Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Memiliki seutuhnya


__ADS_3

Dira membuka matanya mala tubuhnya mulai terasa sangat pegal dab lelah luar biasa. Gadis itu membuka matanya dan melihat sesuatu yang berbeda di hadapannya. Kulit putih bersih dan harum khas seorang pria dengan bentuk bidang.


Hampir saja Dira berteriak mendapati posisi dirinya yang berada dalam pelukan seorang pria, kalau saja tidak ingat pria itu suaminya sendiri. Selama seminggu belakangan mereka memang tidur bersama tapi masih pakai pembatas.


Dira tidak ingin bersikap kekanakan dengan menolak sang suami. Apa lagi sampai terjadi drama di pagi hari dengan kemarahan akibat sentuhan suami nikah paksa.


"Udah bangun?"


Dira mendongakkan kepalanya dan melihat Gara yang sudah membuka mata dan melihat kearah dirinya.


"Sana mandi, mas mau pesan sarapan dulu." Gara menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan mulai beranjak dari kasur.


"Mas gak mandi?" Tanya Dira buka suara.


"Udah dari dua jam yang lalu," sahut Gara meraih kaos lengan pendeknya dan memakainya. Saat ini pria itu hanya memakai celana pendek setelah mandi tadi.


"Memangnya sekarang jam berapa?" Dira menoleh kesegala arah kamar berharapa dapat melihat jam.


"Udah jam 10 pagi," jawab Gara santai seraya meraih telpon hotel bersiap memesan makanan.


"Apa? jam sepuluh?" Kaget Dira langsung beranjak dari kasur meski sangat malas karena tubuh lelahnya.


Di tambah selakangannya yang nyeri dan cukup sakit. Tapi kalau tidak mandi justru akan membuatnya sangat risih dan tidak nyaman untuk beraktivitas.


Gara yang baru akan menekan angka panggilan di telpon terhenti sejenak kala mendengar pekikan kaget istrinya.


Gerak-gerik Dira masih di amati oleh Gara. Untung saja tadi sebelum ia pergi mandi sempat memakaikan bathrob milik sang istri jadi.


Dira tidak akan sungkan kala terbangun. Pria itu melanjutkan pesanannya dan setelahnya mendekatkan koper Dira ke pintu kamar mandi.


Tok tok tok


"Ini koper kamu Ra, depan pintu," ucap Gara sedikit keras.


"Iya," sahut Dira.


Gara duduk di sofa sembari memainkan ponselnya untuk melihat pekerjaannya. Meski ia sedang cuti tapi ia tetap memantau perusahaan yang sementara ini akan di urus oleh Gilang. Juga seorang lagi saudara mereka yang memang sudah bekerja di perusahaan.


Bahkan sang papa pun nanti akan turut memantau perusahaan selama Gara pergi.


Clek


Dira keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan terlihat lebih cerah. Rok selutut dan kaos kebesarannya membuat Dira terlihat lucu. Apa lagi ikatan rambutnya yang di cepol tinggi memperlihatkan lehernya yang jenjang.

__ADS_1


Untung dia sukanya pake baju kebesaran kalo gak gunung puji bisa jadi tontonan gratis orang lain. Mana seksi lagi dia, mulus semua dari atas sampe bawah. Montok lagi gunung pujinya sama bukit belakangnya, batin Gara dengan tatapan terus tertuju pada Dira.


Dira sendiri belum melihat kearah suaminya karena masih sibuk dengan kegiatan para wanita sehabis mandi.


Hingga suara bel kamar berbunyi mengagetkan Gara dari lamunannya tentang tubuh sang istri yang membuatnya mabuk kepayang tadi malam.


Untung saja tidak ada adegan penolakan sebelum cinta bersemi untuk malam pertama. Jadi Gara bisa merasakan memiliki istri sepenuhnya dengan mendapatkan pelayanan seutuhnya.


Setelah makanan datang keduanya langsung menyantapnya. Bahkan Dira sudah seperti orang kelaparan yang makan cukup banyak. Hampir semua makanan yang ada di meja ia yang memakannya hingga habis.


Gara tak melarang apa lagi merasa risih dengan makan istrinya yang banyak dan terkesan rakus itu. Bagaimanapun juga pasti istrinya itu kelaparan akibat ulahnya tadi malam, apa lagi saat pesta semalam mereka juga tidak banyak makan.


"Kok tidur lagi?" Tanya Gara saat mendapati Dira yang kembali rebahan.


"Ngantuk, capek, kekenyangan," jawab Dira apa adanya, lalu kembali memejamkan mata dengan nyamannya di atas kasur tanpa perduli suaminya yang masih menatapnya.


Ponsel Gara berdering dan terdapat panggilan dari nenek Ira.


"Kalian udah siap, Nak?" Tanya wanita tua di seberang sana.


"Udah Nek," sahut Gara.


"Reno udah kesana tadi jemput kalian. Kalian siap-siap aja mungkin bentar lagi Reno sampe."


"Mana istri kamu?"


"Tidur lagi tuh, kecapeean katanya."


"Kamu sih gak bisa sabar nunggu sampe bulan madu. Biar Dira istirahat dulu harusnya, baru nanti kamu gempur deh tu di Bali. Kalo bisa cicit Nenek langsung jadi."


"Ya gak bisa nahan lah Nek nunggu besok. Sedangkan seminggu kemaren aja udah nahan banget kalo tidur di sebelahnya, mana seksi lagi dia."


Gara memelankan suaranya di akhir kalimatnya berharap sang nenek tidak mendengar.


Tapi apalah daya kalau sang nenek ternyata mendengar.


"Ck, kamu sih gak percayaan di bilangin tante Pita waktu itu," ejek nenek Ira.


"Siapa yang bakalan percaya coba kalo dari tampilan luar gak meyakinkan Nek? Nenek aja gak bakalan nyangka juga kalo Gara gak bilang. Bahkan bukan cuma gunung Pujinya aja Nek yang semok, tapi gunung belakangnya juga aduhay."


"Mulut kamu udah mulai nakal ya Ga? udah gak polos lagi mulut kamu itu. Padahal baru sekali coba, gimana kalo udah berkali-kali nanti? Nenek gak bisa bayangin."


"Ya gak usah di bayangin Nek, Gara aja gak mau bayangin. Lebih enak di nikmati." Kekeh Gara yang di sambut nenek Ira dengan kekehan pula karena akhirnya snag cucu bisa menerima istri pilihannya.

__ADS_1


Awalnya nenek Ira takut kalau Gara tidak mau mengakui apa lagi menyentuh Dira yang ia pilihkan untuk jadi istri. Tapi syukur nenek Ira ucapkan karena kekhawatirannya tak terjadi, cucunya itu dapat menerima istrinya bahkan sudah mau bercanda dengannya mengenai sang istri.


"Siapa juga yang mau bayangin kamu? mending Nenek santai-santai dari pada mikirin kamu yang mulai nakal itu."


"Hehe, udah dulu ya Nek kayaknya Reno udah dateng."


"Hati-hati di jalan ya, jangan bangunkan istri kamu. Gendong aja dia biar bisa tetep istirahat dengan nyaman."


"Iya Nek Gara tahu, lagian kalo Gara ganggu nanti dia gak mau kasih jatah gimana?"


"Ck, pikiran kamu itu mulai terkontaminasi rupanya. Udahlah Nenek tutup dulu telponnya."


Nenek Ira benar-benar mengakhiri panggilannya dengan Gara.


Sedangkan Gara membuka pintu dan mendapati asistennya sudah berdiri di depan pintu dengan manisnya.


"Selamat pagi menjelang siang tuan," sapa Reno.


"Pagi, tunggu di situ sebentar," ucap Gara mengintrupsi Reno agar menunggu.


Gara sendiri mulai menyiapkan kopernya yang tinggal di bawa keluar. Sedangkan koper Dira masih harus ia bereskan sedikit karena beberapa barang yang tadi di keluarkan gadis itu setelah mandi.


"Ambil nih koper, bawa turun." Gara mendorong dua koper mereka kedepan pintu dan Reno langsung menerimanya.


Gara mendekati Dira yang tidur sangat nyenyak, meski tidak baik tidur kembali saat masih pagi. Tapi Gara tidak mungkin memaksa Dira yang benar-benar lelah untuk tetap membuka mata.


Tubuh Dira di angkat Gara ke gendongannya dan di bawa keluar kamar hotel hendak menuju bandara. Reno memimpin jalan mereka di depan bersama dua koper milik atasannya.


Butuh waktu satu jam untuk sampai di bandara dan menuju pesawat pribadi keluarga Gara.


"Kalo gak ada masalah yang bener-bener serius jangan nelpon apa lagi ganggu, paham!" Ucap Gara mengingatkan Reno agar tak mengganggu liburannya kali ini.


"Iya tuan," sahut Reno menunduk hormat sejenak untuk meyakinkan Gara.


Karena biasanya saat Gara sedang liburan bersama keluarga atau sekedar menghabiskan waktu dengan sang nenek. Reno adalah orang yang akan mengganggu dengan segala laporannya yang terkadang membuat Gara kesal karena waktu santainya di ganggu.


"Awas kalo kamu nelpon yang gak penting, potong setengah gaji plus bonus melayang." Ancam Gara yang membuat Reno menelan salivanya kasar.


"Siap tuan," sahutnya tegas.


Gara menaiki pesawat yang di bagian ekor pesawatnya tertera huruf dan lambang perusahaan GT milik keluarga Gara. Pesawat itu di beli sebenarnya untuk memudahkan keluarga Gara untuk pergi keluar negeri melihat kakek yang sakit parah.


Pihak keluarga selalu bergiliran perginya dan sedikit lama kalau menggunakan pesawat komersil. Jadilah nenek terpaksa menyetujui usul anak cucunya untuk membeli sebuah pesawat pribadi yang cukup untuk seluruh keluarga mereka pergi.

__ADS_1


__ADS_2