Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Harapan rumah tangga bahagia


__ADS_3

Pesawat yang di tumpangi Dira dan Gara tiba di bandara dengan selamat. Dira memeluk erat lengan Gara sepanjang mereka dalam perjalanan.


Dira yang tidak pernah naik pesawat merasa takut jika tiba-tiba pesawat jatuh. Apa lagi tadi ia sempat melihat keluar jendela dan ketinggian pesawat itu membuatnya takut. Hingga perasaan parno seperti pesawat akan jatuh tiba-tiba muncul di benaknya.


Bahkan saat turun dari pesawat melewati tanggapun, nyonya Gara itu masih memeluk erat lengan sang suami seakan takut di tinggalkan. Layaknya anak kecil yang takut kehilangan orang tuanya di tempat asing.


"Kamu gak mau lihat pesawatnya dulu sebelum pergi?" Tawar Gara menatap Dira yang nampak sedang mengatur napas menetralkan ketakutannya tadi.


Kepala Dira di tolehkan kebelakang dan mendapati kendaraan besi yang tadi di tumpanginya berukuran sangat besar. Bahkan bannya saja sangat besar.


"Wahh ... besarnya." Kagum Dira yang memang baru pertama kali melihat pesawat secara langsung di depan mata.


"Kalo pesawat komersil lebih besar lagi dari ini, karena penumpangnya lebih banyak," jelas Gara.


"Kalo ini bisa nampung berapa orang?" Tanya Dira masih melihat setiap sisi pesawat.


Gara membawa istrinya mengelilingi pesawat itu lebih dulu. Tanpa merasa malu Gara menjawab semua pertanyaan istrinya yang mungkin bagi orang lain sangat norak dan kampungan.


Tapi Dira akan dengan santai mengakui kalau dia memang norak dan kampungan jika berhubungan dengan pesawat atau jalan-jalan jauh keluar daerah.


Karena perjalanan Dira kalau libur kerja hanya sekitaran kota Jakarta saja. Itupun ia sudah senang meski selalu di tempat yang sama.


Dan Gara tidak merasa kalau Dira itu norak atau kampungan. Bagi Gara semua pertanyaan Dira bukan masalah besar apa lagi memalukan.


"Ban pesawat bisa bocor gak mas? Kalo bocor di mana nempelnya?" Gara melongo mendengar pertanyaan polos Dira yang satu ini.


"Ehem ... mas laper nih, kita cari makan yuk," ucap Gara mengalihkan topik.


Bukan tidak mau menjawab hanya saja ia sangsi akan ada pertanyaan lain yang akan membuatnya jadi pusing meladeni pertanyaan polos istrinya.


"Ayo, aku juga laper lagi mas," kata Dira lalu mengikuti langkah Gara yang membawanya pergi menjauh dari lapangan landasan pesawat.


"Gimana gak laper, di tawarin makan tadi gak mau," ucap Gara yang hanya di balas dengan helaan napas oleh Dira.


"Namanya juga takut mas, gimana kalo tiba-tiba pesawatnya ada masalah? Pernah aku denger dari para pelanggan di warung kalo ada pesawat jatuh. Ada yang di gunung, di laut juga ada. Bahkan lebih banyak yang jatuh di laut, kan serem mas kalo sampe kejadian."

__ADS_1


Dira bergidik ngeri kala mengingat apa yang pernah di dengarnya kala itu dari pelanggan warung tentang insiden pesawat jatuh.


"Hus, ucapan itu doa. Jadi ngomong yang baik-baik aja sama berpikir positif. Jangan pernah bayangin hal-hal aneh, bawa santai aja dalam menghadapai segala hal. Santai tapi tegas dan tenang."


Gara menyentuh ujung hidung Dira dengan jari telunjuknya.


Dira hanya mengangguk saja mendengar ucapan Gara.


Hubungan mereka berdua memang terasa semakin dekat saja sejak resepsi pernikahan kemarin. Apa lagi malam indah yang telah mereka lalui sungguh menambah rasa tanggung jawab pada diri Gara pada istrinya.


Dan jujur saja pria itu mulai menaruh harapan kalau rumah tangganya akan bahagia hingga mereka menua bersama. Dan Gara juga sudah memantapkan hatinya untuk membuka hati pada istrinya dan mencurahkan kasih sayangnya.


Apa lagi bisa saja nanti Dira hamil dan mereka akan punya anak. Itu sebabnya Gara mengubah semua pemikirannya dan hatinya untuk menjalani rumah tangga yang lebih baik.


Dira dan Gara meninggalkan bandara dengan mobil yang sudah menjemput keduanya. Berhenti sejenak di restoran makanan khas Bali untuk mengisi perut.


Setelahnya barulah meneruskan perjalanan menuju vila milik papanya Mega yang berada tak jauh dari pantai. Usaha papa Mega yang bergerak di bidang bangunan dan pariwisata memang sangat berguna bagi mereka jika hendak bepergian.


Meski biasanya keluarga Gara selalu membayar semua pengeluaran yang mereka gunakan meski usaha milik keluarga sendiri atau berada di bawah naungan perusahaan mereka sendiri. tagihan tetaplah tagihan dan harus di bayar.


Setibanya di vila dekat pantai itu, Dira dan Gara di arahkan oleh seorang petugas vila menuju kamar mereka di lantai dua vila ekslusif itu.


"Silahkan tuan, nyonya," ucap petugas vila.


"Terimakasih," sahut Gara.


Pasangan pengantin itu memasuki kamar mereka dan mulai bersiap membersihkan diri karena waktu yang sudah sore.


 


Jika Dira dan Gara menikmati momen kebersamaan mereka sebagai pengantin baru dan sedang hangat-hangatnya. Membuka hati perlahan untuk pasangan mereka demi masa depan rumah tangga yang bahagia.


Berbeda dengan yang ada di Jakarta. Lebih tepatnya di sebuah rumah mewah seorang gadis yang baru saja kembali dari perjalanannya ke luar negeri selama seminggu, setelah kejadian pengusiran oleh di rumah keluarga Gara.


Siapa lagi kalau bukan Intan sang mantan kekasih Gara. Setelah menerima telepon putus dari Gara kala itu, Intan memutuskan pergi keluar negeri untuk menghadiri pemotretan. Itu biasa Intan lakukan kalau sedang kesal atau marah pada Gara yang tidak menuruti kehendaknya.

__ADS_1


Setelah berpesta di vila milik temannya hingga mabuk. Keesokan paginya Intan terbang ke Singapura untuk berkerja dan bersenang-senang melupakan kekesalannya pada Gara.


Nanti setelah pulang dari Singapura barulah Intan berencana menemui Gara. Berbicara pada pria itu tentang keinginannya dan apa yang telah Gara ucapkan padanya.


Pria itu harus menarik kembali kata 'putus' yang di ucapkannya. Karena jika tidak ia akan kehilangan dukungan terkuatnya di perusahaan.


Karena selama mengenal Gara, semua karir Intan melonjak dan banyak tawaran berdatangan. Apa lagi semua keinginanya selalu di turuti dan mendapat pembelaan dari pria itu yang membuat Intan besar kepala di agensi artis dan model mereka.


Kali ini Intan meradang sangat marah dan tidak terima dengan kabar yang baru saja di dapatkannya. Baru saja ia tiba di bandara siang tadi sudah mendapatkan kabar tentang pernikahan Direktur utama GT CORP.


Karena hanya sekedar omongan para penumpang lain tanpa bukti membuat Intan tak percaya. Ia sangat yakin kalau Gara sangat mencintainya dan tak mungkin melupakannya begitu saja.


Tapi saat tiba di rumah orang tuanya dan melihat langsung siaran di tv yang sedang di tonton mamanya membuat Intan meradang.


"Apa maksudnya itu ma? Siapa yang nikah?" Tanya Intan berharap pendengaran dan penglihatannya salah.


"Itu Gara Kusuma Putra. Direktur utama di perusahaan GT yang naungi agensi kamu. Nikahnya udah seminggu yang lalu, kemarin resepsinya," sahut mamanya Intan dengan enteng tanpa beban.


"Gak mungkin, mama bohong!" Teriak Intan sembari melemparkan tas mahal yang di pegangnya ke sembarang arah hingga isi di dalamnya berantakan.


"Bohong gimana? papa sama Mama kemarin dateng tuh ke acara mereka. Bahkan ketemu juga sama pasangan pengantinnya. Mana cantik banget lagi istrinya pak Gara itu," kata mamanya Intan lagi yang semakin membuat Intan emosi.


"Aaaahhhhh kurang ajar! kurang ajar! aku gak terima di giniin." Histeris Intan membanting segala yang ada di dekatnya termasuk cemilan sang mama.


Mama Intan yang memang tahu hubungan anaknya dengan Gara nampak kebingungan dengan kemarahan anaknya.


"Kamu apa-apaan sih Tan? akh." Kaget mamanya Intan saat meja kaca di depannya pecah akibat di lempar vas bunga oleh Intan.


Mamanya Intan sampai meringkuk di sofa karena takut kena pecahan kaca.


"Kamu kenapa hah? Jangan buat hancur rumah Mama," pekik mamanya Intan.


"Aaakkkhh, Mama diem aja aku lagi marah. Cuma meja sama remahan sampah doang aku bisa ganti yang lebih bagus" teriak Intan kalap.


Wah gila anakku kayaknya batin mamanya Intan sembari memegang kedua lengannya bergidik ngeri.

__ADS_1


__ADS_2