Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Jalan-jalan di mall


__ADS_3

Setelah perbincangan di ruang keluarga, Dira menyempatkan diri untuk istirahat sejenak di kamar. Ia butuh istirahat juga setelah perjalanan jauh.


"Tidur dulu, nanti sore Mas bangunkan," ucap Gara yang melihat Dira mengantuk.


"Matanya gak mau nutup," kata Dira sembari rebahan.


"Kok bisa?"


"Entah."


"Ya udah, yang penting istirahat dulu. Mas, mau tidur."


Gara merebahkan tubuhnya di samping Dira lalu memejamkan mata. Tak lama kemudian, pria itu tertidur pulas.


Dira melihat ke wajah Gara untuk memastikan apakah suaminya sudah tidur atau belum?


"Mas?"


"Udah tidur rupanya."


Dira menaikkan sedikit suhu ac agar lebih sejuk lagi. Dirinya sendiri meraih ponsel dan melihat-lihat bursa saham.


Tiba-tiba kedua mata Dira membulat saat melihat harga saham salah satu perusahaan menurun. Perusahaan artis terkenal di bawah naungan perusahaan besar yang harga sahamnya sangat fantastis.


"Ini beneran?" Tak percaya Dira dengan apa yang di lihatnya.


Jari-jari Dira dengan lincah menggulir informasi yang tertera di ponselnya.


"Wah, beneran turun harganya."


Dira mencaritahu ada atau tidaknya pemilik saham itu yang akan menjual saham milik mereka. Setelah mendapatkan kontak para pemegang saham terkecil, Dira mulai mengirim pesan.


Langkah awal yang di lakukannya adalah menghubungi dan menawar pada pemilik saham.


Setelah beberapa saat berkutat dengan ponselnya. Dira akhirnya menyelesaikan acara dan turun dari kasur menunu kamar mandi.


Selesia dengan semua ritualnya bersiap diri, kini Dira keluar kamar menemui yang lainnya.


"Baru juga mau di panggil," ucap Mega yang berada di tangga hendak naik.


"Kamu mau panggil aku? Kenapa?" Tanya Dira.


"Kita mau berangkat."


Keduanya turun dari tangga bersamaan, hingga tiba di ruang tamu. Mana para wanita lainnya sudah menunggu.


"Kamu udah siap, Nak?" Tanya mama Ella pada menantunya.


"Udah, Ma."


"Kita berangkat sekarang aja, supaya nanti pulangnya gak kemaleman," ujar nenek Ira.


"Tapi, Mas Gara masih tidur, Nek. Dira belum pamitan."


"Pergi aja, nanti Papa yang kasih tahu suami kamu kalo kalian udah berangkat." Papa Rudi menatap menantunya.

__ADS_1


"Iya, Pa. Kalo gitu Dira pergi dulu."


Dira menyalami tangan papa Rudi yang di sambut dengan baik oleh pria paruh baya itu. Di ikuti mama Ella dan Eva juga Mega.


"Hati-hati kalian semua," ucap papa Rudi.


Setelah berpamitan, mereka semua pergi meninggalkan rumah menuju mall untuk bersenang-senang.


Di dalam mobil, mereka saling berbagi cerita bersama. Mobil yang mereka gunakan merupakan mobil sejenis van, yang mampu memuat 6 orang wanita itu.


"Ada gosip hot yang sangat viral loh, Kak." Eva memulai sesi gosipnya bersama Mega.


"Gosip apa? Gosip apa? Artis mana yang viral?"


Mega merespon ucapan Eva dengan semangat, karena ia memang sangat suka dengan yang namanya gosip artis.


"Ini dia orangnya, artis dan model yang waktu itu kita bahas."


"Wah, masalah apa lagi kali ini? Apa yang kemarin itu belum selesai?"


"Belum, malah semakin panas."


"Kompor empat tunggu dong?"


"Ini sih udah gak pake tungku lagi, Kak. Tapi idah sangat berkobar dan begitu membara."


"Kebakar dia bentar lagi kalo udah gitu."


"Iya, bener."


"Kita gak gosip kok, Ma." Sangkal Eva.


"Cuma ngerumpi aja," sambung Mega.


"Kapian berdua kalo di kasih tahu orang tua, ada aja jawabannya. Dasar badung kalian berdua," kata mama Rida.


Dira hanya tersenyum melihat percakapan antara keluarga barunya ini. Nenek Ira menggenggam tangan Dira dengan hangat sembari ikut tersenyum.


Sesampainya di mall, mereka mulai bersenang-senang melakukan semua kegiatan yang di sukai para wanita.


"Ayo, kita ke salon dulu," seru Mega dan Eva.


"Harus ya, kita ke salon? Apa gak lebih baik ..."


"Aduh, aduh, aduh, seorang istri itu harus bisa merawat diri dan berhias, Nak. Apa lagi kalian masih pengantin baru, tunjukkan semua pesona kamu. Jadi anak Mama yang gak peka itu, gak bisa berpaling dari kamu."


Mama Ella memeluk lengan Dira dan membawa menantunya itu masuk ke salon di mall itu.


"Memang harus gitu ya, Ma?"


"Ya, harus. Kamu harus tunjukkan sama suami kamu, kalo istrinya begitu bersinar. Mama sama yang lainnya bakalan selalu dukung kamu."


Yang lainnya terlihat mengangguk seruju dengan apa yang di katakan mama Ella.


"Sebagai istri dari seorang Direktur perusahaan besar. Kamu jangan biarkan orang lain menindas kamu. Tunjukkan semua kemampuan kamu, kalo perlu keluarkan jurus taekwondo. Habisi semua yang mengganggu."

__ADS_1


Semangat Mega yang selalu mengajari Dira agar tidak terlihat lemah meski berwajah polos. Mega pula yang selalu memotivasi Dira agar berani melawan orang yang merendahkannya.


"Kalo ada yang berani sakitin kamu, apa lagi sampe hina kamu? Kasih tahu Nenek, kita buat dia menyesal karena jadi orang jahat."


Nenek Ira juga terlihat semangat mendukung Dira agar menjadi lebih berani dan maju.


"Mama juga akan selalu dukung kamu, Nak. Meski Mama cuma orang tua angkat kamu aja," ucap mama Rida.


"Semangat, Kak Dira." Eva mengepalkan kedua tangannya di depan dada memberi semangat.


"Terimaksih, semuanya."


Dira benar-benar terharu dengan semua dukungan dan perhatian yang di berikan oleh keluarga mertuanya.


Dira menjadi semakin yakin untuk terus maju menggapai keinginannya.


Keenam wanita itu mulai perawatan di salon. Perawatan komplit tentunya. Dan pasti harganya sangat mahal. Tapi itu bukan apa-apa bagi nenek Ira, selama ia bisa melihat kebahagiaan di wajah keluarganya.


4 jam mereka berada di salon, kini sudah berjalan menuju butik untuk belanja baju.


"Nek, maaf. Dira ada sedikit urusan di restoran sebelah sana. Jadi, Dira mau ke sana sebentar buat selesaikan urusan itu." Pamit Dira pada nenek Ira yang kebetulan akan mencarikan baju untuknya.


"Kalo gitu, biar Mega sama Eva ikut kamu. Nanti balik ke sini lagi kalo udah selesai ya?"


"Iya, Nek."


Dira pergi meninggalkan butik bersama Mega dan Eva yang menemaninya.


Di restoran itu, Dira masuk ke dalam ruangan khusus. Di dalamnya ada seorang pria paruh baya bersama seorang wanita berjas rapi di belakangnya.


"Silahkan duduk, Nona. Kita akan mulai pembahasannya."


"Baik, silahkan di mulai," sahut Dira menanggapi wanita yang merupakan bawahan di pria paruh baya itu.


Sedangkan mama Ella dan mama Rida mencari anak-anak mereka yang tak terlihat di butik. Bahkan nenek sedang duduk santai sendirian di sofa tanpa anak-anak mereka.


"Anak-anak kemana, Ma?" tanya mama Ella sembari melihat ke sana kemari masih mencari anak-anaknya.


"Katanya ada urusan sebentar di restoran yang kita lewati tadi. Nanti balik lagi."


"Mereka peegi bertiga?" Tanya mama Rida pula.


"Iya, udah kayak trio macan aja mereka," sahut nenek Ira.


Padahal dirinya yang menyuruh Mega dan Eva pergi bersama Dira. Tapi nenek Ira pula yang mengatakan mereka layaknya grup trio macan.


"Mereka sih bukan trio macan, Ma. Tapi trio rusuh." Kekeh mama Rida.


"Bentar lagi Dira pasti terkontaminasi sama kedua anak nakal itu."


"Lebih nakal anak kamu lah, Rid."


"Maklumin aja, Kak. Mega memang yang paling parah."


Para orang tua itu terkekeh bersamaan lalu melanjutkan belanja mereka.

__ADS_1


__ADS_2