
"Ini ... Ini sepertinya di tulis oleh orang yang menemukan Dira, Mi." Papi Dian menunjukkan tulisan yang di temukannya di belakang foto kecil Dira.
Foto dengan potongan rambut seperti anak laki-laki.
...*Untuk putri kecilku...
Dira, kalo kamu baca tulisan ini. Artinya kamu bakalan tahu sebuah rahasia tentang hidupmu*.
Rahasia yang selama ini ibu dan ayahmu sembunyikam dari kamu. Bahkan kepindahan kita ke kota ini setelah 1 tahun di kampung, juga karena ibu dan ayah gak mau orang kampung cerita kalo kamu bukan anak kandung ibu dan ayah.
*Dulu ibu bekerja di rumah orang kaya sebagai tukang cuci. Waktu itu ibu gak sengaja dengar majikan ibu marah-marah karena bayi yang mereka beli perempuan. Sedangkan yang di inginkan bayi laki-laki.
Karena mereka beli kali secara ilegal, majikan ibu berencana untuk buang kamu. Ibu yang gak senagaja dengar percakapan majikan tentang itu langsung buat rencana juga.
Sewaktu kamu di masukkan ke dalam kotak dalam keadaan gak sadarkan diri, trus di letakkan di teras samping rumah. Ibu ambil kotak yang ada kamunya dan ibu ganti pake kotak lain yang ibu isi batu untuk pemberatnya.
Setelah dapetin kamu, ibu langsung berhenti kerja dan ayah ngajakin ibu pulang kampung supaya majikan ibu gak tahu tentang kamu.
Ibu sama ayah sepakat untuk besarkan kamu dan anggap kamu sebagai anak kami karena kami gak punya anak kandung.
Ibu juga kasih kamu nama Nadira Anjani, karena ibu ngerasa nama itu bagus dan cocok untuk kamu yang sangat cantik.
Maafkan ibu sama ayah yang gak bisa kasih kamu kehidupan enak ya, Nak. Ibu sama ayah sayang kamu*.
Dira membekap mulutnya tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Sam membacakan isi tulisan yang kecil dan rapi itu agar semua orang mendengarnya.
Saat itu juga tubuh Dira luruh ke lantai karena tak sanggup lagi menahan semua himpitan di hatinya.
"Sayang!" Gara langsung mendekap tubuh Dira erat dan berusaha menenangkan istrinya yang menangis.
__ADS_1
"Pantas ibunya Mika selalu bilang aku anak pungut, Mas. Ternyata aku memang anak pungut ibu dan ayah," ucap Dira di sela tangisannya.
"Sst, gak ada yang namanya anak pungut, Sayang. Semua anak itu sama, hanya keberuntungannya yang berbeda dan cara mereka hadir di keluarga yang membesarkannya juga berbeda." Gara mengelus pundak Dira lembut.
"Kenapa? Kenapa hidupku begitu menyedihkan, Mas. Aku capek, aku lelah, aku gak sanggup lagi jalani semuanya, Mas. Selama ini aku menanggung banyak hinaan dan pandangan jijik dari orang-orang. Bahkan gak sedikit orang yang bilang aku anak haram yang gak jelas orang tuanya." Dira mengeluarkan semua keluh kesah yang selama ini di tanggung.
"Kenapa hidupku begitu penuh drama? Kenapa? Aku cuma pengen bahagia kayak orang lain, aku cuma mau keluarga. Tapi kenapa kenyataan kalau aku bukan anak kandung ibu sama ayah itu buat aku sangat sakit, Mas? Selama ini ayah sayang banget sama aku, kenapa juga aku harus terpisah dari keluarga kandungku? Kenapa?"
"Apa aku gak berhak bahagia? Apa aku sangat jahat sampe harus menjalani kehidupan yang begitu pahit sebelumnya? Kenapa aku gak di ijinkan untuk bahagia walau sesaat? Bahkan setelah aku terusir dari rumah ayah, setiap saat yang ku pikirkan hanya masalah kehidupan."
"Bagaimana caranya aku bisa dapet uang untuk makan? Bagaimana aku bisa meneruskan sekolah? Bagaimana kehidupanku kedepannya? Aku bahkan gak pernah ngerasain kasih sayang ibu."
Tangis Dira semakin terdengar memilukan di telinga setiap orang yang mendengarnya. Bahkan Mega yang selama beberapa tahun selalu bersama Dira pun baru kali ini melihat kesakitan yang sesungguhnya dari temannya itu.
Selama ini Dira tidak pernah mengeluhkan apapun pada Mega atau siapapun. Dira menahan semua hinaan dan cemoohan orang-orang tentang identitasnya.
"Dira ..." lirih Mega tak tega melihat sahabatnya menangisi kehidupan kelamnya.
Gara mengeratkan pelukannya pada Dira yang masih begitu shok dan sedikit frustasi akibat semua kenyataan yang di dengarnya.
Selama ini Dira mengira kalau ayah dan ibu yang membesarkannya adalah orang tua kandungnya. Bahkan setiap kali ibu tirinya mengatakan kalau ia anak pungut, Dira tidak perduli dan tak pernah ambil pusing.
Tapi kini setelah ia mendengar semua dari pernyataan sang ibu lewat tulisan. Hati dan perasaan Dira begitu terguncang hebat dengan fakta yang ada.
"Nadir ... Maafin Mami yang gak bisa jagain kamu waktu itu, Nak. Mami menyesal karena udah percayakan kamu sama orang lain. Akibatnya Mami harus kehilangan kamu selama puluhan tahun. Maafin Mami, Nak."
Tangis mami Hera penuh penyesalan, dulu dirinya sangat keras kepala saat sang suami memintanya untuk tidak bekerja dan mengurus anak saja.
Tapi mami Hera yang sedang sangat berambisi untuk sukses dengan bidangnya di dunia fasion membuatnya tak menggubris sang suami.
__ADS_1
Hingga puncaknya ia harus kehilangan putrinya karena terlalu mempercayakan anaknya pada pengasuh.
Dira yang sudah tak mampu lagi menahan guncangan batinnya, jatuh pingsan di pelukan snag suami.
"Sayang, kamu kenapa? Sayang, buka mata kamu." Gara yang tadi merasakan tubuh Dira melemah langsung menjauhkan wajah istrinya.
Betapa kagetnya ia dan semua orang kala mendapati Dira tak sadarkan diri.
"Sayang! Hey, kamu denger Mas ngomong." Panik Gara saat Dira tak juga membuka kedua matanya.
"Bawa kekamar, Ga!" Perintah papa Rudi yang segera menghubungi Dokter untuk datang.
Gara membawa Dira kekamar mereka di lantai atas. Mega dan para wanita lainnya mengikuti langkah Gara karena panik.
Sedangkan para pria tetap menunggu di bawah, karena tak ingin semakin membuat sekitar Dira sesak dengan banyaknya orang.
"Ku rasa kita salah datang sekarang, Pi. Harusnya kita tunggu hasil tes aku sama Dira keluar dulu. Baru kita bicara pelan-pelan sama Dira dan jelasin semuanya pelan-pelan. Mungkin hasilnya gak akan kayak gini."
Sam mengusap wajahnya kasar, menyesali tindakannya yang terlalu gegabah menurutnya.
"Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, Sam. Sekalipun besok atau lusa baru kita memberitahu pada Dira. Hasilnya akan tetap sama, kehidupan kelamnya di masa lalu yang masih mengganggu perasaannya harus di hilangkan."
Papa Rudi menenangkan Sam yang nampak sangat sedih dengan kondisi adiknya.
"Iya, Sam. Kita juga harus memperbaiki kesalahan di masa lalu kita sama Nadir. Kita harus kasih Nadir kebahagiaan seperti harapannya. Karena kepahitan hidupnya di masa lalu juga tak luput dari campur tangan Papi sama mami."
Papi Dian berusaha tegar melihat kondisi menyedihakn putrinya meski hatinya sangat sakit mendengar semua keluhan Dira.
Sebagai seorang kepala rumah tangga dan kepala keluarga. Papi Dian bukan tak ingin menunjukkan kesedihannya.
__ADS_1
Tapi jika ia menunjukkan kesedihan di hadapan keluarganya ya g sedang bersedih, lalu siapa yang akan menguatkan istri dan anak-anaknya.