
"Yang mana rumahnya, Mas?" Tanya Dira saat mobil sudah memasuki area perumahan yang sangat mewah.
"Gak tahu. Yang mana Ren?" Tanya Gara pula pada Reno setelah menjawab pertanyaan Dira.
"Sebentar lagi kita sampai, Tuan, Nyonya."
Beberapa meter mobil bergerak, akhirnya Reno membelokkan mobil memasuki salah satu gerbang besar di area perumahan itu.
"Wah, ini rumahnya? Apa ini gak terlalu mewah, Mas?" Dira menatap penuh minat pada bagian depan rumah.
Apa lagi air mancur yang ada di tengah-tengah halaman rumah itu. Benar-benar menarik perhatian Dira karena begitu indah bentuknya.
"Rumah ini salah satu dari beberapa yang bisa di pilih, Nyonya. Jika Anda kurang berminat dengan yang ini, kita bisa lihat yang lainnya," Ucap Reno.
"Mau turun?" Tanya Gara di angguki Dira.
Pasangan muda itu turun dari mobil dan mendekati rumah. Seorang pria mendekat menyambut Gara dan Dira.
"Selamat datang, Tuan, Nyonya."
"Terimakasih. Kami ingin lihat-lihat dulu." Gara menjawab sapaan dari pria berbaju Security itu.
"Silahkan, Tuan, Nyonya. Apa perlu saya temani?"
"Boleh."
"Mari silahkan masuk."
Gara dan Dira masuk ke dalam rumah mewah itu setelah pintunya di buka.
"Rumah ini ada dua lantai, dengan memiliki 10 kamar. Satu kamar utama di lantai dua, bersama tiga kamar lainnya. Di lantai satu sendiri ada enam kamar lagi yang merupakan kamar tamu." Jelas si Security.
"Banyak banget kamar tamunya?" Heran Dira.
"Iya, Nyonya. Karena pemilik sebelumnya memang sering kedatangan banyak tamu dan keluarga."
"Jadi rumah ini udah pernah di tempati orang lain sebelumnya"? Tanya Dira menatap Gara.
"Kenapa? Kamu gak suka? Kita bisa lihat yang lain kalo kamu gak suka," ucap Gara santai.
"Bukan, Mas. Pernah atau gak nya rumah ini di tempati sebelumnya, bagiku sama aja. Yang penting masih layak huni."
"Nyonya tenang saja, pemilik sebelumnya hanya menempati rumah ini selama 5 bulan saja. Setelah kehilangan anak, mereka memutuskan untuk menjual rumah ini dan pergi keluar negeri." Si Security menjelaskan pada orang-orang di depannya.
"Kok Bapak bisa tahu tentang pemilik sebelumnya? Apa Bapak sebelumnya memang bekerja di sini?" Tanya Dira penasaran.
"Iya, Nyonya. Saya Security yang di berikan oleh pihak perumahan untuk bekerja di rumah ini."
"Sebelumnya Bapak kerja apa?" Tanya Gara pula.
"Sebelumnya saya hanya penjaga gerbang pengganti, Tuan. Kalau ada teman yang tidak bisa masuk secara tiba-tiba, maka saya yang akan menggantikan mereka."
Gara dan Dira hanya mengangguk lalu meneruskan langkah melihat-lihat rumah itu.
__ADS_1
"Ini kamar utamanya, Tuan, Nyonya." Security membukakan sebuah pintu.
"Sangat luas," ucap Gara melihat sekitar kamar.
Sedangkan Dira membuka tirai jendela dan melihat keluar.
"Wah, halaman belakangnya luas juga." Dira menempelkan keningnya di jendela kaca.
"Ini pintu berandanya, Nyonya. Dari sini bisa melihat dengan jelas." Pak Security membuka satu pintu lain.
"Ish, Bapak. Gak ngomong dari tadi, malu-maluin aja," gerutu Dira.
Sedangkan pak Security hanya nyengir saja karena merasa bersalah.
"Kamu mau lihat tempat lainnya?" Tanya Gara yang nampak baru keluar dari sebuah pintu.
"Itu ruangan apa, Mas?" Penasaran Dira.
"Ruang ganti sama kamar mandi."
"Ruang ganti?"
"Iya, lemari pakaiannya di dalam sana. Trus pintu kaca yang di sebelah di sebelah kirinya itu kamar mandi," ucap Gara menjelaskan.
"Oh, aku mau lihat dapurnya."
"Mari silahkan, Nyonya. Dapur ada di lantai bawah dekat ruang keluarga," sahut Security itu.
Gara menggandeng tangan Dira keluar kamar menuju lantai bawah.
"Wah, ini sih besar banget dapurnya." Kagum Dira melihat dapur yang luas itu.
"Itu pintu apa, Pak?" Tanya Gara sembari menunjuk sebuah pintu di sudut dapur.
"Itu pintu menuju kamar Art, Tuan. Kalau pintu kaca yang di sebelah sana, itu menuju kolam renang."
"Mas, kita lihat keluar yuk! Halaman belakangnya bener-bener luas," ajak Dira yang sudah tak sabar hendak melihat keluar.
"Memangnya kenapa sih sama halaman yang luas itu? Kamu kok kayaknya seneng banget ada halaman luas di luar."
Gara menuruti keinginan Dira yang mengajaknya keluar .
"Kamu lupa apa yang paling aku ingini dari rumah idaman aku, Mas?" Cemberut Dira.
Gara terkekeh melihat wajah cemberut istrinya itu.
"Maaf, Sayang. Mas gak lupa kok."
Keduanya melihat halaman dari bagian depan hingga belakanh. Benar perkataan Dira tentang halaman yang luas itu, bahkan hampir sekeliling rumah.
"Nanti bagian sini bisa kita jadikan taman bunga, Mas. Yang di sebelah sananya di tanamin sayuran, trus bagian belakangnya di jadikan lapangan hijau. Nanti di sana di tanami pohon buah-buahan."
Dira dengan semangatnya mengucapkan semua rencananya tentang apa yang dia inginkan dengan halaman yang luas itu.
__ADS_1
"Jadi, kamu suka rumahnya atau halamannya?" Tanya Gara ingin menggoda Dira.
"Keduanya suka," sahut Dira senang.
"Baiklah, kita beli rumah ini aja kalo gitu."
Dira senang bukan main dengan apa yang di katakan suaminya.
"Terimakasih, Mas." Di peluknya Gara dengan riang.
Tentu saja Gara membalas pelukan Dira dengan hati yang tak kalah senang pula.
Keduanya kembali ke bagian depan, dimana ada Security rumah itu bersama Reno di sana.
"Bagaimana, Tuan? Apa ingin melihat rumah yang lainnya?" Tawar Reno.
"Yang ini Saja, tolong kamu urus semuanya. Besok kita beli perabotan baru."
"Baik, Tuan."
"Bapak, mau tetap bekerja di sini dengan saja tidak?" Gara menatap pria mungkin berumur sekitar 40 tahunan itu.
"Mau Tuan, mau." Senang pria itu.
"Baiklah, Bapak bisa tetap bekerja di rumah ini bersama saya. Tapi saya baru akan menempati rumah ini seminggu kemudian. Karena ada beberapa yang harus di renovasi sesuai keinginan saya."
"Terimakasih, Tuan. Saya akan setia mengabdi dengan Tuan dan Nyonya." Security itu menunduk sejenak sebagai rasa hormat dan terimakasih.
"Sama-sama, Pak. Kalau begitu selamat bekerja, kami akan pergi dulu." Gara menepuk pundak Security itu sebelum membuka pintu mobil untuk Dira.
Setelah mobil melaju meninggalkan area rumah itu. Si bapak Security menutup gerbang dengan perasaan bahagia karena mendapatkan pekerjaan tetap.
Sedangkan di dalam mobil, Gara sedang bertanya pada istrinya.
"Kenapa kamu langsung pilih rumah itu, Sayang. Masih ada beberapa rumah lain yang lebih bagus, loh. Kamu gak mau lihat dulu?"
Sejak tadi Gara ingin bertanya ketika masih di sana. Namun melihat antusias istrinya akan rumah itu yang sesuai keinginanya. Gara mengurungkan niatnya bertanya.
Dan kini ia sudah kembali ingat untuk bertanya pada istrinya.
"Aku taku gak bisa pilih, Mas. Kalo rumah yang itu aja udah bagus, gimana sama yang lainnya? Pasti bakalan ada yang lebih bagus lagi. Tapi di kota besar gini, bisa dapet rumah yang halamannya luas itu langka, Mas. Lagian rumah tadi bagus kok."
Dira menatap suaminya penuh keyakinan.
"Ok, tapi Mas mau rombak beberapa bagian rumah itu nanti."
"Mas, juga nanti bakalan cari Art sama tukang kebun. Supaya semua keinginan kamu bisa terwujud."
"Tapi jangan bagian masak ya, Mas. Soalnya aku mau masak sendiri buat kamu."
"Iya, Istriku. Mas harap kamu gak menolak apa yang Mas berikan dan lakukan untuk rumah itu. Mas cuma mau kasih yang terbaik buat kamu."
Gara mencolek ujung hidung Dira sayang.
__ADS_1
"Gimana bagusnya aja, Mas. Yang penting kita sama-sama nyaman tinggal di sana." Dira memeluk tubuh Gara dengan manjanya.
Gara membalas pelukan Dira dengan senyuman manisnya. Menghabiskan waktu dengan istrinya adalah hal paling membahagiakan baginya.