
"Kamu kenapa Bun dari tadi diem aja? Tumben banget," ucap Pak Farhan heran karena diamnya snag istri sejak tadi mereka turun dari pelaminan.
"Tadi waktu bunda peluk istrinya pak Gara bunda kayak ngerasa ada sesuatu di punggung istrinya Yah," jawab Bu Nina sembari mencoba mengingat sesuatu.
"Memangnya apa yang Bunda rasain?" Penasaran Pak Farhan.
"Punggungnya kayak ada bekas luka jahitan gitu Yah. Bekas jahitannya itu agak nonjol panjangnya sekitar 2 centi."
Bu Nina memegangi dagunya menerawang apa yang di sentuhnya tadi.
"Ya mungkin aja itu bukan bekas luka Bun, tapi kancing belakang gaunnya yang Bunda sentuh," kata Pak Farhan mencoba berpikir positif.
"Gak mungkin kancing gaun Yah, Bunda yakin itu kayak bekas luka jahitan. Kalo kancing gaun pasti lebih nonjol dan lebih panjang ke bawah bukan miring. Apa lagi tempatnya agak ke kanan, kalo kancing gaun pasti di tengah-tengah bukan di samping," ucap bu Nina panjang.
"Ya ya ya Bunda menang. Trus apa masalahnya sama Bunda kalo itu bekas luka jahitan atau apapun itu. Gak ada kan!" Ujar Pak Farhan.
"Ayah inget sama Nadir gak? Waktu umur satu tahun dia pernah luka di punggungnya karena jatuh. Punggungnya kena ujung meja kaca sampe lukanya butuh di jahit."
"Kalo menurut, Bunda. Posisi bekas luka Nadir dulu sama gadis itu sama ,Yah."
Bu Nina baru ingat akan masa lalu.
"Gak mungkin bekas itu masih ada kan Bun. Lagian itu udah berlalu 20 tahun lebih, Nadir juga di larikan sama pengasuhnya waktu itu. Bahkan nasib Nadir juga gak ketahuan gimana, masih hidup atau udah gak ada."
Pak Farhan mencoba meyakinkan istrinya agar tak kembali mengingat masa lalu kelam keluarga mereka.
"Tapi entah kenapa Bunda yakin kalo gadis yang jadi istrinya pak Gara itu Nadir, Yah? Bunda inget betul posisi luka jahitan di punggung Nadir dulu karena bunda juga di sana dan nemenin Nadir sama mbak Hera. Posisinya itu pas."
Bu Nina kekeh akan pendiriannya dan sangat meyakini akan pemikirannya.
"Jangan sembarangan berpikir, Bun. Bukannya tadi udah jelas di sana kalo gadis itu anaknya pak Madi, pamannya pak Gara," ucap pak Farhan mengingatkan istrinya.
"Cuma anak angkat, Yah. Karena pak Madi sama pak Rudi kan saudara kandung. Otomatis mereka juga saudara kandung dong, gak mungkin di restuin sama tante Ira juga kalo mereka nikah. Ada-ada aja Ayah ini."
Pak Farhan baru ingat akan hal itu.
"Oh iya, papanya pak Gara kan saudara kandungnya pak Madi, ya. Jadi gak mungkin anak mereka nikah."
"Makanya, Yah. Jangan sibuk ngomongin bisnis aja kalo ketemu sama temen jadi tahu berita terupdate." Ejek bu Nina.
__ADS_1
"Dari pada yang di bahas perempuan lain, kan bahaya." Kekeh Pak Farhan yang mendapatkan lirikan tajam sang istri.
"Coba aja kalo Ayah udah siap kehilangan lele bawah." Ancam Bu Nina yang membuat Pak Farhan bergidik ngeri.
"Serem amat Bun"
Bu Nina menatap ke depan tanpa menjawab ucapan suaminya lagi.
Di hotel tempat acara pernikahan berlangsung, Dira sudah sangat lelah karena harus berdiri menyalami tamu yang sangat banyak. Entah berapa banyak undangan yang di sebarkan oleh keluarga Gara.
Padahal waktu dari mereka menerima buku nikah hingga resepsi hanya berjarak seminggu. Tapi tamu yang datang sangat ramai hingga pukul 10 malam lewat barulah para tamu habis dan pulang semua.
Dira mendudukkan bokongnya di kursi pelaminan untuk menghilangkan pegal di kakinya. Bahkan hells nya langsung ia lepaskan begitu saja, tidak perduli pandangan aneh dari sang suami, yang di butuhkannya hanya istirahat.
"Bawa istri kamu ke kamar sana, biar pegawai hotel yang anter kalian," seru Mama Ella yang sudah berdiri di belakang Gara.
Dira yang mendengar suara sang mertua langsung duduk dan kembali memakai hellsnya.
"Gak usah di anter Ma, Dira bisa sendiri kok. Lagian udah tahu kamar yang mana," ucapnya tersenyum sembari berdiri.
"Kamar pengantin kalian lain, Nak." Senyum mama Ella dengan tangannya yang mencolek-colek putranya. Memberi kode agar membawa Dira pergi ke kamar pengantin mereka.
"Bawa istri kamu ke kamar pengantin, Nak." Pelotot Mama Ella sembari mencubit lengan Gara karena geram dengan ketidak pekaan anaknya akan wanita.
"Siap bos." Sahut Gara tegas dan langsung mengangkat tubuh Dira ala pengantin baru.
Meninggalkan sang mama sebelum mendapatkan petuah panjang. Mama Ella samapi kaget dengan kecepatan anaknya itu.
"Astaga, anak itu ngagetin aja," gerutu Mama Ella.
Dira yang ada di gendongan Gara terdiam kaget akan apa yang di lakukan suaminya itu.
"Ciieee pengantin baru, semangat kawan!" Seru Mega memberi semangat pada Dira yang di gendong Gara mengikuti pelayan hotel.
Mega dan Desi memang baru akan menuju kamar mereka bersama satu teman mereka lainnya. Sedangkan nenek dan beberapa kerabat lainnya sudah pergi lebih dulu.
"Ya ampun Pa, anak gadismu itu mulutnya. Gimana dia mau dapet pasangan kalo mulutnya selebar toa," ucap mama Rida pada suaminya Papa Madi.
__ADS_1
"Kan kamu yang lahirin ma, lagian Mega kan memang mirip kamu." Kekeh Papa Madi yang hanya di balas dengusan oleh Mama Rida.
"Si Mama bilangin anaknya mulut toa, gak inget dirinya speker raksasa kalo udah marah," kata Mega tidak terima di bilang mulut toa oleh mamanya.
"Apa kamu bilang? Dasar anak kurang ajar!" Mega menarik tangan Desi untuk segera pergi menjauh dari bahaya yang akan terjadi.
"Huh, carikan jodoh anak gadismu itu pa. Mama pusing lihat kelakuannya yang gak tentu arah itu." Mama Rida berlalu dari hadapan suaminya sembari memegangi kepalanya dan hanya di balas gelengan sang suami.
Dira yang mendengar suara Mega langsung menyadari posisinya yang berada di gendongan Gara. Bahkan beberapa pengunjung hotel yang akan memasuki kamar atau akan menuju kamarpun memperhatikan mereka.
"Pengantin baru tuh!"
"Kayaknya acara pernikahan di aula utama hotel itu acara mereka berdua"
"Romantisnya"
"Mau juga dong punya suami romantis begitu"
"Iya mana ganteng banget lagi suaminya"
"Cantik ya pengantin perempuannya!"
"Gak nyangka ada pengantin secantik itu"
"Bisa ngeliat langsung lagi"
Dira yang mendengar bisik-bisik itu merasa malu.
"Ngapain pake acara gendong segala sih mas, malu tahu di lihati orang-orang," ucap Dira pelan.
Ia meletakkan kepalanya di pundak Gara dan menyembunyikan wajahnya agar tidak semakin malu.
"Namanya punya mata, ya pasti ngeliat," sahut Gara enteng tanpa malu sedikitpun.
Gara justru ingin menunjukkan pada orang lain kalau pengantin cantik yang mereka bisik-bisikkan itu adalah miliknya.
"Bilang aja kamu gak punya urat malu mas." Ketus Dira yang tidak di tanggapi oleh Gara.
__ADS_1
Dira sudah mengganti panggilannya pada Gara sejak ia masuk ke rumah Nenek Ira sebagai menantu sehari setelah mereka mendapatkan buku nikah.
Dira memang tak langsung di bawa kerumah nenek Ira saat itu karena Dira yang beralasan akan menyiapkan semua barang-barangnya lebih dulu dan pamit pada teman-temannya. Menghabiskan waktu satu malam lagi di ruko sebelum di jemput Gara keesokan harinya sembari pergi ke makam orang tua Dira.