
Gara mendudukkan Dira di ranjang pengantin mereka yang di atasnya terdapat handuk berbentuk dua angsa di pinggir ranjang bagian bawah.
Sedangkan tengah-tengahnya terdapat banyak kelopak bunga mawar berbentuk hati dan aroma bunga mawar yang sengar menyeruak di dalam.
Membuat suasana semakin bertambah romantis dengan pencahayaan yang berasal dari lilin aromaterapi yang mengeluarkan aroma mawar itu sendiri.
Ya gambaran nyata dari kamar pengantin, bantin Dira menatap seisi kamar yang di tempatinya. Langkah kaki Dira mengarah ke gorden kamar dan sedikit membukanya.
"Pemandangan kota di malam hari bagus juga," ucap Dira dengan posisi kepala di balik gorden. Karena gorden itu sendiri cukup berat untuk di buka lebar.
"Ngapain kamu?" Tanya Gara heran dengan apa yang di lakukan istrinya yang hanya terlihat tubuhnya saja. Sedangkan kepalanya berada di balik horden.
Dira menarik kepalanya kala mendengar suara snag suami di belakangnya.
"Kok Mas udah ganti?" Tanyanya kala melihat pakaian Gara yang sudah ganti menjadi bathrob hotel.
"Kan udah mandi," sahut Gara singkat lalu berbalik duduk di sofa merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa dan pandangan melihat ke atas.
Dira pergi memasuki kamar mandi dengan menenteng gaunnya yang panjang dan besar di bagian roknya. Cukup merepotkannya untuk berjalan hingga masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi Dira keluar dari kamar mandi dan sudah menggunakan bathrob seperti milik Gara. Hanya saja lebih kecil karena memang tubuh Dira dan Gara berbeda.
"Mas mau tidur di situ?" Tanya Dira kala masih mendapati sang suami yang masih pada posisi awal.
"Gak," sahut Gara singkat.
Dira mengangkat kedua bahunya acuh dan menilih mendekati kasur. Dua handuk yang di bentuk seperti angsa di ambil dan di pindahkan ke tempat lain. Setelahnya Dira mengambil tempat sampah karena akan membuang kelopak bunga mawar yang ada di kasur.
"Untuk apa itu?" Tanya Gara kala melihat Dira membawa tempat sampah ke sisi kasur.
"Nampung bunga," jawab Dira singkat dan terkesan acuh.
"Kenapa harus dibuang? Pihak hotel udah capek dekor di situ," ucap Gara tapi tidak beranjak dari duduknya.
"Ganggu," sahut Dira apa adanya dan itu cukup membuat Gara terganggu.
Meskipun pernikahan mereka secara terpaksa karena perjodohan nenek Ira dan Dira pun menerima pernikahan itu karena nenek Ira. Gara tak mau rumah tangganya yang baru saja di mulai sudah berjalan sangat dingin.
Setidaknya mereka harus saling menghargai keberadaan satu sama lain terlebih dahulu. Jika dulu dirinya bisa menerima Intan hanya dalam beberapa kali pertemuan saja dan Intan yang mengatakan suka ia layani. Kenapa sekarang istrinya harus ia perlakukan seperti orang lain?
Bahkan mereka sudah sempat tinggal bersama selama seminggu. Meski tak melakukan apapun dan lebih banyak saling diam jika tidak penting.
"Kemarilah." Gara menepuk sisi sebelahnya meminta Dira duduk di sampingnya.
__ADS_1
Dira menurut dan duduk di samping sang suami.
Gara diam menatap Dira yang juga menatapnya dan mereka berada dalam posisi itu hingga 15 menit dan membuat Dira kesal.
"Kenapa sih Mas? Manggil cuma di suruh ngelihatin Mas aja?"
"Jutek banget sih kamu," kata Gara menegakkan duduknya dan sedikit miring kearah Dira.
"Mas sih, manggil tapi diem aja. Gak tahu udah ngantuk apa." Malas Dira cemberut karena kedua matanya sudah berat dan tubuhnya terasa lelah.
Gara menghela napas panjang, bukan hal mudah bagi mereka yang menikah karena perjodohan tanpa cinta untuk melakukan ritual malam pertama layaknya para pengantin baru.
Apa lagi Gara bukanlah pria yang gampang menyentuh wanita sesukanya, bahkan dengan Intan pun hanya sekedar pegang tangan dan lebih banyak Intan yang menggandeng lengannya.
"Mas tahu kita nikah bukan karena cinta. Tapi pernikahan itu sakral dan Mas mau kita layaknya pasangan yang sesungguhnya kayak permintaan kamu waktu itu. Mas harap kamu bisa memaklumi sikap Mas kedepannya begitupun sebaliknya seiring berjalannya waktu."
"Kalo selama seminggu ini hubungan kita gak baik, mas mau kedepannya hubungan rumah tangga kita jadi lebih baik. Kalo bukan karena cinta seenggaknya demi nenek," ucap Gara.
"Mas gak akan janji tapi bakalan berusaha buat kamu bahagia," lanjutnya seraya menatap intens Dira yang nampak semakin tak dapat menahan kantuk.
"Kamu denger yang Mas bilang?" Gara memegang pundak Dira yang mulai meluruh akibat tidak bisa menahan kantuk dan mulai memejamkan mata.
Gara memeluk tubuh istrinya dan mengangkat untuk di pindahkan ke kasur mereka yang sudah di bersihkan oleh Dira dari kelopak bunga. Karena sudah mengantuk juga Gara ikut tidur di sebelah Dira.
Hari masih gelap saat Dira membuka matanya dan melihat ada wajah sang suami di hadapannya. Bukan lagi pemandangan baru bagi Dira yang sudah seminggu ini selalu melihat wajah tidur sang suami.
Dira bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi untuk baung air kecil. Setelahnya barulah ia mendekati kasur lagi, tapi rasa haus membuat gadis itu mengurungkan niatnya berbaring dan mendekati meja yang terdapat dispenser air.
Gara yang tidak merasakan keberadaan Dira di sampingnya ikut bangun dan mendekati gadis itu.
Tangan Gara mengulur ke hadapan Dira yang membuat gadis itu kaget karena ada tangan yang terulur.
"Astaga, Mas ngagetin aja!" pekik Dira.
"Air," ucap Gara.
Dira menuang air hangat ke gelas lain dan menyerahkannya pada Gara.
Setelah selesai minum Dira mendekati kasur sedangkan Gara kekamar mandi.
"Perasaan kok udaranya dingin banget ya." Dira menurunkan suhu ac di kamar.
"Kenapa?" Tanya Gara yang sudah kembali ke kasur.
__ADS_1
"Dingin banget," sahut Dira.
"Sini Mas angetin." Dira menatap Gara dengan kedua alis bertaut.
"Memangnya Mas bisa ngangetin?" Tanya Dira dengan wajah polosnya.
"Bisa," jawab Gara enteng.
"Mas kan manusia, bukan kompor apa lagi magicom," kata Dira yang membuat Gara menepuk keningnya.
"Astaga, ya gak harus itu juga yang bisa bikin anget. Banyak cara lain yang bisa ngangetin badan."
"Caranya?" Tanya Dira polos.
"Tapi janji dulu ya, kamu gak akan nolak apapun yang bakalan Mas lakuin." Dira menatap ragu suaminya.
"Kok pakek janji segala sih Mas? Memangnya Mas mau apain aku?" Tanya Dira penasaran.
"Gak di apa-apain sih, cuma mau di ajakin malam pertama," jawab Gara enteng tapi malah membuat Dira kaget dan kedua matanya melotot.
"Apaan sih Mas?" Dira masuk ke dalam selimut hingga hanya menyisakan ujung kepalanya saja.
"Ya gak papa sih kalo kamu nolak Mas, toh juga yang berdosa kamu bukan Mas." Gara menakut-nakuti Dira.
"Gak usah bawa-bawa dosa mas, memangnya Mas gak pernah buat dosa apa?" Ketus Dira menatap galak pada Gara.
"Ya pernahlah Mas buat dosa, tapi dosa terbesar istri itu nolak keinginan suami untuk di layani. Hukumannya masuk neraka."
Gara semakin menakut-nakuti Dira. Bahkan kedua tangannya ia angkat seakan siap memabgsa gadis yang semakin ketakutan itu.
"Serem banget sih Mas, gak usah cerita begituan lah," kata Dira yang sudah merinding.
"Makanya sini, layanin Mas suamimu ini biar dapet berkah restu suami," bujuk Gara.
Dira merapatkan tubuhnya pada Gara.
"Tapi jangan kasar-kasar ya mas? Jangan nakut-nakutin lagi. Apa lagi bawa-bawa si neraka." Pinta Dira yang memang paling takut bicara soal neraka.
"Iya, iya, si neraka di tinggal aja gak usah di bawa-bawa," sahut Gara.
Akhirnya Gara mulai mencumbu Dira perlahan-lahan meski masih ada sedikit penolakan dari gadis itu. Dan Gara harus kembali meyakinkan Dira kalau apa yang mereka lakukan bukanlah dosa apa lagi kesalahan, justru kewajiban mereka untuk melakukannya.
Gara juga meyakinkan Dira kalau hal yang mereka lakukan akan dapat menumbuhkan rasa cinta dan ketergantungan satu sama lain karena mereka melakukannya dalam kondisi sudah sah. Akhirnya malam pertama tetap berlanjut dan menjadikan Dira istri sepenuhnya bagi Gara.
__ADS_1