumputnya?" Penasaran Gara.


"Supaya nanti kalo kita punya anak, bisa bawa mereka main di sana."


Gara tersenyum mendengar ucapan Dira yang sudah memikirkan tentang anak.


"Kalo bangunan rumahnya sendiri gimana?"


"Gimana aja boleh, Mas. Yang penting rumahnya kokoh dan kuat."


"Keinginan Anda akan segera terlaksana, Nyonya."

__ADS_1


Pasangan muda itu terkekeh bersama setelah Gara selesai berucap.


__ADS_2