
Seorang pria seumuran papa Rudi juga datang mendekati Dira yang masih diam di pelukan Hera.
"Papi! Lihatlah, Pi. Dia Nadir putri kita, kan?" Mami Hera menatap suaminya lalu menatap Dira lagi dengan penuh kerinduan.
"Nadir, kamu bener-bener Nadir? Oh, Tuhan ... Putriku." Papi Dian memeluk Dira bersamaan dengan mami Hera.
Setelah beberapa saat berpelukan, pasangan paruh baya itu melepaskan pelukan mereka pada Dira dan mulai menatap intens wanita muda itu.
"Lihat, Pi. Dia sangat mirip dengan Mami, hanya fitur wajahnya sedikit berbeda. Juga bola matanya yang mirip Papi, semuanya masih sama." Mami Hera memegangi kedua pipi Dira dengan lembut.
"Bola matanya yang mirip Papi juga masih sama, Mi. Putri kita bener-bener cantik." Papi Dian mengecup kening Dira penuh sayang dan kerinduan.
"Mami? Papi? Apa maksudnya ini?" Akhirnya Dira bersuara setelah sejak tadi di landa sebuah perasaan yang terasa begitu menyakitkan baginya.
Bahkan hingga kinipun sebenarnya perasaan istri Gara itu masih tak karuan. Hari ini benar-benar seperti sebuah kejutan baginya.
"Duduklah dulu, Dian, Hera. Jelaskan pelan-pelan sama kami semua, terutama sama Dira. Supaya semua masalah jelas dan gak menimbulkan salah paham," ucap nenek Ira yang juga ada di sana.
Sam yang datang bersama keluarganya tadi sungguh mengejutkan bagi keluarga nenek Ira. Karena sudah lama sekali mereka tidak pernah bertemu. Terakhir kali ketika kelulusan Sam dan Gara dari sekolah menengah atas.
Penjelasan singkat dari Sam mengenai maksud kedatangan mereka tadi juga begitu mengagetkan keluarga nenek Ira.
Dan kini, nenek Ira ingin mendengar semuanya lebih jelas lagi.
"Maaf, Tante. Kami terlalu senang karena bisa bertemu dengan Nadir." Mami Hera duduk kembali di tempatnya semula bersama snag suami.
Sedangkan Dira di tarik oleh Gara untuk duduk kembali ke sisinya. Sebenarnya mami Hera sangat ingin duduk di dekat Dira. Tapi karena semua masalah belum jelas, ia tidak berani meminta lebih lagi.
Cukup tahu diri sebagai tamu dan tidak boleh membuat kerusuhan. Hatinya sudah sedikit lega saat melihat Dira yang begitu di yakininya bahwa itu putri kandungnya.
__ADS_1
"Saya akan menjelaskan semuanya pada kalian, supaya tidak terjadi kesalah pahaman di sini." Papi Dian buka suara dengan bahasa formalnya, karena ia sudah terbiasa begitu.
"Kalian pasti tahu kalau kami pernah kehilangan seorang putri yang baru berumur 1tahun lebih, bahkan hampir dua tahun umurnya kala itu."
"Sudah 20 tahun lebih putri kami hilang karena di larikan oleh pengasuhnya. Kami sudah mengejar pengasuh itu dan mendapatkannya di salah satu desa terpencil."
"Pengasuh itu bersembunyi di sana setelah menjual putri kami pada orang lain. Dia tergabung dalam komplotan penjual bayi, hingga berani berpura-pura jadi pengasuh untuk menculik anak kami. Saat kami bertanya padanya mengenai anak kami yang di bawanya. Ia mengatakan kalau putri kami sudah di jualnya setelah ia memangkas rambutnya."
"Putri kami di pangkas seperti laki-laki agar tidak ada yang mengenalinya, dan si pengasuh itu sendiri yang memangkasnya. Saat kami bertanya kepada siapa ia menjualnya? Dia hanya mengatakan kalau ia menyerahkan anak kami pada ketua komplotan mereka."
"Sampai Polisi menangkap semua jaringan mereka hingga habis, putri kami tetap tidak di temukan. Karena orang yang membelinya sudah membuang anak kami ketika tahu kalau itu anak perempuan, bukan laki-laki seperti yang mereka inginkan."
"Polisi juga menangkap mereka karena hal itu, tapi putri kami yang di buang mereka tetap tidak di temukan. Polisi sudah melakukan pencarian di sekitar lokasi tempat pembuangan itu, hingga melacak cctv yang ada. Namun tak satupun cctv yang mereka jejak hilangnya putri kami."
"Entah dia masih hidup atau sudah tiada, polisi menghentikan pencarian setelah 3 bulan lamanya. Kami bahkan sudah berusaha melakukan pencarian sendiri, tapi tak juga membuahkan hasil."
"Butuh waktu satu tahun masa pengobatan hingga pemulihan bagi Hera agar bisa sembuh total. Dokter juga mengatakan agar tak kembali membahas masalah yang membuatnya bisa kembali depresi. Itu sebabnya kami bungkam dan tak melakukan apa-apa lagi."
"Kami bahkan menarik semua informasi pencarian agat Hera tak melihatnya meski di jalanan. Saya tak ingin kehilangan satu wanita yang berharga lagi."
"Tapi entah kenapa saat kelulusan Sam di sekolah menengah atas waktu itu. Hera kembali mengalami gejala depresi, ia mengatakan kalau melihat seorang gadis yang mirip dengannya ketika remaja. Itu sebabnya saya membawa keluarga saya keluar negeri untuk melupakan semua kenangan pahit itu."
"Juga untuk memulihkan kembali keadaan finansial kami yang mulai tipis karena sudah kami habiskan untuk mencari Nadir dan pengobatan Hera." Papi Dian merangkul bahu istrinya agar tenang.
Karena sejak papi Dian mulai menceritakan kenangan pahit keluarga mereka. Mami Hera mulai meneteskan air mata, hatinya sangat sakit kala mengingat masa itu.
"Nama putri kami Nadira Anjani Ardian. Anjani dari nama belakang Hera, sedangkan Ardian nama saya sendiri. Sam, yang meminta nama adiknya di beri nama maminya kala itu. Karena Sam mengatakan kalau adiknya sangat mirip dengan maminya."
Papi Dian menatap Sam yang menunduk menahan kesedihan hatinya pula. Masa kelam keluarga saat itu benar-benar menyakitkan untuk di ungkit kembali.
__ADS_1
"Entah sebuah kebetulan atau memang takdir, istri Gara bernama Nadira Anjani, mungkin itu pula yang membuat Sam semakin yakin kalau istri kamu adalah adiknya, Ga."
Papi Dian menatap Gara yang masih diam mendengarkan dan memeluk Dira yang menangis. Namun ekspresinya datar dan pandangannya kosong.
"Awalnya aku juga sempet ragu, Ga. Apa lagi waktu kamu ke kantorku itu, aku gak terlalu perhatiin istrimu karena kita lagi bercanda. Tapi aku bersyukur juga kamu bawa istrimu ini ke temu aku. Hasil tesnya baru akan keluar 3 hari lagi, nanti kita bakalan tahu semuanya setelah hasil itu keluar."
Sam mengungkapkan semua apa yang di rasakannya sata pertama kali melihat Dira.
Dira sendiri yang mendengar kata tes jadi teringat akan tes DNA yang ia lakukan bersama Sam. Istri Gara itu berdiri dari duduknya dan melangkah naik ke lantai atas.
"Kamu mau kemana, Sayang?" Tanya Gara hendak mengejar Dira.
"Biar dulu, Ga. Mungkin Dira butuh waktu sendiri." Mama Ella menahan anaknya agar tak mengejar istrinya.
"Tapi, Ma. Aku gak mungkin biarin istriku sendirian, dia lagi kurang fit." Gara menatap mamanya meminta pengertian.
Saat mama Ella akan buka suara lagi, Dira sudah menampakkam dirinya dengan membawa sebuah kertas di tangan kanannya. Ada juga amplop berwarna putih yang sudah nampak kotor.
Dira mendekati mami Hera dan papi Dian.
"Apa kayak gini waktu aku masih kecil?" Dira menunjukkan beberapa gambar dirinya saat kecil hingga remaja saat masih di bangku menengah pertama.
Mami Hera mengambil foto yanh di letakkan Dira di meja. Sontak saja wanita itu kembali menangis melihat bagaimana gambar kecil sang anak. Bahkan foto remaja Dira yang nampak begitu cantik meski gambarnya kotor.
"Pi! Ini remaja yang pernah Mami lihat di jalan waktu kita pulang dari sekolah Sam dulu." Mami Hera menunjuk salah satu foto Dira mengenakan seragam putih biru.
"Mami gak salah, Pi. Waktu itu Mami memang lihat Nadir." Senang wanita itu menatap suaminya.
"Lihat tulisan di bawahnya, Mi." Sam memberitahu sang mami akan tulisan yang ada di bawah gambar salah satu foto yang sedang di pegang wanita itu.
__ADS_1