
Setelah rapat selesai, para petinggi lainnya pergi meninggalkan ruangan. Tinggallah pasangan suami istri bersama Wawan dan duo Sekretaris.
Ada pula Intan yang masih ingin berbicara pada Gara. Ia tidak ingin melepaskan pria itu begitu saja.
"Bisa kamu jelaskan maksud dari semua ini, Ga?" Tanya Intan menuntut penjelasan.
Gara diam saja dan tak merespon apapun, begitu pula dengan yang lainnya. Mereka malah membahas kapan acara konferensi pers akan di laksanakan.
"Umumkan kalau dua hari lagi akan di adakan konferensi. Nanti siang saya sendiri yang akan bicara pada mereka," ucap Gara pada Wawan.
"Siapa yang akan mendampingi wanita itu?"
"Kamu, karena masalah ini sudah sangat meluas. Bahkan masalah ini jika di bawa ke jalur hukum, bisa di tuntut kasus kekerasan dan pencemaran nama baik."
"Kenapa pencemaran nama baik juga, Mas?" Tanya Dira yang memang tidak tahu masalah awalnya.
"Ini, lihat." Gara menunjuk layar laptop di depannya.
"Di postingan ini artis kita mengatakan kalau ia tidak bersalah. Juga melimpahkan semua kesalah pada korban."
"Kalau sampai korban menuntut, nama baik agensi bisa jadi pertaruhan juga. Dan perusahaan di bidang yang sama seperti kita, bisa menggunakan ini sebagai senjata untuk menjatuhkan kita."
"Benar, Pak. Itu sebabnya kita harus segera mengambil tindakan tegas."
Wawan berucap sembari melirik Intan yang berdiri dengan wajah kesalnya.
"Ya sudah, sampai di sini saja. Saya ingin melihat-lihat."
Gara berdiri di ikuti Dira dan yang lainnya.
"Silahkan, Pak." Wawan menunduk hormat pada Gata sebagai seorang atasan.
Jika dalam lingkup perusahaan dan jam kerja, mereka akan menggunakan bahasa formal. Namun lain hal nya jika sudah tidak di jam kantor.
"Tunggu dulu! Kamu belum kasih aku penjelasan, Ga." Intan menahan langkah Gara dan Dira.
"Penjelasan apa yang kamu inginkan?" Tanya Gara dengan wajah datarnya.
"Kenapa kamu lakuin semua ini sama aku? Apa salahku, Ga?" Tanya Intan hendak menyentuh tangan Gara.
Namun pria itu segera menarik tangannya dan memeluk istrinya.
"Kamu blokir nomor aku, gak bisa aku hubungi juga. Trus sekarang kamu bawa perempuan ini ke sini. Siapa dia sebenernya, Ga? Dia bukan istri kamu, kan?"
Intan benar-benar mengeluarkan semua pertanyaan yang ada di pikirannya. Karena baginya, Gara tak mungkin berpaling darinya.
"Kamu pernah lihat berita peenikahan aku?" Tanya Gara balik.
__ADS_1
"Iya, tapi aku gak percaya sama semua berita bohong itu. Aku yakin kalo kamu cuma cinta sama aku."
Intan kembali ingin menyentuh Gara yang lagi-lagi di tolak. Gara justru memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana.
"Kamu kenapa sih? Aku pacar kamu, bukan dia. Calon istri kamu itu aku, bukan dia." Tunjuk Intan pada Dira dengan kedua mata melotot.
"Faktanya dia istriku, dan kamu cuma orang yang pernah singgah sesaat. Bahkan untuk di bilang mantan pun, entah cocok atau tidak." Santai Gara.
"Apa maksud kamu?" Kaget Intan mendengar ucapan Gara.
"Bukannya kamu mencitaiku? Apa arti kebersamaan kita selama ini?"
"Kebersamaan apa? Kamu selalu sibuk dengan duniamu sendiri. Kamu menemuiku hanya jika butuh sesuatu."
Intan terdiam mendengar ucapan Gara yang memang benar adanya.
"Maaf, aku tahu salah. Beri aku satu kesempatan lagi, aku janji bakalan berubah."
"Berjanjilah untuk dirimu sendiri, Nona. Suamiku gak butuh janji apapun darimu."
Dira angkat suara karena sudah merasa jengah dengan Intan.
"Diam! Dasar perebut pacar orang!" Teriak Intan marah.
Gara yang mendengar istrinya di teriaki oleh Intan hendak angkat suara. Namun, apa yang di lakukan Dira padanya membungkam bibirnya.
Bagaimana tidak agresif jika wanita itu mencium pipinya mesra. Bahkan tangan kiri Dira masih memegangi pipi kanan suaminya.
Tangan kanan Dira sendiri memeluk suaminya erat. Sengaja ia melakukan itu untuk menunjukkan siapa nyonya Anggara yang sesungguhnya.
"Suamiku ... bisa kita pergi sekarang? Katanya mau beli rumah baru untuk masa depan kita?" Manja Dira.
Istri Gara itu bahkan menatap mesra suaminya yang justru membuat hati Gara bergetar.
Sungguh tatapan yang membuat Gara ingin terus melihatnya.
"Baiklah, sayangku. Kita pergi sekarang, kamu bisa pilih rumah seperti apapun yang kamu mau."
Gara memegangi bahu Dira dan melabuhkan kecupan mesra di kening wanita itu.
Setelahnya keduanya keluar dari ruang rapat itu, meninggalkan Intan yang shok melihat kemesraan di hadapannya.
Sedangkan Wawan dan yang lainnya justru terpana dengan siaran live streming dari bos mereka.
Benih-benih cinta bermekaran, batin Reno dan Agi.
Berbahagialah Mas, batin Wawan pula.
__ADS_1
Dira dan Gara berjalan menuju lift masih saling bergandengan mesra. Bahkan tanpa sadar keduanga masih terbawa perasaan akibat kejadian tadi.
"Kamu mau rumah yang gimana untuk kita?" Tanya Gara dengan suara yang lembut dan berbeda dari biasanya.
"Gimana aja boleh, yang penting nyaman dan aman."
"Sesuai keinginan, istriku."
Gara memeluk erat tubuh Dira saat keduanya sudah masuk ke dalam lift. Saling menatap penuh cinta, bahkan Gara mulai mendekatkan wajahnya pada Dira.
Tapi kejadian itu tidak sampai pada hal yang lebih. Karena Reno yang tiba-tiba menahan pintu lift yang akan tertutup lalu masuk begitu saja.
"Hah, hah, hah, cepet banget Tuan jalannya. Kita mau langsung ke perusahaan pusat atau ..."
Kalimat Reno tergantung kala melihat wajah sangar Gara yang siap menerkam. Napasnya yang tadi masih terengah-engah, kini justru lebih sesak.
Kenapa ini? Batin Reno belum paham.
Di lihat Dira yang wajahnya merona menahan malu dan sedikit menjaga jarak dengan Gara.
Jangan-jangan? Habislah aku, batin Reno.
Reno baru menyadari kalau ia sudah merusak momen baik sang tuan bersama istrinya. Dan kini ia hanya bisa berharap, agar tuannya tidak membuat perhitungan padanya.
"Urusan kita belum selesai sayangku," bisik Gara pada Dira yang sudah di peluknya lagi.
"Apa sih, Mas?" Malu Dira.
"Mas udah terbawa suasana tadi, gara-gara si Reno adegan ciuman jadi gagal."
"Omongannya, Mas. Kalo Reno denger gimana?"
Keduanya masih saja alaing berbisik.
"Gak bakalan denger dia, kalo pun denger anggap aja dia budeg."
"Gak boleh ngomong gitu, Mas."
"Maaf, maaf, Mas masih kesel sama dia yang masuk sembarangan."
"Udahlah, mending dia yang masuk. Kita juga gak ngapa-ngapain, kalo sampe orang lain yang masuk gimana? Bisa malu banget, Mas."
"Mas suruh mereka pura-pura gak lihat, biar kamu gak malu. Atau kita kasih pertunjukan gratis sekalian buat mereka."
Gara menaik turunkan kedua alisnya menggoda istrinya yang terlihat semakin malu.
"Udah, Mas." Melihat Dira yang cemberut, Gara menyudahi godaannya.
__ADS_1
Sebelum terjadi hal yang akan membuatnya pusing dengan merayu sang istri agar tak mendiamkannya.