
Pagi hari...
"Mas, aku nanti mau ke kampus." Pamit Dira pada suaminya sembari memasangkan dasi.
"Kok, kamu baru bilang!" Kaget Gara menatap istrinya.
Dira mengangkat kepalanya menatap balik pada sang suami.
"Loh, memangnya kenapa?"
"Mas, udah bilang kan kalo mau ikut ke kampus kamu."
"Tapi Mas harus kerja, kan?"
"Kamu gak usah kekampus sekarang kalo gitu, besok aja sama, Mas."
"Ya gak bisa gitu lah, Mas. Wisudanya sebentar lagi, aku harus ke kampus untuk selesaikan pembayaran terakhir."
"Pembayaran apa?" Tanya Gara ingin tahu.
"Pembayaran biaya wisuda, seharusnya sih itu udah selesai 2 minggu yang lalu. Tapi karena nenek gak ijinin aku keluar, jadi gak bisa bayarnya. Hari ini pembayaran terakhir."
Dira menepuk-nepuk pelan dada Gara setelah selesai memakaikan dasi pada pria itu.
"Kalo gitu kamu gak usah ke sana, biar Reno yang bayarkan. Kamu ikut sama Mas aja ke perusahaan." Gara memberikan pilihan untuk istrinya.
"Gak usah, Mas. Aku punya uang sendiri, rasanya akan lebih memuaskan kalo usaha yang di mulai dari hasil kerja keras sendiri di akhiri dengan hasil sendiri pula. Maksudku, karena dari awal uang kuliah itu urusanku jadi biarkan aku selesaikan sendiri sisanya pake uangku."
"Itu sebuah kebanggaan sendiri untukku, Mas. Bisa selesaikan kuliah dari hasil kerja kerasku sendiri, bukan cuma masalah pelajarannya aja tapi juga keuangannya."
Dira tersenyum puas dengan dirinya sendiri yang perjuangannya akan selesai sebentar lagi.
"Baiklah, tapi biar Mas yang anterin kamu ke kampus," ucap Gara memeluk pinggang Dira manja.
"Iya, ayo turun." Dira melepaskan pelukan Gara di pinggangnya lalu menarik pria itu untuk turun bersama.
Keduanya turun dari lantai atas menuju ruang makan. Di sana sudah ada seluruh keluarga Gara yang duduk bersiap untuk sarapan.
"Kamu masih di sini, Me?" Tanya Dira kala melihat Mega yang berada di meja makan.
"Iya, mama gak ngijinin aku pergi dulu," sahut gadis itu santai.
"Bukan Mama yang gak ijinin, tapi kamu sendiri yang masih mau di sini nungguin papa." Mama Rida yang namanya di sebut buka suara.
"Jangan bilang kamu lagi nungguin oleh-oleh?" Tebak Eva menatap Mega curiga.
"Benar, 100 untuk Anda," ucap Mega pada Eva.
Mereka semua sarapan bersama dengan tenang dan damai. Setelah selesai sarapan barulah mereka pergi satu persatu.
__ADS_1
"Kamu mau ikut ke perusahaan lagi, Ra?" Tanya Mega yang berjalan bersama Dira dan Gara menuju keluar rruang makan.
"Gak, aku mau ke kampus buat selesaikan pembayaran terakhir. Oh ya, gimana sama warung kita?"
Dira yang teringat dengan warungnya langsung bertanya pada Mega.
"Aman, Desi yang ambil alih sekarang. Aku juga udah nambah 3 anggota lagi di sana untuk bantuin Desi." Mega berucap dengan santainya.
"Kapan kamu nambah anggota?"
"Sewaktu kamu bulan madu. Lagian aku juga gak jamin bisa balik ke warung untuk tinggal di sana."
"Kenapa memangnya?"
"Mama gak kasih kalo aku harus hidup di sana lagi. Kalo sekedar sehari dua hari boleh, tapi kalo harus menetap gak boleh." Mega terlihat sedikit cemberut.
"Gimana mau di kasih kalo kamu udah kabur begitu lama? Siapa-siap aja kamu di cariin jodoh sama tante." Gara terkekeh melihat wajah masam sepupunya yang biasanya ngeselin.
"Gak mau, ya! Aku udah punya ayang beb."
Wajah Mega terlihat berbinar cerah dan tersenyum lebar.
"Siapa ayang beb kamu? Jangan bilang kalo dia ..."
Mega menghentikan ucapan Dira dengan satu jari di arahkan ke Dira.
"Siapa yang mau sama kamu? Mana lah ada yang mau sama cewek ngeselin kayak kamu itu," ucap Gara mengejek Mega.
"Cih, kayak yang ngomong gak ngeselin aja. Mas, kalo gak di carikan sama nenek jodohnya juga pasti udah nikah sama biang masa kerok itu."
Mega mencibir Gara karena tidak terima dengan ucapan pria itu.
"Nyatanya gak Mas gak nikahi dia tuh! Dasar cewek ngeselin," ejek Gara.
"Mas, yang lebih ngeselin. Biangnya ngeselin," balas Mega yak mau kalah.
"Cewek ngeselin."
"Biangnya ngeselin."
Kedua orang itu saling mengejek tanpa henti hingga Dira merasa lelah sendiri. Wanita itu menarik napas dalam lalu menghembuskannya cepat.
"Cukup kalian berdua!" Dira memasang wajah datarnya dengan suara dingin untuk menghentikan perdebatan kedua orang di sampingnya.
"Kalo Mas masih mau terus ribut sama Mega, aku pergi ke kampus sendirian." Dira berjalan lebih dulu meninggalkan Gara yang kaget dengan kepergian istrinya.
"Eh sayang, tungguin Mas suami." Pandangan Gara beralih pada Mega yang masih berdiri di tempat sebelumnya.
"Awas kamu, ya!" Ancam Gara pada Mega yang hanya di balas juluran lidah dari gadis itu.
__ADS_1
"Sayang, tunggu." Gara berlari mengejar Dira yang sudah sampai di ruang depan.
"Bucin banget sih. Tapi baguslah, semoga kamu bahagia Ra. Aku harap pernikahan kamu sama Mas Gara jadi pintu awal kebahagiaan kamu." Mega berharap dengan tulus untuk kebahagiaan Dira.
Di luar rumah...
Dira yang sudah sampai di luar rumah melihat kedua mertuanya di depan. Papa Rudi yang hendak pergi ke kantor di antar oleh mama Ella sampai depan mobil.
"Ma! Pa!" Panggilnya yang membuat kedua orang tua itu menoleh.
"Kamu kemana, Nak?" Tanya mama Ella pada menantunya.
"Mau ke kampus, Mas"
"Sendrian? Gak di anterin sama Gara?" Tanya papa Rudi yang hendak mendekati mobil namun berhenti saat tadi mendengar suara menantunya.
"Aku di sini, Pa." Gara muncul di dekat Dira.
"Ya udah, Papa berangkat dulu."
Dira mendekati papa Rudi dan menyalami pria itu sopan. Gara mengikuti apa yang di lakukan oleh istrinya menyalami sang papa.
"Tumben kamu mau salam sama Papa? Biasanya gak pernah." Heran papa Rudi menatap Gara.
"Gimana mau pernah kalo Papa di luar negeri aku di sini? Tanganku gak sepanjang itu untuk salamin Papa sampe ke luar negeri," ucap Gara.
"Heleh, di sini pun Papa kamu memang gak pernah salam sama Papa kok." Cibir papa Rudi sembari membuka pintu mobil dan masuk.
"Hati-hati, Pa!" Ucap mama Ella yang di balas senyuman manis dari suaminya.
Dira yang melihat itu sangat bahagia, ia pernah memimpikan akan kehidupan bahagia keluarganya.
"Ayo kita berangkat juga, Sayang. Udah semakin siang ini," ucap Gara menyadarkan Dira dari lamunannya.
"Ah iya, aku pergi dulu, Ma." Dira menyalami mama mertuanya yang di balas kecupan di keningnya dari mama Ella.
"Hati-hati, sayang. Kalo udah selesai cepat pulang, ya. Mama pengen di ajarin sama kamu cara buat kue kering, kata nenek kamu hebat dalam hal mengolah makanan sama cemilan."
"Gak hebat kok, Ma. Cuma sekedar bisa aja karena udah biasa." Dira tersenyum sungkan karena pujian mama mertuanya tadi.
"Jaga istri kamu, Ga! Jemput dia kalo mau pulang nanti. Jangan biarkan pulang sendirian, paham kamu!" Titah mama Ella pada Gara yang menyalaminya juga.
"Baik ibunda Ratu, titah Anda akan saya penuhi." Gara membungkukkan tubuhnya hormat pada mamanya setelah melepas tautan tangan mereka.
"Ck, anak ini! Suka banget buat orang kesel." Sewot mama Ella yang membuat Gara langsung ambil langkah seribu.
"Bye, bye, Mama cantik," ucap Gara.
Gara masuk ke dalam mobil setelah Dira duduk di dalam. Ia harus segera pergi sebelum kena ceramah lainnya.
__ADS_1