
"Apa maksudmu melakukan itu? Itu sama saja mengakui kalau aku memang melakukan itu semua." Marah Intan menggebrak meja kerja Wawan.
"Sabar Intan," ucap Manager Intan menangkan artisnya yang sering lepas kendali.
"Bagaimana aku bisa sabar kalo perusahaan malah mengakui perbuatanku di depan publik? Ini sama saja mencoreng nama baikku." Kesal Intan.
"Jadi maksudmu, perusahaan harus melindungi perbuatan salahmu? Lalu nama baik perusahaan yang akan tercoreng dan menanggung semua akibatnya," ucap Wawan.
"Tentu saja. Perusahaan harus menjamin keselamatan dan nama baikku sebagai artis besar dan terkenal. Kalo sampe nama baikku hancur, bisa ku pastikan perusahaan bakalan hancur juga." Ancam Intan dengan wajah sok berkuasanya.
Wawan menatap datar dan tidak suka pada wanita di depannya.
Mas Gara waktu itu lihat dia pakek mata sebelah mana sih? Perempuan gak sehat gini di pacari. Untung udah putus dan nikahnya sama orang lain, batin Wawan.
"Banyak artis pendatang baru yang lebih kompeten dari orang yang cuma bisa buat masalah," ucap wawan bernada tak suka.
"Selain itu, perusahaan lebih baik kehilangan satu artis dari pada kehilangan semua orang yang bernaung di perusahaan. Belum lagi pekerja yang menggantungkan hidup di sini. Mereka lebih berarti dari pada artis sok berkuasa seperti kamu."
"Jangan sembarangan kamu kalo ngomong ya? Aku ini Nyonya pemilik agensi ini, kamu bisa aja ku pecat sekarang juga kalo berani macam-macam sama aku." Ancam Intan lagi.
"Mohon perhatikan ucapan anda, Nona. Perusahaan ini milik tuan Anggara, beliau sudah menikah dengan orang lain. Itu artinya anda bukan nyonya di sini, dan tidak berhak memutuskan apapun."
Sekretaris Wawan buka suara karena sudah sangat kesal dengan sikap Intan yang sangat tidak sopan. Belum lagi cara bicaranya yang terkesan merendahkan orang lain, semakin membuat wawan muak.
"Kamu cuma Sekretaris, jangan sok ikut campur. Pernikahan Gara itu cuma setingan untuk memancing aku pulang dan maafin dia."
"Kalo aku gak marah waktu itu, pasti berita pernikahan itu gak terjadi. Apa lagi cuma aku yang cocok jadi nyonya Anggara. Bukan perempuan kampungan itu atau siapapun." Marah Intan.
Mending mancing ikan dari pada mancing nenek lampir kayak kamu, batin Wawan.
"Kamu pergi persiapkan yang saya minta, selesaikan sekarang juga," ucap Wawan pada Sekretarisnya.
"Baik, Pak." Sekretaris Wawan langsung keluar dari ruangan meninggalkan sang atasan bersama Intan dan Managernya.
"Keputusan saya sudah bulat. Setelah konferensi berakhir, segera keluar dan minta maaf di depan media lalu datangi orang-orang itu. Jika kamu tidak melakukan apa yang saya putuskan, maka jangan salahkan saya bertindak keras."
Wawan berucap tegas pada Intan, sekaligus memberi ancaman pada perempuan di depannya. Meskipun tahu ancamannya pasti tak akan di perdulikan, tapi ia sudah berusaha sebaik mungkin.
Bagaimanapun juga, Intan masih merasa besar kepala dan paling berkuasa si agensi hingga tidak mau mendengarkan ucapan siapun.
Sepertinya Wawan harus meminta pada Gara agar membawa kakak ipaernya ke agensi dan perusahaan. Agar semua orang tak perlu takut lagi pada ancaman dan tekanan Intan.
__ADS_1
"Cih! Aku tidak akan mau meminta maaf apa lagi mengakui kesalahanku," ucap Intan saat sudah keluar dari ruangan Wawan.
"Tapi itu perintah atasan Intan, kalo kamu gak nurut, aku takut pekerjaan kamu akan terancam." Manager Intan mengatakan kemungkinan terburuk jika artisnya tak menuruti keinginan atasan mereka.
"Apa peduliku? Tidak ada siapapun yang bisa menghancurkan nama baikku. Aku lah nyonya seluruh perusahaan GT CORP, siapa yang berani menggangguku maka akan bernasib buruk." Yakin Intan.
"Lalu kamu mau apa sekarang?" Pasrah sang Manager.
"Atur orang untuk mencari dua wanita itu dan juga pria sialan itu, aku akan menelpon Gara lebih dulu."
Sebenarnya Intan merasa resah karena Gara tak juga kunjung bisa di hubungi. Sejak terakhir kali mereka berkomunikasi, Intan tak pernah lagi menghubungi Gara begitupun sebaliknya.
Dan kini saat dia mencoba menghubungi pria itu untuk menanyakan perihal berita pernikahannya. Nomor Gara sama sekali tak bisa di hubungi, Intan merasa kalau nomornya di blokir oleh Gara.
Beraninya dia melakukan ini padaku, batin Intan merasa geram dengan Gara.
"Tapi siapa pria itu? Di video yang beredar gak ada laki-laki di sana." Bingung Manager Intan.
"Satpam perusahaan pusat, badannya gemuk." Jelas Intan seperti apa yang di ingatnya saja.
"Cuma itu yang kamu inget? Bada gemuk itu relatif, kalo misalnya ada dua atau tiga Satpam yang gemuk di sana gimana?"
"Bawa semua, sisanya urusanku." Intan membentak Managernya lalu pergi begitu saja.
Di Bali....
Dira dan Gara sudah kembali ke vila setelah belanja dan jalan-jalan di kota. Pasangan suami istri itu masuk ke dalam kamar untuk ganti pakaian karena Intan ingin kepantai lagi.
Tapi sesuatu di atas sofa menarik perhatian Intan.
"Loh Mas, bukannya itu kartu yang kamu kasih tadi pagi?" Dira mendekat dan mengambil black card itu.
"Iya," sahut Gara santai sembari membuka bajunya.
"Kok bisa di sini? Bukannya tadi kita belanja bayar pake kartu ini juga ya?" Heran Dira melihat suaminya.
Gara tersenyum tipis.
"Yang tadi punya Mas sendiri, yang itu punya kamu sendiri. Mas sengaja minta Reno buatkan satu lagi untuk kamu. Jadi Mas gak perlu lagi transfer 2 milyar tiap bulan."
__ADS_1
"Memangnya di dalem ada berapa isinya, Mas?"
"Kamu bisa beli perusahaan pake uang di dalemnya. Bahkan mall juga bisa."
Kedua mata Dira melotot tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Masa sih, Mas?"
"Iya, kamu mau beli apa aja silahkan. Itu udah jadi hak kamu sebagai nafkah dari, Mas."
"Beneran ya, Mas? Kalo aku habisin uang milyaran kamu jangan protes."
Gara menatap Dira dengan kening berkerut.
"Boleh, tapi kamu mau beli apa pake uang milyaran?" Herannya.
Meski sudah biasa melihat keluarganya menggunakan uang milyaran. Tapi itu di gunakan untuk kepentingan bukan senang-senang.
"Kamu bilang aku bisa beli perusahaan sama mall pake kartu ini?" Ucap Dira dengan wajah polosnya.
"Jadi kamu mau beli perusahaan atau mall gitu?"
"Belum tahu, lihat aja nanti." Dira tersenyum manis kala mengingat rencananya menggunakan uang suami.
"Kok aku ngerasa kamu matre ya? Apa sebelumnya kamu pura-pura baik sama polos aja di depan nenek? Jadi nenek pilih kamu buat jadi istriku." Gara bersedekap menatap datar Dira.
Senyum di wajah Dira langsung hilang dan jadi tak kalah datar pula dari Gara.
"Siapa tadi yang bilang kasih nafkah buat aku? Bukannya dari awal aku udah bilang uang bulanan 2 milyar, karena kamu bilang kasih aku satu milyar pun sanggup."
Dira mengingatkan Gara akan pembahasan mereka kala itu.
"Sekarang kamu kasih aku kartu ini dan bilang aku bisa beli apa aja yang aku mau. Sekarang aku rencana mau pake uang 2 milyar itu, dan kamu bilang aku matre? Itu bukan matre, tapi realistis. Karena semua butuh uang."
Dira meninggalkan Gara yang terdiam dengan wajah kikuk begitu saja. Bagaimana tak kikuk? niat awalnya ingin bercanda tapi malah jadi bencana.
"Kenapa aku bodoh banget kalo udah sama istriku? Padahal udah janji gak bakalan bercandaain dia tentang hal yang sensitif," keluh Gara.
Dira baru akan menutup pintu kamar mandi setelah tadi mengambil pakaian dan masuk. Ia mendengar keresahan hati suaminya yang merasa bersalah.
Rasain, siapa suruh kamu ungkit masalah itu, batinnya.
__ADS_1
Lalu Dira benar-benar menutup pintu kamar mandi untuk berganti pakaian.