
"Ini ruang kerja kamu, Mas?" Tanya Dira sembari memindai seluruh ruangan yang besar dan rapi.
"Iya, tapi jarang di pake karena lebih sering di kantor pusat."
"Kantor pusat? Memangnya ini belum kantor pusat?"
"Belum, sebenernya ini perusahaan pribadi yang Mas dirikan sendiri. Cuma karena Mas harus fokus ke perusahaan keluarga juga. Mas terpaksa bawa agensi ini di bawah pengawasan GT CORP. Jadi Mas bisa pantau juga."
Dira mengangguk paham dengan penjelasan suaminya.
Tok tok tok.
"Masuk"
Reno masuk setelah di persilahkan oleh Gara.
"Maaf, Tuan. Rapat para pemegang saham akan di mulai 10 menit lagi."
"Kamu urus aja apa yang di perlukan di sana. Sebentar lagi kami keluar."
Reno menunduk sebentar lalu keluar dari ruangan itu.
"Kamu ikut Mas ke ruang rapat. Nanti sekalian Mas kenalin kamu sama semua staf di agensi GK LABEL."
Dira hanya mengangguk saja untuk menyetujui ucapan suaminya.
Setelah beberapa saat, keduanya keluar bersama menuju ruang rapat yang terdapat di lantai 5. Di dalam ruangan itu tidak banyak orang yang hadir.
Karena pemilik saham agensi GK juga tidak banyak. Di tambah lagi sudah ada beberapa orang yang menjual saham milik mereka. Walau ada rekan sesama pemilik saham yang membeli milik rekan sendiri.
"Kamu duduk di sini." Gara mendudukkan Dira di kursi miliknya.
"Mas, duduknya di mana kalo aku duduk si sini?" Dira menatap suaminya heran.
"Ini." Reno datang membawa satu kursi lagi untuk Gara.
Setelah beberapa pria berjas rapi datang dan duduk di tempat masing-masing. Agi memastikan sekali lagi kalau semuanya sudah hadir. Barulah pria itu membuka rapat.
"Di sini saya ingin menyampaikan terkait beberapa hal yang terjadi beberapa hari ini. Dan seperti yang kita lihat bersama, bahwa ada beberapa orang baru di ruangan ini. Yang artinya, beberapa pemegang saham sudah menjual atau mengalihkan nama kepemilikan mereka pada yang lainnya."
"Sebelum kita membahas permasalahan yang sedang viral. Kita akan terlebih dahulu melihat bersama-sama, nama-nama pemegang saham terbaru di perusahaan kita."
Agi menekan sebuah tombol remot di tangannya dan mengarahkannya ke layar besar di belakang mereka.
Layar itu menampakkan deretan nama dan persentase kepemilikan saham orang-orang di sana.
__ADS_1
Nama yang paling atas tentu saja adalah Gara si pemilik sekaligus pendiri. Yang memiliki 49% saham. Sedangkan Wawan di urutan kedua yaitu 15%. Ada pula yang memiliki saham 5% dan yang ada yang lebih kecil lagi.
Nama di urutan ketiga menarik perhatian semua orang. Karena hanya satu nama itu saja yang merupakan seorang wanita. Dan nama itu terlihat tak asing bagi mereka.
"Sepertinya saya pernah melihat nama itu?" Gumam seorang pria sembari berpikir.
"Iya, dimana ya?"
"Rasanya belum lama saya melihat nama ini."
Sedangkan Gara, Wawan dan Reno. Ketiga pria itu melotot tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Tentu mereka tahu siapa pemilik awal saham itu.
Memiliki persentase yang sama dengan saham milik Wawan. Pria pemilik saham 15% itu terkenal tidak banyak bicara dan sudah tua.
Cukup sulit juga untuk bisa mendapatkan sahamnya meski harga saham turun. Tapi kenapa sekarang bisa berada di tangan seorang wanita.
"Kamu ... Itu kamu istriku?" Tanya Gara menatap Dira.
Namun jari telunjuknya mengarah ke layar yang masih menampakkan nama istri dari Anggara itu.
"Iya, Mas."
"Jadi Kakak yang beli saham pak tua itu?" Kaget Wawan.
"Ini beneran? Kamu pemilik saham 15% itu?" Tanya Gara lagi memastikan.
"Iya, kenapa Mas? Gak boleh, ya?" Wajah Dira terlihat sedikit masam akan respon suaminya.
Gara langsung gelagapan kala mendapari wajah istrinya yang berubah masam.
"Eh, boleh kok, boleh. Mas, cuma kaget aja." Pria itu memegang kedua tangan istrinya.
"Beneran boleh?"
"Iya, istriku." Gara tersenyum sembari memegang pipi Dira.
Ekhem ekhem
Wawan mencoba menyadarkan saudara sepupunya. Ia tak menyangka jika sepupunya akan secepat itu takluk pada istrinya.
Gara dan Dira langsung sadar mendengar suara Wawan. Alangkah canggungnya bagi Dira menyadari sikapnya yang tadi.
Sedangkan Gara biasa saja, seakan hal itu bukan masalah besar. Malah ia bangga karena ternyata istrinya sangat luar biasa. Bahkan tanpa sepengetahuannya, istrinya bisa memiliki saham di perusahaannya.
"Jadi, saham itu milik istrinya Pak Gara?" Tanya salah satu pria di sana.
__ADS_1
"Iya, Pak. Ini Nyonya Anggara."
Gara memperkenalkan istrinya secara resmi di rapat itu pada semua pemegang saham. Apa lagi sekarnag istrinya juga pemegang saham di perushaan itu.
Meski sudah di adakan pesta pernikahan saat itu. Tetap saja perkenalan formal dan pribadi akan lebih mudah di kenal.
Setelah selesai perkenalan pada pemegang saham baru. Kini pembahasan di lanjutkan pada masalah yang sedang terjadi.
"Masalah artis bernama Intan itu harus segera kita putuskan sekarang. Jadi, apa pendapat para Tuan-Tuan sekalian?" Ucap Agi memulai lagi pembahasan mereka.
"Kalau menurut saya, sebaiknya nona Intan memberi klarifikasi secara terbuka. Dan sebagai agensi yang menaunginya, kita harus menemaninya." Seorang pria membuka suara.
"Saya setuju dengan itu, tapi masalah yang terjadi ini tidak semudah mengucapkan maaf dan semuanya selesai."
"Benar, masalah ini sudah sangat menggemparkan hingga dapat menjatuhkan harga saham. Itu artinya masalah yang di timbulkan wanita itu tidak sederhana."
"Ini bukan yang pertama atau kedua kalinya artis itu membuat masalah. Sudah berulang kali ia melakukan kesalahan dan kali ini kita harus mengambil tindakan tegas padanya."
"Bagaimana menurut anda, Pak?" Wawan menatap Gara dengan satu alis terangkat.
Tentu Wawan menyindir sepupunya itu dengan apa yang terjadi kali ini. Semua masalah yang di timbulkan Intan bermula dari Gara yang terlalu memanjakannya.
"Sebaiknya panggil yang bersangkutan ke mari. Kita tanya apa maunya lebih dulu, jika masih ingin mengikuti peraturan perusahaan. Maka kita akan membantunya menyelesaikan masalah. Tapi jika tidak bisa mengikuti aturan perusahaan, maka langsung putus kontrak kerjanya."
Gara berucap tegas yang membuat Wawan bersorak girang. Terdengar jahat memang, karena bahagia di atas derita orang lain.
Namun apa yang di lakukan Intan selama ini sudah tidak mampu lagi di tolerir oleh Wawan. Belum lagi penindasan yang di berikan artis itu pada orang baru.
Agi segera keluar dari ruang rapat dan menghubungi Manager Intan yang lama untuk membawa artisnya ke ruang rapat.
Meski sudah mengajukan pergantian artis, tetap saja prosesnya tidak akan berjalan cepat. Butuh waktu dan penjajakan artis baru.
Beberapa saat menunggu, akhirnya yang di tunggu datang dengan sikap angkuhnya. Berjalan berlenggak lenggok bagai passion show.
Namun saat kedua matanya melihat keberadaan Gara. Langsung saja wajahnya terlihat bersinar bahagia. Dan tanpa aba-aba, perempuan itu berlari mendekati Gara.
"Sayang, kamu akhirnya dateng juga."
Intan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Gara. Namun yang di peluk bukannya Gara, melainkan Dira.
Kedua alis Dira di naikkan ke atas saat melihat wajah kaget perempuan yang hendak memeluk suaminya ini.
Dira sempat kaget saat mendengar suaminya di panggil sayang oleh wanita lain. Terlihat jelas dari pandangan Intan yang memang menuju pada Gara.
Menyadari akan ada adegan India-Indiaan di sana, Dira dengan cepat memasang badan. Melindungi sang suami dari perempuan yang baru datang itu.
__ADS_1