
Hari yang di tunggu-tunggu oleh Dira akhirnya tiba. Hari ini merupakan hari wisuda bagi Dira yang akan mendapatkan gelar dan hasil dari masa ia berjuang selama di kampus.
"Sayang, kamu udah selesai belum?" Gara masuk ke dalam kamarnya.
Pria itu sudah cukup lama menunggu sang istri di lantai bawah bersama keluarga lainnya. Sedangkan Dira yang di tunggu belum juga turun.
"Sayang, kamu ..."
Gara menghentikan kalimatnya saat melihat Dira yang berdiri di depan meja riasnya. Menatap ke arah Gara dengan kurang nyaman.
"Woah ... Kamu cantik banget, sayang."
Tanpa sadar Gara memberi pujian untuk istrinya yang memang terlihat luar biasa.
"Mas, aku ngerasa gak nyaman sama kebayanya."
Dira menatap penampilannya lagi dan memutar-mutar tubuhnya di depan kaca meja rias. Entah kenapa Dira merasa kebayanya sedikit sempit.
"Gak nyaman gimana? Bukannya kemarin kamu bilang yang itu bagus dan sangat nyaman? Kenapa sekarang bisa gak nyaman?"
Gara mendekati Dira dengan wajah herannya.
"Gak nyaman, Mas. Kemarin ia sangat nyaman, tali sekarang udah gak nyaman lagi." Dira menatap suaminya cemberut.
"Trus kamu maunya gimana, sayang? Yang lain udah nungguin di bawah. Bahkan nenek juga udah dateng."
Gara mengusap lehernya saat semakin mendapati wajah masam sang istri. Meski terlihat imut dan menggemaskan, Gara tak berani untuk mengusiknya yang sedang kesal.
"Ya udahlah, waktunya juga gak banyak lagi."
Wanita itu akhirnya mau ikut suaminya turun ke bawha menemui seluruh keluarga mereka. Meski hanya acara wisuda saja, semua keluarga mereka sangat antusias untuk ikut serta melihat.
"Nenek." Dira memeluk nenek Ira saat tiba di bawah.
"Nenek, kangen banget sama kamu." Nenek Ira membalas pelukan Dira dengan hangat.
__ADS_1
"Dira, juga kangen sama Nenek."
Selain dengan nenek Ira, Dira juga berpelukan dengan mama mertuanya. Mereka langsung menuju mobil untuk langsung berangkat ke kampus.
Apa lagi waktu yang terus berputar dan tak memungkinkan bagi mereka untuk berlama-lama melepas rindu.
Sesampainya di kampus, keadaan sudah semakin ramai dengan hadirnya para keluarga peserta wisuda.
Dira keluar mobil bersama suaminya lalu berkumpul dengan keluarga lainnya.
"Mega sama Eva gak ikut, Ma?" Tanya Dira saat menyadari sahabatnya tidak ada bersama adik iparnya.
"Katanya Mega mau jemput teman kalian di warung. Nanti nyusul kok mereka."
Mama Ella tersenyum pada menantunya yang terlihat sangat cantik dan anggun. Mami Hera bahkan sampai tak bisa mengalihkan perhatiannya dari sang anak.
Berjalan beberapa saat, mereka terpaksa harus berpisah. Keluarga akan menuju kursi yang di siapkan untuk para orang tua dan undangan. Sedangkan Dira bergabung dengan teman-temannya yang akan wisuda hari ini juga.
Papa Rudi dan keluarga serta besannya menuju kursi di mana sudah banyak orang tua. Pihak kampus yang melihat orang tersohor hadir di kampus mereka segera mendekat.
"Selamat pagi, Nyonya Ira, Pak Rudi, Pak Anggara."
"Selamat pagi juga, Pak." Ketiga orang itu menyambut salaman dari para petinggi kampus dengan ramah.
Meski wajah Gara datar saja dan kurang ramah, tapi itu tak menjadi masalah.
"Kenapa Nyonya dan keluarga duduk di sini? Mari ikut saya ke bagian VIP," ucap sang Rektor menawari nenek Ira dan keluarga.
"Tidak usah, Pak! Kami di sini saja bersama yang lainnya. Kedatangan saya dan keluarga ke sini untuk menemani menantu yang akan wisuda hari ini." Papa Rudi menjawab mewakili sang mama.
"Oh ... Benarkah? Suatu kehormatan bagi kami bisa melayani menantu keluarga Bapak. Kalau begitu kami permisi, karena acara akan segera di laksanakan." Pak Rektor dan beberapa petinggi kampus sedikit membungkukkan tubuh.
Papa Rudi dan Gara juga melakukan hal yang sama untuk saling menghormati dan menghargai sesama. Sedangkan nenek Ira hanya menganggukkan kepalanya saja.
Acara wisuda di mulai dengan hikmat dan bahagia dari semua penerima gelar. Sampai akhirnya pengumuman tentang mahasiswa terbaik dari fakultas Management Bisnis di umumkan.
__ADS_1
"Ada satu beasiswa untuk bagian Managemen Bisnis. Beasiswanya adalah melanjutkan kuliah di Singapura. Sempat ada sedikit kebimbangan antara para Dosen tentang siapa yang akan menerima beasiswa ini. Namun melihat nilai dan prestasi yang lebih unggul, kami akhirnya menutuskan."
Pembawa acara diam sejenak.
"Beasiswa akan di berikan pada ananda Nadira Anjani yang bisa melampaui ananda Fira Sayifa. Keduanya memiliki nilai yang berbeda tipis, tapi karena beberapa asfek yang saya ucapkan tadi. Akhirnya kami memilih ananda Nadira Anjani sebagai penerima beasiswa ini."
Keluarga Gara dan keluarga Papi Dian berdiri dan bertepuk tangan bahagia. Bagaimana tak bahagia, kalau yang menerima penghargaan itu adalah Dira.
"Kepada Nadira Anjani, bisa naik ke podium sekarang," ucap si pembawa acara.
Dira yang tak menyangka hal tersebut sungguh terharu dan tak menyangka. Usahanya selama ini tak sia-sia. Mendapatkan hasil yang sangat memuaskan dari perjuangan kerasnya adalah hadiah paling membanggakan baginya.
Menaiki podium dan menerima penghargaan serta beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Tapi ada satu hal yang mengganjal di hati wanita itu.
"Pak! Bisa panggilkan Fira Sayifa naik juga? Supaya semua orang bisa melihat siapa orang terbaik yang satu lagi. Kita juga harus memberinya semangat," ucap Dira.
Pembawa acara itu berdiskusi sebentar dengan para petinggi kampus yang ada di sana. Lalu akhirnya menuruti keinginan Dira.
"Kepada ananda Fira Sayifa, di persilahkan untuk naik ke podium juga. Karena ananda Nadira ingin berdampingan dengan kamu."
Semua orang berbisik-bisik mendengar ucapan pembawa acara. Mereka bingung dengan apa yang di lakukan Dira. Namun tak sedikit pula orang-orang yang mencibir Dira sebagai perempuan sombong.
Karena membawa rivalnya yang kalah untuk naik ke atas podium bersamanya dan memamerkan keberhasilannya.
Fira yang di panggil menaiki podium dengan perasaan sedih karena tak berhasil melanjutkan kuliahnya. Namun ia berusaha tegar karena kalah menang itu biasa.
Dira tersenyum pada Fira yang di balas gadis itu pula. Dira tentu saja tahu siapa Fira Sayifa ini, meski tak banyak yang di ketahui oleh Dira.
Tapi Fira merupakan gadis yang rajin belajar dan sangat rendah hati. Dira pernah beberapa kali tak sengaja melihat Fira bekerja menyapu jalanan bersama seorang wanita yang ternyata ibunya.
"Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada seluruh Dosen yang sudah membimbing saya selama belajar di kampus ini. Bagi saya, kita semua adalah mahasiswa teladan. Walau sikap dan sifat kita berbeda, namun kita sama-sama menempuh pendidikan di kampus yang sama. Memiliki cara belajar yang berbeda-beda pula, itu yang membuat kita semua teladan dan luar biasa."
Dira memulai kalimatnya setelah Dosen menyerahkan bukti beasiswa padanya. Dan gelar mahasiswa terbaik.
"Tujuan saya memanggil Fira naik ke atas podium sebenarnya sangat sederhana. Saya ingin semua melihat bagaimana rupa gadis yang berprestasi selain saya."
__ADS_1
Dira mendekati Fira dan menarik tangan gadis yang sedang kebingungan itu.
"Maaf untuk semua Dosen yang sudah mempercayakan beasiswa ini untuk saya. Namun saya rasa, Fira juga akan bahagia mendapatkan beasiswa ini. Bisakah kita memindah tangankan beasiswa ini padanya, Pak?" Dira menatap para Dosennya.