
"Bagaimana, Dokter?" Tanya Gara tak sabar ketika Dokter selesai memeriksa istrinya.
"Nona, baik-baik saja. Pastikan ia tetap di temani ketika bangun nanti. Saat ini kondisi mentalnya sedang tidak stabil, tolong di pastikan saja ia tidak akan mengalami gejolak batin ekstrim lagi. Karena kalau sampai itu terjadi, kejiwaannya bisa tergangu."
Mendengar penjelasan Dokter, para wanita di sana menutup mulut tak percaya.
Seberapa besar penderitaan yang sudah di tanggung Dira, pikir mereka.
"Apa ada cara untuk memulihkan kondisi istri saya, Dok?" Tanya Gara serius.
"Jangan pernah mengungkit masalah yang bisa membuatnya tidak tenang. Sesekali bawa ke tempat yang menangkan, karena istri Tuan sangat butuh ke tenangan." Gara mengangguk paham.
"Terimakasih, Dokter." Gara menganggukkan kepalanya sejenak yang di balas si Dokter.
Mega berjalan mengantarkan Dokter wanita itu keluar dari kamar Gara hingga pergi meninggalkan rumah. Para pria yang sudah menunggu jawaban dari tadi langsung bertanya pada Mega.
Alangkah shoknya mereka mendengar apa yang Mega katakan.
Bahkan Sam kembali menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa adiknya.
"Ini semua salahku, kalo aja aku gak gegabah semuanya gak akan terjadi." Sam menutupi wajahnya merasa malu sudah membuat adiknya tersiksa begitu.
"Tenanglah, Sam. Yang harus kita lakukan sekarang ini hanya membuatnya selalu bahagia. Kita berikan dia kenyamanan keluarga, kita beri dia kasih sayang dan kehangatan keluarga. Papi, sangat yakin kalau Dira pasti akan baik-baik saja."
Papi Dian menepuk-nepuk pundak Sam menenangkan kembali.
"Papimu benar, Sam. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, sekarang kita hanya harus menunggunya tenang." Papa Rudi juga ikut menenangkan Sam.
"Iya, Sam bakalan lakukan apapun untuk kebahagiaan Dira." Tekat Sam penuh keyakinan setelah ia memikirkan ucapan papinya dan papa Rudi.
Tak lama para wanita turun ke lantai bawah menemui para pria yang masih setia menunggu di sana.
"Apa Dira sudah sadar?" Tanya papa Rudi.
"Belum, biar Gara aja yang nemenin. Dira juga butuh suasana yang tenang," ucap nenek Ira sembari mendudukkan tubuhnya di sofa.
Yang lainnya juga ikut duduk di sofa seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Maaf, karena kehadiran kami hanya membuat kegaduhan di rumah, Tante." Papi Dian menatap nenek Ira.
"Sudahlah, jangan di bahas lagi. Sekarang kita satu keluarga, lagian cepat atau lambat semuanya tetap bakalan terungkap. Siap gak siap, Dira tetap harus menghadapi semua itu." Nenek Ira menenangkan keluarga papi Dian.
Bagaimanapun juga, nenek Ira sangat tahu kalau saat ini papi Dian sekeluarga merasa sangat tidak enak karena menyebabkan kegaduhan.
Tapi sebagai sesama orang tua, tentu nenek Ira tahu bagaimana rasanya jauh dari anak selama bertahun-tahun. Apa lagi sampai kehilangan jejak dan komunikasi seperti mereka.
Jika itu nenek Ira sendiripun, wanita itu juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan keluarga papi Dian. Semua petunjuk juga sudah jelas mengarah pada Dira sebagai anak dari papi Dian dan mami Hera.
Karena sekalipun ada lebih dari satu orang yang sama dengan kita. Ciri-ciri fisik setiap orang berbeda, dan ada pula yang memiliki beberapa tanda yang tak di miliki oleh orang lain, sementara kita memilikinya.
Di tengah keheningan yang terjadi di ruang keluarga itu. Datanglah Reno yang dengan santainya berjalan masuk.
"Mau kemana kamu?" Tanya Mega mengagetkan Reno yang tadi sedang fokus pada ponselnya.
"Astaga, Nona ngagetin aja." Pria itu mengelus dadanya sejenak.
"Saya ingin menemui Tuan Gara, Nona. Sebentar lagi ada pertemuan yang tidak bisa di tunda. Dan masih banyak pekerjaan yang harus beliau selesaikan," lanjutnya.
Papa Rudi berdiri dari duduknya.
"Baik, Tuan Besar." Reno mengangguk patuh saja.
Karena baginya, mau itu Gara atau papa Rudi. Sama-sama atasannya, yang penting pekerjaan di selesaikan dulu. Meski Reno lebih patuh pada Gara, namun ia tidak pernah memaksa jika memang tuannya itu sedang tidak bisa di ganggu.
Setelah kepergian papa Rudi bersama Reno. Keluarga papi Dian juga pamit pulang terlebih dulu.
"Kami pulang dulu, Tante. Nanti kalo Dira udah sadar dan tenang, tolong hubungi aku." Mami Hera menatap nenek Ira penuh harap.
"Pasti, Nak. Kami juga akan menghubungi kalian jika terjadi sesuatu pada Dira, karena sekarang kita semua satu keluarga." Nenek Ira menepuk-nepuk pelan tangan mami Hera.
"Iya, Her. Kamu sama yang lainnya tenang aja, nanti kita hubungi kalo semuanya udah aman." Mama Ella juga ikut bersuara.
"Wah, jadi besan dong kita. Dulu cuma berteman biasa, tapi takdir malah bawa kita jadi keluarga." Mereka mengangguk setuju dengan apa yang di katakan mami Rida.
Sedangkan Mega dan Eva hanya diam saja karena tidak tahu apa-apa. Ya, anggap saja kedua gadis itu tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
Setelah berpamitan, keluarga papi Dian pergi meninggalkan rumah nenek Ira.
"Ada apa ini? Kok pada ngumpul di sini? Itu tadi ada Mas Sam sama orang tuanya juga. Apa terjadi sesuatu, Nek?"
Gilang yang baru datang langsung memberondong pertanyaan pada nenek Ira.
"Satu-satu kalo nanyak," ucap nenek Ira yang hanya di balas cengiran oleh Gilang.
"Kamu kok baru pulang, Lang?" Tanya mam Ella pada keponakan suaminya.
"Banyak kerjaan, Tan. Seharusnya 3 hari lagi aku baru pulang dari luar kota. Tapi ku persingkat jadi 1 hari aja." Gilang menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Mandi dulu sana, jorok banget sih! Habis kena debu sama kuman di luar, asal tidur-tidur aja." Sewot Eva yang memang kurang suka jika ada baru datang dari perjalanan jauh tidak mandi dulu langsung rebahan.
"Nyai sewot berisik banget. Gak akan ada ketenangan lagi di rumah ini kalo ada kamu," ucap Gilang nyolot menatap Eva.
"Suka-suka ku lah, kang gratisan." Eva yang tak mau kalah balik nyolot pada Gilang.
"Kalo ada yang gratis, ngapain harus bayar. Nyai sewot, kamu aja suka kalo di kasih gratis," ucap Gilang pada Eva.
"Kan lihat-lihat barangnya juga, kalo harganya gak cukup di kantong yang mending cari yang gratis. Apa lagi aku masih kuliah, uang jajan gak seberapa. Lah kalo kamu, udah kerja tapi masih suka morotin duit orang." Eva membalas ucapan Gilang.
"Alasan, bilang aja kalo suka gratisan juga. Pake alibi harga sama uang jajan lagi. Kamu pikir aku gak tahu berapa om kasih kamu uang jajan, hah? Bahkan terkadang, Mas Gara juga kasih kamu transferan, aku juga tahu." Bangga Gilang karena merasa menang.
"Bilang aja kamu iri karena gak di kasih. Secara aku ini adik kesayangannya, Mas Gara. Jadi apapun pasti di kasihlah," ucap Eva senang.
"Aku? Iri sama kamu, Nyai sewot? Sorry, gak selevel." Senyum Gilang mengejek.
Mega memutar bola matanya malas mendengar keributan Gilang dan Eva. Namun ia malah ikut bersuara.
"Mulai, duo petasan banting." Gilang dan Eva serentak melihat ke arah Mega yang baru saja mengejek mereka.
"Oh, aku lupa kalo Nyai ngeselin udah pulang. Semakin gak bisa tenang aku kalo gini," ucap Gilang yang memancing Mega untuk membalas.
Belum lagi Eva yang ikut nimbrung bersama keduanya. Hingga mereka bertiga saling mengolok satu sama lain. Namun hanya saling mengolok kebiasaan mereka masing-masing saja.
Hal itu biasa mereka lakukan untuk mencarikan suasana. Atau ketika sedang suntuk dan tidak ada pembahasan lagi ketika mereka kumpul.
__ADS_1
Apa yang bisa di lakukan para orang tua jika hal itu sudah terjadi?
"Biarkan sajalah, nanti juga diem sendiri kalo capek." Nenek Ira, mama Ella dan mami Rida pergi meninggalkan ruang keluarga.