
"Habis ini kalian mau kemana?" Tanya nenek Ira setelah mereka selesai makan siang.
"Mau langsung pulang Nek, gak mungkin kami terlalu lama di luar sedangkan teman kami sakit," sahut Dira santai seraya mengemas kembali wadah bekas makanan mereka.
Kecuali wadah yang masih berisi cemilan mereka.
"Mau gak Dira ikut ke rumah Nenek? Nenek mau belajar buat biskuitnya," ucap nenek ira dengan wajah penuh harap.
Dira diam berpikir apa yang harus ia lakukan, kalau menolak ia tidak ingin menyakiti hati wanita tua di sampingnya yang begitu lembut dan hangat sikapnya.
Mau menerima tapi bagaimana dengan Mega yang ada di ruko sedang sakit.
"Mau Nek, nanti biar Desi pulang sendiri aja. Asal nanti kak Dira nya di pulangin dalam ke adaan utuh ya Nek." Bukan Dira yang menjawab keinginan nenek Ira melainkan Desi.
"Kamu yakin pulang sendirian?" Dira menatap Desi ragu.
Pasalnya gadis yang merupakan anak perantauan itu tak pernah pergi kemanapun seorang diri. Jika tidak bersamanya pasti bersama Mega atau mereka bertiga. Meski sudah cukup lama tinggal di kota besar tak membuat Desi berani pergi kemana-mana seorang diri.
"Yakin kak, tenang aja." Desi menepuk pundak Dira dua kali sebagai tanda kalau dirinya bisa dan Dira tidak perlu khawatir.
"Gimana Dir? Nenek gak akan maksa kok kalo memang Dira keberatan." Nenek Ira memasang senyuman manis, tapi sorot wajahnya di buat kecewa.
"Dira mau kok Nek, nanti Dira buatin Nenek biskuit yang banyak," sahut Dira cepat saat mendapati raut yang kurang baik dari nenek Ira meski wajah tua itu tersenyum.
"Bener ya, Nak. Gak boleh berubah pikiran loh," kata nenek Ira meyakinkan Dira agar tak mengubah niatannya nanti.
"Iya Nek, Dira janji nanti ikut Nenek ke rumah untuk buat biskuitnya"
Binggo! target kena, tinggal misi selanjutnya. Sorak nenek Ira dalam hatinya kala Dira menyetujui ajakannya yang sebenarnya memiliki niat tersembunyi.
Jika di taman sedang terjadi obrolan hangat meski cuaca panas berangin. Di rumah besar nenek Ira sedang terjadi sesuatu yang membuat Gilang bersorak bahagia.
Bagaimana tak bahagia jika keinginannya untuk mendapatkan barang impian akan terwujud tanpa keluar modal.
Sedangkan Gara sedang berusaha menghubungi sebuah nomor yang sejak tadi di perhatikannya. Sudah berulang kali ia melakukan panggilan tapi tak kunjung mendapatkan respon.
"Angkat nek, angkat," gumam Gara seraya mendengarkan nada dering di ponselnya yang masih menyambungkan panggilan.
"Kenapa Mas?" Tanya Gilang pura-pura tak tahu apa yang sedang di rasakan saudaranya itu.
"Nenek kemana sih? Di telpon gak di angkat-angkat. Padahal kemaren udah tahu kalo Intan mau dateng," gerutu Gara pada Gilang yang mencoba menahan senyumannya.
"Ya namanya juga udah tua Mas, mungkin Nenek lupa," sahut Gilang santai menyantap makan siangnya yang sengaja ia lakukan di rumah demi bisa melihat live drama.
"Meskipun Nenek tua tapi ingetannya gak tua." Kesal Gara karena ucapan Gilang.
__ADS_1
Tentu saja Gara bisa mengatakan kalau ingatan neneknya tidak tua karena memang itu kenyataan. Bahkan kejadian kecil masa silampun neneknya masih bisa mengingatnya.
"Iya juga ya Mas. Buktinya masalah lipstik Nenek yang dulu Mas pake buat cat gambar aja Nenek masih inget."
Kekeh Gilang kala mengingat cerita sang nenek sewaktu mengungkit masalah lipstiknya yang di hancurkan Gara hanya untuk di jadikan cat gambar.
Karena Gara menolak membelikan apa yang nenek Ira inginkan jadilah cerita itu terucapkan kala itu.
"Gak usah di bahas." Ketus Gara yang hanya di tanggapi kekehan Gilang.
Tak berapa lama muncullah seorang wanita cantik dengan pakaian pres body dan memakai hells memasuki area ruang makan yang terhubung langsung dengan dapur.
"Sayang, kamu ngapain sih? kok lama banget?" Suara itu menarik perhatian Gara yang langsung menoleh.
Sedangkan Gilang acuh dan kembali melanjutkan makan siangnya.
"Kamu kok kesini? Minuman kamu udah habis?" Tanya Gara saat mendapati kekasihnya mendekatinya.
"Bosen sayang sendirian di sana. Nenek kamu kemana sih? aku udah laper tahu." Cemberut wanita itu.
Huek
Pandangan Gara dan Intan teralihkan pada Gilang yang tiba-tiba bersuara seperti orang muntah.
"Kenapa kamu Lang?" Tanya Gara menatap Gilang yang terlihat santai.
"Trus tadi?"
"Nasinya masuk mulut rame-rame," jawaban enteng Gilang hanya di tanggapi gelengan oleh Gara.
Padahal jawaban itu hanya alasan saja bagi Gilang. Sebenarnya ia merasa mual kala mendengar suara manja yang sangat terdengar di buat-buat oleh kekasih saudaranya itu.
Dari pada ia mengeluarkan suara untuk bicara pada Intan lebih baik begitu saja.
"Nenek lagi di luar, mungkin sebentar lagi pulang." Gara menatap Intan yang sudah cemberut.
"Tapi aku udah laper banget sayang. Kamu mau bunuh aku ya? Udah di suruh nunggu lama, yang di tunggu gak dateng-dateng. Tahu gini lebih baik makan di luar aja tadi," ujar Intan dengan wajah yang semakin cemberut dan kesal.
"Kok kamu ngomong gitu sih? Kamu gak seneng ketemu Nenek aku?" Tanya Gara dengan wajah tak sukanya mendengar ucapan Intan.
"Ya gak gitu juga sayang. Aku seneng kok ketemu Nenek kamu, tapi aku ini punya masalah loh sama pencernaan. Kalo telat makan bisa-bisa aku diare."
Uhuk uhuk uhuk
Gilang secepat kilat meraih gelas berisi air di dekatnya untuk membasahi tenggorokannya. Kalimat terakhir yang di ucapkan Intan benar-benar membuat shok tenggorokannya.
__ADS_1
"Kenapa lagi kamu? Pelan-pelan makannya, gak ada yang minta juga," kata Gara menasehati adik sepupunya.
"Ada kok mas, cacing kering kelaperan minta makan," sahut Gilang kembali melanjutkan makannya.
"Ada ada aja kamu ini."
Intan menatap tak suka pada Gilang yang terkesan seperti menyindirnya.
"Sayang, dia nyindir aku." Kesal Intan menunjuk Gilang dengan wajah kesal dan tidak suka.
Bahkan kedua tangannya yang melingkar di lengan Gara ia gerakkan manja.
"Nyindir gimana?" Tanya Gara heran dan tak paham apa maksud Intan.
"Tadi dia bilang cacing kering kelaperan, kan aku juga laper. Jadi dia nyindir aku." Manja Intan menatap wajah Gara.
"Gilang bilangnya cacing kering. Bukan kamu," sahut Gara.
"Sama aja itu nyindir aku," kekeh Intan.
"Kamu cacing kering?" Tanya Gara ketus karena Intan terus mempermasalahkan hal yang tak bermutu.
"Ya gak lah, kamu gimana sih? masa cantik dan seksi gini di bilang cacing kering," sahut Intan tak mau di bilang cacing kering.
"Kalo gak ya udah, gak usah di perpanjang lagi."
Intan bungkam karena tak mendapat pembelaan dari Gara. Padahal biasanya pria itu selalu membela dirinya di perusahaan bila ada orang yang menentang dirinya.
"Kita makan duluan aja, mungkin nenek bakalan terlambat pulang," ucap Gara sembari duduk di kursinya dan mengambil makanan.
Karena hari yang semakin siang dan neneknya belum pulang. Ia tidak mungkin terus menahan lapar hingga neneknya pulang. Entah kapan neneknya pulang, ia pun tak tahu.
Gilang bangkit dari kursinya setelah selesai makan.
"Tumben langsung bangkit? biasanya duduk dulu sambil makan puding." Heran Gara kala Gilang langsung berdiri.
"Udah kenyang, kepalaku gak muat lagi rasanya," sahut Gilang menyindir Intan.
"Apa hubungannya kenyang sama kepala gak muat? kenyang kan di perut bukan di kepala?" Bingung Gara yang memang tidak peka soal kalimat sindiran halus dan situasi yang terjadi di sekitarnya saat ini.
"Gak usah di pikirin, Mas makan aja. Kalo telat makan nanti bisa sesak napas."
Gilang bergerak cepat meninggalkan ruang makan sebelum ada kalimat selanjutnya dari Gara.
"Dasar aneh," gumam Gara melanjutkan makannya.
__ADS_1
Tidak tahu kalau perempuan di sampingnya sudah menggenggam sendok cukup kuat menahan kesal di hatinya karena sejak tadi di sindir oleh Gilang.